Saturday, March 12, 2022

PROLOG 5 BAHASAN JFS

 

MONOLOG = 
2. To Realize : kesadaran integritas untuk tulus menuju pemurnian kesejatian 
FORMULA SWADIKA : tentang keberdayaan ( TO REALIZE )
prakata : Avijja  
Triade Hegel : ???
Thesis : BE REALISTICS  (wawasan yang benar)
Antithesis : TO REALIZE  (tindakan yang tepat)
Synthesis  : THE REAL (capaian yang nyata)

 


1. orientasi kesadaran  

2. transendensi kearhatan  

3. transformasi kecakapan  

4. aktualisasi kemapanan 

5. harmonisasi kewajaran

1. Menghadapi Keabadian : 
Swadika, Talenta, Visekha
Swadika :
Talenta, :
Visekha:
2. Menghadapi Kehidupan : 
kecakapan, kemapanan, kewajaran
kecakapan :
kemapanan, :
kewajaran :
3. Menghadapi Kematian : 
Racut , Bardo , Alam 
Racut : 
Bardo :
Alam :
Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaa
1. Thesis : Data Lama (Pengantar ) - Ketepatan dalam berpandangan
Parama Dharma : tentang Pandangan ( akal sehat - hati nurani - jiwa suci : ketepatan holistik or kebenaran empirik or kenyataan realitas)
Mandala Advaita : tentang KeIlahian ( theologi - theosofi - theodice ? The Impersonal Absolute Transendence & Its Personal Immanent Guardians ?) 
Formula Swadika : tentang Pemberdayaan (keabadian : refleksi - distansi- meditasi , pembumian kehidupan , kesiagaan kematian)
Formula Swadika : tentang Peniscayaan 
Peniscayaan realistik dari keberdayaan autentik, kemungkinan holistik  untuk terealisasinya faktor tidak sekedar (walaupun tidak menafikan memang memungkinkan adanya anomali penyimpangan kaidah kosmik karena intervensi internal & eksternal transaksional)  pengharapan ataupun penganggapan semata ?
2. Anti-Thesis : Just For Seeker 1 - Kejelasan untuk tindakan
Kesadaran : 
Keariyaan : 
Pembumian : kecakapan - kemapanan - kewajaran 
3. Synthesis : Just For Seeker 2 - kebijakan terhadap pelayakan
Menghadapi Keabadian (swadika - talenta - visekha :
Menghadapi Kehidupan (kecakapan - kemapanan - kewajaran :
Menghadapi Kematian (racut - bardo - rebirth :
Penutup : Be true - humble - responsible /vs sacred monistics  (schaden freude, etc ? : irasionalitas ellis, pembenaran standar ganda, etc)  


Kajian Final 

1. Menghadapi Keabadian : Swadika, Talenta, Visekha
Swadika :
Talenta, :
Visekha:
2. Menghadapi Kehidupan : kecakapan, kemapanan, kewajaran
kecakapan :
kemapanan, :
kewajaran :
3. Menghadapi Kematian : Racut , Bardo , Alam 
Racut : 
Bardo :
Alam :


1. Menghadapi Keabadian : Swadika, Talenta, Visekha
Data lama :
Yang perlu kita fahami, sadari dan hadapi tampaknya bukan sekedar kegilaan insani atau kematian alami namun terutama kelupaan abadi akan kesejatian diri dalam setiap episode permainan keabadian yang disebut (siklus) kehidupan (dan kematian) ini. 

Prolog :
Pada hakekatnya kita adalah makhluk spiritual yang menjalani peran sbg manusia ketimbang sbg manusia yang menjalani tugas spiritual..Kita hanyalah ketiadaan yang diadakan dalam keberadaan untuk sekedar sederhana mengada tanpa perlu mengada-ada dihadapanNya...betapa indahnya kehidupan jika kita tiada ragu untuk mampu hadir dalam kesederhanaan yang murni, tulus apa adanya tanpa perlu membalutnya dengan kemasan kesempurnaan yang walaupun mungkin tampak indah dan megah namun semu dalam kesejatiannya. 

Terlepas dari prasangka asumtif nivritti negatif tersuratnya (KM4 Dukkha, Nibidda, dst) , tanpa referensi Buddhisme wawasan spiritualitas bukan hanya terasa hambar & dangkal levelnya namun bisa jadi salah arah dalam keterpedayaan samsarik ?.
Kutipan :
Tiga Pesan Abadi keheningan kosmik yang diungkapkan para Buddha : Jauhi kejahatan, jalani kebajikan, sucikan fikiran  
  
Link Data: www.tiny.cc/dhammapada-183Bro Billy Tan (p. 12 - 20)
Link video : Dhammadipateyya (Paradigma Berpandangan : Dhamma-Oriented ) Bhante Pannavaro 
Link video : Arogya parama labha (kesehatan adalah keuntungan utama)  Pencerahan Magandiya Sutta Bhante Pannavaro 
Well, Salut kepada Buddha yang menempatkan synthesis keswadikaan di atas thesis kebahagiaan untuk pencerahan kebebasanNya dari antithesis dukkha  kesemuan  "penderitaan".

Berikut adalah tabel alternative teparinama penempuhan "kontemporer" bagi etika pacekka (atau mungkin juga Buddha Savaka ?)

No

Level

Saddha  

(peningkatan kefahaman Dhamma : pengetahuan ,penmpuhan, penembusan)

Sila  revised

(pakati + pannati : varita & carita)

Samadhi

(Samatha Pemantapan keberimbangan + Vipassana pemurnian

Kebijaksanaan

Panna

Dhamma Vihara

(Kelayakan terniscayakan)

Prior Input

Final Output

1

Elementary

Suta maya paññā (intelek)

Pancasila

Appana & Khanika

Diba Vihara (surga ?)

Padaparama dihetuka

Neyya tihettuka

2

Intermediate

Cintā maya paññā (intuisi)

Atthasila

Jhana (lokiya & lokuttara)

Brahma Vihara   (Ilahi?)

Vehapala  (rupa + arupa?)

Gotrabu Anuloma

3

Advance

Bhāvanā maya paññā (insight)

Samanasila

Magga & Phala   (irreversible ?)

Ariya Vihara (murni?)

Sekha

Asekha ?

Mengenai cara penempuhan sudah banyak referensi yang diberikan bagi realisasi ini. Para Seeker bisa menanyakan langsung pada para Bhante atau Guru spiritual /Pemandu Meditasi yang bukan hanya lebih berkompeten namun juga sesungguhnya ini wilayah mereka yang sudah sepantasnya bagi kita yang di luar sasana untuk tahu diri, tahu malu dan tahu sila untuk tidak 'tranyakan' melanggar bukan hanya area kewenangan mereka namun juga wilayah kesemestaan bersama yang beragam ini. Walau sebagai seeker kita telah memahami akan proses saddha KM4/ JMB 8 dalam triade sila-samadhi-panna untuk dijalani,.  semisal : chart Pa Auk Sayadaw, etc (juga : Ajahn Chah, Bhante Punnaji, Bhante Vimalaramsi, dsb) 

Harusnya terbalik urutannya dari logika proses penempuhannya  & by product peniscayaannya (Sila- Samadhi-Panna untuk Vihara kelayakannya ). 
Tersenyum seperti Buddha 
(Smile like a Buddha ... not as a Buddha ? ) 
Be Realistics to Realize the Real
Tersenyumlah seperti Buddha walau itu memang masih 'fake' (semu) dan tidak 'real'(nyata).
Ini bukan dimaksudkan untuk 'memotivasi' diri bagi kesombongan pencitraan diri dengan melagakkan seakan pencapaian keniscayaan telah terjadi hanya dengan cara itu.
Ini dimaksudkan untuk mengarahkan diri untuk kebijaksanaan penyadaran diri dengan melayakkan peniscayaan keniscayaan yang secara murni dan alami seharusnya terjadi.
Senyum kearifan Ariya yang melampaui sikap positif apalagi negatif.

Bagi Dia yang sudah terjaga itu ekspresi authentik 
Bagi kita yang belum terjaga itu exercise holistik

Tersenyum seperti Buddha 
karena terfahami secara intelektual simsapa kebenaran spiritual
Kecakapan Pandangan benar akan mengarahkan fikiran benar (kesadaran notion batin)
Kecakapan fikiran benar akan mengarahkan tindakan bajik (ketulusan dana sila etc)
Kecakapan tindakan bajik akan mengarahkan asset mulia (kemurnian punna kusala )
Dhamma indah pada awalnya dengan terlampauinya tataran eksistensial diri
(harmoni dunia - terhindar apaya - terlayakkan surga = Dibba Vihara )

Tersenyum mengarah Buddha 
karena tercapai secara meditatif acinteya hakekat kenyataan spiritual
Paska asset mulia terus lanjutkan Adhi-Sila (alobha -adosa - amoha : tihetuka)
Paska Adhi-Sila terus lanjutkan Adhi-Citta (Samma Samadhi : Jhana Brahma )
Paska Adhi-Citta terus lanjutkan Adhi-Panna (Samma Vipasana: Gotrabu Nana?) 
Dhamma indah pada pertengahannya dengan terlampauinya tataran universal diri
(harmoni batin - terlampaui moksa - terlayakkan magga  = Dhamma Vihara )

Tersenyum sebagaimana Buddha 
karena terbukti secara insight advaita desain labirin permainan spiritual
Dengan masaknya Adhi-Panna layaklah Realisasi Keterjagaan (nibbana: pemurnian magga/phala  )
Dalam Realisasi Keterjagaan layaklah Realisasi Kebijaksanaan (panna: sabbanutta/ patisambhida?)
Dalam Realisasi Kebijaksanaan layaklah Realisasi Ketercerahan (kiriya: kusala  non karmik?)
Dhamma indah pada akhirnya dengan terlampauinya tataran transendental diri 
(harmoni - terbuka nibbana - terlampaui samsara  = Ariya Vihara )

Dhamma akan melindungi siapapun yang menempuhnya dengan benar, tepat dan sehat.
Teruslah memperjalankan 'diri' demi semakin terjaganya orientasi, kualifikasi & realisasi
Jalani saja proses penempuhannya secara murni tanpa perlu ambisi/obsesi yang menghalangi.
Layakkan diri sebagaimana kaidah Niyama Dhamma meniscayakan pelayakannya secara alami.
Terima, kasihi dan lampaui segala episode penempaan diri sebagaimana ariya nantinya.
Layakkan diri sebagai Ariya ... maka jikapun nibbana pembebasan belum (mampu/perlu?) tercapai , maka keterjagaan, kebijaksanaan dan ketercerahan akan membawa keswadikaan, keberdayaan, dan kebahagiaan dimanapun wilayah, bagaimanapun suasana dan apapun peran zenka keabadian yang dijalani .... Pada hakekatnya, Samsara hanyalah ilusi mimpi dari Nibbana bagi semuanya.

1a. Swadika :
Swadika  berkaitan dengan level esensi Panna untuk bawaan kelanjutan.
Tabel 10 level Kesadaran Gnosis  


Dimensi

Tanazul Genesis KeIlahian

Taraqi  Eksodus Pemurnian

Simultan progress Triade

Transendental

ESENSI MURNI

? ! . 

Transendental

 ajatam

abhutam

Panna

(theravada?)

Universal

akatam

asankhatam

Eksistensial

Asekha ?

Nibbana

Universal

ENERGI ILAHI nama brahma 

Transendental

Anagami

suddhavasa

Samadhi

(vajrayana ?)

Universal

Anenja

arupavacara

Eksistensial

Vehapala >Abhasara

rupavacara

Eksistensial

MATERI ALAMI rupa kamavacara

Transendental

Mara/Kal, ...

triloka

Sila 

(mahayana?)

Universal

Yama , Saka, ...

svargaloka

Eksistensial

asura? < Bhumadeva   

apayaloka

10 ? transendental 3 + universal 3 + eksistensial 3 = 9 ?  9 dimensi mandala di atas + 1 for Indefinitely Infinitum ( Realitas Aktual Transenden > Fenomena Formal Immanen dari personal laten deitas  ) for humbling in progress to mystery. 


Dr. Ali Shariati melambangkan 1 adalah Hyang Esa, 0 adalah makhlukNya.  Meminjam istilah beliau ; berikut adalah paradigma kerobbanian yang menjadi orientasi awal bagi ketawaddhuan yang juga akan kembali menjadi  realisasi akhir bagi kecerdasan manusia. (*) = 1 tetap bernilai walau 0 tidak ada. 0 tidak bernilai jika 1 tidak ada. Maksudnya = Tuhan tetap ada walaupun makhluk ada ataupun tidak ada. Tuhan (kholik) adalah wajibul wujud yang keberadaanNya mutlak adanya ; selain itu (makhluk) adalah mumkimul wujud yang keberadaannya relatif adanya ~ bisa ada, bisa juga tidak ada ~ terserah dan berserah kepada kehendakNya. Tanpa Tuhan, segalanya tidak akan pernah ada. Tanpa segalanya sekalipun, Tuhan tetap ada.  Dia adalah  Hakekat yang merupakan penyebab dan kembali segala yang ada (baca: diadakan untuk mengada jadi tidak perlu terlalu meng-ada ada). (*) = 1 dibagi 0 tak terhingga ; 0 dibagi 1 tak berharga. Maksudnya = Pribadi yang berkarakter kuat dan cerdas adalah pribadi dengan kekuatan dan kecerdasan yang tumbuh berkembang karena ketawadhuan bukan dengan ketakaburan. 0 dibagi 1 tetaplah 0 – ini gambaran kecerdasan dan kekuatan diri dengan ketakaburan. (Lemah dan rapuh karena sesungguhnya :Tiada daya upaya tanpa izinNya.)  Namun … 1 dibagi 0 adalah tak terhingga – ini gambaran kecerdasan dan kekuatan diri karena ketawaddhuan. (Senantiasa tumbuh dan berkembang dalam keridhoan dan petunjukNya). (*) = 1 di depan 0 jauh bernilai dibanding 0 di depan 1 . Maksudnya = Jadilah pribadi 10; Pribadi yang mengedepankan Tuhannya diatas segalanya (termasuk dirinya sendiri). 0 didepan 1 dibelakang hanyalah bernilai 1 (satu) – ini gambaran pribadi yang mengedepankan selainNya pada kehidupan. Amaliah menjadi tak sempurna karena syirik, pribadi tidak konsisten karena terombang-ambing kepentingan duniawi/ kebanggaan berpribadi. Bahkan jika pada akhirnya yang satu (1) itu menjadi hilang, maka seluruh kehidupan kita tinggal 0 (baca: nol besar). 

Plus: hipotesa teoritis  3 (tiga) fase (Mandala.  
Dari secret data lama kami (maaf ... dulu memang lebai masih naif & liar .... sekarang ? makin parah & payah, hehehe ) Gnosis Publik  p.7
Dhyana Dharma Keberadaan :
Fase 1 :  Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi  ( Dhyana ® Swadika ! )
Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi  ( Dharma ® Kehendak Ilahi )
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Dharma Dhyana Keberadaan :
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )
Fase 5 : fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )
Well, ini hipotesa teoritis dari 3 (tiga) fase (Mandala Tiada Samsara - Mandala dengan Samsara - Mandala Tanpa Samsara).  
1.Mandala Tiada Samsara, ( Fase hanya Dhyana > Dhamma ) 
Transenden = Transendental - Universal  - Eksistensial  (Esa - yang ada hanya Dia Sentra Yang Esa ) 
2. Mandala Dengan Samsara, (Fase  dalam Dhamma < Dhyana )
Transenden = Transendental , Universal  , Eksistensial  (Segalanya ada  karena Dia  Sentra Yang Esa) 
Tanazul Genesis = emanasi , kreasi , ekspansi ? 
2.1. Awal : Mandala Pra Samsara  
Transendental : keterjagaan esensi / zen ? Nibbana 
Universal  : keterlelapan energi / nama  Brahma : arupa & rupa , 
Eksistensial  : kebermimpian etheric / rupa Kamavacara : dunia - surga & apaya  
2.2.. Kini : Samsara Pra Pralaya  
Dunia :  sd pralaya  Svarga : sd pralaya (paska dunia ) - Apaya :  sd pralaya ( lokantarika ?) -  Brahma : sd pralaya ( abhasara etc  Nibbana : sd advaita ? 
2.3. Nanti : Samsara Paska Pralaya (versi Buddhism ? ) 
Lokantarika : residu rupa paska terkena pralaya : dunia - apaya - svarga - hingga rupa brahma Jhana 1 sd 3 (mengapa ?)
Brahmanda : restan nama tidak terkena pralaya : Sudhavasa + Anenja /& Rupa Brahma : Jhana 4 untuk kemudian 3 - 2 ( abhasara )  
Lokuttrara : bebas dari samsara & pralayanya : Asekha nibbana ( eksistensial ? + universal & transendental-nya)  
What's next ? 
- Siklus fase ke 2 Mandala Dalam Samsara berlanjut lagi (Kisah kasih nama rupa Brahmanda Lokantarika bersemi kembali sebagaimana biasanya ? ... kecuali lokuttara & suddhavasa harusnya plus vehapala yang masih mantap & anenja yang masih terlelap juga ..... 
Asaññasatta ?)  
- atau... kembali ke fase 1 (kemanunggalan azali karena pencerahan keseluruhan/& keterjagaan Dia Sentra Yang Esa) 
- atau haruskah ada fase 3 (kemusnahan total karena kekacauan keseluruhan & kebinasaan Dia  Sentra Yang Esa ) 
3. Mandala Tanpa Samsara  (Fase  tanpa Dhamma - tiada Dhyana )  
tiada  Eksistensial - Universal  -  Transendental    (Segalanya tiada  tanpa Dia Sentra Yang Esa )  
Adakah Sentra dengan sigma & zenka lain ? Maha Sentra Utama ? dst dsb dll 
idea tidak lagi dibahas bisa keluar jalur ? : Spekulasi Rimba Pendapat tak perlu karena hanya memboroskan energi, perdebatan tak perlu  & sama sekali bukan upaya yang perlu untuk bersegera dalam penempuhan keberdayaan aktual ? Samsara pribadi (eksistensial ) saja belum diketahui awalnya dan akhirnya (kejujuran nirvanik Buddha ), apalagi samsara semesta (universal) terlebih lagi transendental (mengapa ?).

Kutipan :
Jika telah tiba di wilayah kesadaran non alam samsarik nibbana... congrats. Selamat atas keterjagaan dari perjalanan tidur panjang penuh mimpi. selamat datang di rumah sejati esensi murni.
Sikapi "Kebebasan" ini sebagai kebenaran pencerahan berkelanjutan bukan perayaan ke"aku'an untuk lengah terlelap lagi. Walaupun karena magga phala meniscayakan keberadaan & tindakan kiriya yang suci (selama belum parinibbana khanda Ariya Buddha tetap tidak terbebas dari 12 dampak karmik buruk kehidupan lampauNya juga Bhante Moggalana. Bhikkhu arahata sekalipun tetap bisa melakukan kesalahan (terinjaknya serangga oleh arahata karena buta, peraturan vinaya sanghadisesa merukunkan duniawi ?) walau tanpa sengaja/ tak diketahui. Namun totally, inilah realisasi dambaan neyya buddhist untuk terbebas dari dukkha .... terjaga dari mimpi samsarik. Pulang kembali ke rumah sejati. Hanya yang telah melampaui (ariya nibbana) bisa menghadapi kembali (samsara) dengan lebih baik lagi (kiriya x karma) dan karenanya wilayah samsara ini tidak lagi tepat bagi yang telah lulus/ lolos darinya. Keswadikaan nyata yang bukan hanya melampaui penderitaan namun juga kebahagiaan. (magandiya sutta)
By the way, just kidding ... ada  versi/type samsara baru di wilayah ini ? samsara ini saja yang walau hanya delusif tidak chaotik sudah cukup menyusahkan kita dalam memahaminya  apalagi layak menembus dan melampauinya. Niyama Dhamma memang cukup mantap menjaga kaidah kosmik secara impersonal transenden... namun ketidak-segeraan dampak karmik, keterlupaan memory pra rebirth terlebih lagi tampak begitu 'rea'l-nya delusif fantasi keberadaan attha pada nama figur mimpi & sensasi kebahagiaan akan rupa (sulit untuk parichedanana?) benar-benar melengahkan dan menyesatkan (dan bahkan  karena ketidak mengertiannya tidak sengaja apalagi terencana  bukan hanya tidak mencerahkan namun bahkan saling menyesatkan lainnya walaupun dengan kepolosan, ketulusan dan kesadaran ).
Dalam senyum holistik di rupang keBuddhaanMu intuisi saya mengatakan masih ada. Namun mungkin biarkan dia tersirat sebagai rahasia. Kebijaksanaan (bukan kesempurnaan) adalah mahkota akhir bagi kita semua. Setidaknya Realitas Nibbana sebagai rumah sejati bagi esensi murni dari drama kosmik Fenomena Samsara telah kembali ditemukan dan bisa direalisasikan lagi  (walau sulit ... terutama bagi saya tentunya. padaparama diluar sasana yang masih naif dan liar. perokok berat pecandu kopi lagi ... avijja & tanha masih kuat ).
Panna Phasa Kedukkhaan bukan tanha vedana kebahagiaan Realistics  thesisnya, keaniccaan proses perubahan bukan kekekalan masif Real antithesisnya, keAnnataan Panca khanda bukan keberadaan" figure delusif" Realize synthesisnya. Intinya kita hanya dan harus melampaui internal individualitas diri sendiri ... asava kilesha diri bukan yang lain. Itulah (mungkin... saya harus tahu malu , tahu diri dan tahu sila pada autoritas wilayah acinteya yang belum saya capai)  puncak kebijaksanaan nirvanik yang melampaui drama kosmik mimpi delusif samsara.
Sedangkan .... maaf ini agak nekat ('gila'-istilah Khalil Gibran) tentang kesempurnaan walau saya seharusnya lebih tahu malu, tahu diri dan tahu sila pada Realitas wilayah advaita yang mustahil dicapai. Advaita Taoisme lebih menyukai istilah keberimbangan holistik untuk dinamis berkembang ketimbang kesempurnaan absolut yang sangat stagnan. Advaita vedanta dalam Brahma Vidya menterminologinya dalam istilah saguna -niskala (? saya lupa istilahnya ... sudah sarat memory otak  tua ini). Atau simple-nya (istilah pakar komputer) sistem keamanan jika berjalan 100 % sempurna maka dia (malah) tidak akan bisa jalan. Newton (semoga saya tidak salah mengingat referensi buku lama) seorang scientist namun saat itu dia mengatakan agak filosofis tentang keteraturan kosmik yang perlu "Tuhan" yang direferensikan sebagai pengaturnya (walau jika ternyata Diapun .. maaf ...tidak ada) . Buddha-pun mengistilahkan ini sebagai "ajatang, abuthang, dst " (udana ) yang memungkinkan terjadinya pencerahan diriNya sehingga terbebas dari samsara ini.(Pakar Buddhism menyatakan Nibbana adalah Realitas transendent yang Impersonal ...bukan atta pribadi atau yang bisa dianggap/ mengklaim sebagai "diri" karena magga phala pencapaian "wilayah" kesadaran diri ini harus dicapai melalui kesadaran "tanpa diri " (sakayadithi pancakhanda - diri samsarik dst) ... Susah, ya? saya sendiri bingung mau mengatakan apa. Mudahnya demikian ... anggaplah sesorang ( katakanlah A) lelah terjaga kemudian tertidur, pulas hingga bermimpi. Dalam mimpi tersebut dia memerankan figur berbeda bisa jadi multi peran dan aneka peristiwa (walau yang bermimpi A namun bukan A yang terjaga ... jadi katakanlah A' A aksen .... A yang bermimpi ). Ketika bangun terjaga dia mendapatkan  keberadaan yang berbeda lagi dengan mimpinya. Samsara bisa dipandang sebagai mimpi tersebut. Figur A' - A aksen dengan segala atribut peran mimpinya itu disebut 'diri" untuk Figur A yang real dan sudah terjaga (tidak lagi A aksen tadi). Bingung, ya .... cobalah anda ganti A dan A aksennya. (Itu hanyalah cara pandang hal yang sama namun dengan sudut yang berbeda dari tanazul - taraqqi : kejatuhan dalam keterlelapan  dan keterjagaan dari keterlelapan dst )
Intinya demikian pandangan kami tentang kesempurnaan yang tidak hanya acinteya namun advaita untuk dibahas. kebijaksanaan Nibbana mungkin adalah batas akhir yang bisa secara bijak dicapai (Buddha dan juga lainnya) dalam melampaui samsara yang tidak diketahui awalnya (secara individual ) dan kapan berakhirnya  (secara universal) ...pengakuan autentik Buddha. (mengapa ?). Ini dicapai dalam progress simultan dan berkaitan melampaui individualitas diri (eksistensial,universal hingga transendental )
Lantas ... bagaimanakah kesempurnaan advaita tersebut ? secara hipotetis ini baru bisa dicapai jika terlampaui tidak hanya universalitas diri (bukan individual tetapi universal ..... bayangkan wilayah nama tanpa rupa "batin tanpa materi" hanya ada Anenja Brahma, suddhavasa dan Nibbana tidak ada lagi alam dunia, apaya, surga , rupa brahma) namun juga trandentalitas diri (bayangkan wilayah dvaita nibbana  dan advaita itu sendiri tiada samsara  imanen lagi). Demikian analogi gambaran saguna -niskala mandala ini. Ini gambaran Dia yang belum terjaga dari dvaita samsara nibbanaNya. Bagaimana jika Dia terjaga dalam advaita dan melampaui nibbana (samsaraNya) ? dst.
(Pusing ya .... karena jelas kita yang masih "ndagel" dalam peran samsarik di dunia ini tidak mungkin ada disana maka kita cukupkan disini saja)

Walaupun fenomena mandala ini memang beragam level & labelnya (terpilah > terpisah ?) namun secara realitas terpadu adanya (esensi>energi>materi).  

Kutipan : 
So, tetap realistis tidak opurtunis (karena walau samsara ini delusif namun tidak terlalu chaotik ... Niyama Dhamma yang Impersonal Transenden cukup kokoh menyangga permainan "abadi" nama rupa di samsara ini ... perlu keselarasan, keberimbangan dan kebijaksanaan untuk tidak perlu melakukan penyimpangan, pelanggaran bahkan penyesatan yang akan menjadi bumerang kelak ... kemurnian diutamakan tidak sekedar "kelihaian" ). … ingatlah tidak hanya ucapan yang diungkapkan dan tindakan yang dilakukan bahkan konten perasaan dan fikiran kita akan berdampak juga pada keberlanjutan diri kita nantinya apalagi jika harus ditambahi dengan beban tambahan karena penderitaan dan penyesatan atas lainnya… keburukan dan kebaikan walau tidak selalu instan ataupun identik potentially akan berbalik juga ke sumbernya siapapun kita (orang biasa atau tokoh terkemuka , tidak hanya manusia namun juga semuanya termasuk brahma, mara, dewata, asura apapun identifikasi yang kita anggapkan bagi diri sendiri atau pengakuan yang kita harapkan dari lainnya). ..... Kebodohan, kesalahan dan keburukan harus secara perwira perlu ditanggung secara mandiri (/bersama?) demi/bagi keadilan, keasihan dan kearifan mandala ke-Esa-an ini. (demi tanggung jawab tersebut jangan harapkan pengampunan kosmik, penghangusan karmik bahkan ... maaf .... "kemahiran (dengan kepalsuan/kelihaian/keculasan bukan kebenaran/kebijakan/kebajikan seharusnya) ? " internal yoniso manasikara / sati sampajjana demi kasih universal untuk tidak menyusahkan/ menyesatkan lainnya).  Sedangkan kebijakan, kebenaran dan kebajikan tetaplah sucikan kembali transenden impersonal dalam anatta diri bukan hanya karena sekedar anicca namun juga untuk melampaui dukkha dalam keselarasan atas kesedemikianan yang wajar dalam peniscayaan .
kebenaran bersikap, kebijakan berpribadi dan kebajikan berprilaku tetaplah berguna (bahkan kalaupun saja semisal jika kehidupan ini ternyata hanyalah vitalitas kebebasan semu & liar belaka /ahetuka ?/ sehingga sama sekali tidak ada dampak karmik secara metafisik atas effek kosmik yang berlangsung /tiada pelayakan tihetuka bagi pemurnian untuk penembusan/ pencapaian / pencerahan, minimal perolehan deposito 'liburan' surgawi (?) ... itupun tetap berdampak positif dalam kebersamaan sosiologis di sekitarnya (kenyamanan kepercayaan, kebahagiaan, dsb) minimal secara psikologis (tiada penyesalan karena tidak bertindak buruk, tanpa kekecewaan karena mampu berprilaku baik sehingga tanpa perlu kerisauan/kecemasan lagi ketika masih hidup bahkan jikapun harus melepaskannya kala meninggal dunia .... walau belum ideal berlevel  ariya,,mampu tihetuka bhavana, mulia layak surga, mantap secara duniawi, dsb  ; Jika memang tiada dusta buat apa berduka ... walau memang tentu saja harus tetap perwira bersedia bertanggung-jawab untuk menerima apapun juga konsekuensi kemungkinan kompleksitas dampak karmik dari effek kosmik yang dilakukan tindakan / ucapan, fikiran/perasaan dsb ? Fair perwira diterima ... bukan hanya atas kebenaran, kebajikan dan kebijakan namun juga kebodohan, kesalahan dan keburukan bahkan juga kepalsuan, kebejatan dan kekejaman yang telah kita lakukan selama samsara ini. ). Segala hibrah kenyataan memang perlu terjadi sebagaimana hikmah kebenaran yang seharusnya terjadi ... walau tidak selalu identik apalagi instan (dikarenakan 'kebetulan / digariskan' ?  memang ada kompleksitas banyak faktor yang bermain di sana) . Tidak ada yang salah dengan fenomena eksternal bagi diri dengan realitas internal yang memang sudah senantiasa berusaha, terbiasa apalagi memang sudah terniscaya untuk selalu swadika terjaga tanpa perlu noda asava (miccha ditthi, mana, tanha & avijja vipalasa lainnya) untuk senantiasa jernih mengamati (yoniso manasikara?), dengan tegar menjalani (sati sampajjana?) dan bijaksana untuk mengatasinya (appamadena sampadetha?). Well, Realitas tilakhana Kebenaran yang nyata dalam setiap fenomena kenyataan yang tergelar memang seharusnya terjadi sebagaimana kelayakan keniscayaannya walau itu mungkin saja tidak sesuai dengan keinginan/ harapan / sangkaan kita semula. 
Jadi  turun level agak romantis lagi, nih .... ingat refleksi pribadi "Kun Saidan" (Berbahagialah - Anisah May dari Tasauf Modern Hamka ) ... Just loving the Love. Cintailah Cinta (Sumber Sejatinya bukan sekedar Media Obyeknya). Cintailah Tuhan (baca: Kebenaran) sebagaimana kehendakNya bukan hanya sekedar untuk mengumbar kepentingan ego yang selfish. Karena apapun yang diberikanNya (sekalipun seburuk atau seberat apapun itu tampaknya di permukaan) adalah tetap yang terbaik bagi kita ... karena itu demi kebaikan pemberdayaan kita bukan untuk memperdayakan kita. Atau dalam Mistik Theosofi dikatakan Tuhan menjadikan ini semua dengan cinta oleh karenanya dengan cintalah hendaknya kita menempuhnya untuk memahami dan mencintai kebenaran itu sebagaimana adanya..
3 dantien = akal - hati - pusat (tidak ada yang salah dari semuanya jika selaras terpadu ?)
 Wah, agak melantur tampaknya bahasan kearifan samsarik & curhat pribadi ini. Semoga para Neyya (terutama para pabajita) tetap mampu waspada terjaga dan tidak hanyut terbawa arus idea ini. Para Mistisi (Tantrik Osho, Taoism ?) kadang terjebak dan tersekap dalam labirin sex - cinta - kasih ini. Sex atau birahi (kama) bersifat nafsu sensual, cinta (sneha) bersifat personal , sedangkan kasih (metta) bersifat kosmik impersonal. Ini kami ungkapkan bukan hanya karena kami memandang tetap perlunya pembabaran Saddhamma yang walau memang ditempuh secara eksistensial hendaknya juga melampaui universal untuk menjangkau transendental demi transformasi pencerahan spiritual yang dijalani. Alasan lain adalah dikarenakan kami memandang living kosmik ini utuh dalam keseluruhan (katakanlah semacam organisma besar) maka perlu perimbangan kemurnian nirvanik yang arif/kuat mengatasi kecenderungan alami samsarik yang 'naif/liar' untuk membuatnya cukup 'sehat/ tepat' agar tetap mantap bertahan dan lancar berjalan. Jikapun tidak memungkinkannya dalam keterjagaan pencerahan total keseluruhannya minimal tidak membuatnya jatuh terpuruk dalam kehancuran. Meminjam istilah Sadhguru Yasudev (?), Karma samsarik sesungguhnya tidak hanya berdampak sebatas pada pribadi eksistensial pemerannya saja namun juga bereffek pada wadah arena semesta universal yang menampungnya. Atau menganalogikan dalam Mistik Hinduism (day & night of Brahman ) seandainya samsara ini hanya Ke-Esa-an yang terlelap bermimpi, maka jika beliau terjaga semoga senantiasa lebih segar karena kecerahan tidur tanpa "mimpi buruk"nya ....mungkin perumpamaan itu bisa menjadi pemicu baru mengapa transendensi eksistensial evolusi pribadi perlu dijalankan dan transendensi universal harmoni dimensi perlu diusahakan ... 
(sekedar tambahan terma filsafat theosofist ini : eros - filia - agape ? cinta sensual - altruisme kemanusiaan - kasih keIlahian )
So, Be Selfless (not  selfish ? ) 

Selain sesumgguhnya memang tanpa perlu lobha  kemelekatan & dosa kebencian pada apapun/ siapapun juga .. yang perlu dihindari lagi adalah adalah moha kebodohan beraku pembandingan diri mana kesombongan atas kesetaraan segalanya.


1b. Talenta :
Talenta berkaitan dengan bakat zarah Bhavana untuk bawaan selanjutnya
Intelgensia kecerdasan tidaklah sebatas fitrah naluri ego belaka namun juga nurani ke-Esa-an  ... tidak sekedar instink, ataupun sebatas intelek belaka (cogito ergo sum, Rene Descartes ? ) namun membentang luas dan dalam (intuisi, insight, etc). Sejumlah manusia (tanpa menafikan para ariya & anariya di dimensi lainnya : asura, dewata, brahma, dsb ) walau dalam keterbatasan & pembatasannya sebagai mikrokosmos bagian dari Living Makrokosmos yang tidak sekedar eksistensial namun juga universal bahkan transendental mampu bukan hanya mengalami namun juga menguasai bahkan melampaui level ini 
Berikut Table intelgensia kecakapan Z (Eneagram 9 + 1= 10 ?) untuk dikembangkan

No

Level

Dimensi

Tantien pusat

Tantien hati

Tantien otak

Z

1

Elementary

3 tataran intelek

1. AQ /Adversity Quotient - ketahanan berjuang/,

2. EQ /Emotional Quotient - keluwesan interaksi/,

3. IQ /Intelligence Quotient - kepandaian kognitif/;

123

2

Intermediate

3 wawasan intuisi

6. ASQ /Adversity Spiritual Quotient - kemantapan yogi/;

5. ESQ /Emotional Spiritual Quotient - keihsanan ummi/,

4. ISQ /Intelligence Spritual Quotient - keterarahan sati/,

654

3

Advance

3 penembusan insight

7. ADQ /Adversity Divine Quotient- mukasyafah

8. EDQ /Emotional Divine Quotient - Mahabatullooh/,

9. IDQ /Intelligence Divine Quotient - Ma'rifatullooh/)

789

dalam pemberdayaannya (kesadaran, kecakapan, kemapanan dan ketaqwaan), sejumlah manusia mungkin saja mampu berkembang mendahului lainnya bukan hanya secara intelek (yang popular didewakan saat ini), namun juga intuisi (sayang sudah agak diabaikan sekarang) dan insight (sudah langka dan terlupakan?). 9 kecerdasan mungkin tercapai ( 3 tataran intelek =1. AQ /Adversity Quotient - ketahanan berjuang/, 2. EQ /Emotional Quotient - keluwesan interaksi/, 3. IQ /Intelligence Quotient - kepandaian kognitif/; 3 wawasan intuisi = 4. ISQ /Intelligence Spritual Quotient - keterarahan sati/, 5. ESQ /Emotional Spiritual Quotient - keihsanan ummi/, 6. ASQ /Adversity Spiritual Quotient - kemantapan yogi/; 3 penembusan insight = 7. ADQ /Adversity Divine Quotient- mukasyafah/, 8. EDQ /Emotional Divine Quotient - Mahabatullooh/, 9. IDQ /Intelligence Divine Quotient - Ma'rifatullooh/) namun demikian jika tidak dibarengi dengan orientasi kesadaran 10 maka itu semua tanpa makna. Realisasi Kecerdasan tingkat 10 (baca: sepuluh) atau orientasi kesadaran 10 (baca: satu-nol) ini mungkin yang dimaksudkan sebagai insan kamil, homo novus (New Man) atau apapun istilahnya – suatu pencapaian kesempurnaan manusia dalam keterbatasannya. Namun sebagaimana proses pemberdayaan dan orientasi ketawaddhuan sebelumnya inipun harus dianggap hanya sebagai proses berkelanjutan bukan maqom penghentian. Inilah perbedaan yang mendasar antara kesejatian pencerahan bijak seorang panentheist, keimanan sejati para monotheist atau bisa jadi pencarian murni kaum heretis dengan kesemuan ‘pencerahan’ pantheist, ‘wawasan’ agnostic, maupun ‘pandangan’ atheist. Keberkahan dan pemberkahan hanyalah dari, oleh, untuk dan kembali kepadaNya. Realisasi kebenaran bukan identifikasi pembenaran. Dalam keikhlasan bukan dengan kepamrihan. Senantiasa memberdaya diri secara berkelanjutan dalam JalanNya (sesuai fitrah yang ditentukanNya) dan tidak terperdaya setinggi apapun perolehan yang dicapainya (menurut anggapan kerdil terhadap diri sendiri maupun pengakuan semu dari orang lain

Tentang kesaktian metafisik dalam penempuhan kemurnian spiritual : 
Link lain :
 
Well, godaan & cobaan Ego dalam pemurnian kesejatian sadhaka adalah dalam kemelekatan (apalagi keserakahan) dengan perolehan kesejahteraan (duniawi/surgawi) & keperkasaan (kesaktian/keilahian?) walau niatan yang tidak benar, bijak & bajik dalam kemurnian itu memang memungkinkan untuk terjadi bagi para yogi meditator handal sekalipun (kelihaian memanfaatkan mekanisme kaidah sistem kosmik demi kepentingan pribadi) . Bukan untuk niatan menghibur diri sebagai padaparama dihetuka jika kami jujur mengatakan : jangankan untuk melampaui untuk menguasai / memiliki saja sulit .... nggak bisa, hehehe.  Setiap level memiliki prasyarat & labirin jebakannya sendiri ... semakin dalam, semakin berat. Inilah seninya kembali murni dalam kesejatian yang anatta .... kawan & lawan setiap diri adalah dirinya sendiri (asava internal bukan dunia eksternal ... sebagaimana di kedalaman bukankah demikian juga di permukaan ?). Singkat kata, kemurnian haruslah ditempuh dengan, dalam & untuk kemurnian juga ... walaupun kesaktian & perolehan kecakapan/ kemapanan/ kekuasaan lainnya  memang bisa didapatkan karena memang ada korelasi antara kemurnian sila, samadhi & panna dalam mandala kesunyataan ini. Dalam asivisopama sutta Buddha men-simile-kan kecenderungan kita ini sebagai pencuri (bagi pemegahan semu) bukanlah kebijaksanaan penempuh (demi kebenaran sejati) ?
(See : keteladanan Buddha untuk melampaui  di bawah) 
Kutipan lengkap komentar Bahiya :  DATA 01022021/PRIOR/KOMENTAR VLOG TQ SD 13012020 LAGI.pdf  p.6 

Anumodana Bhante Ashin Kheminda dan DBS atas tayangan public Dhamma Desana Bahiya Sutta ini setelah Asivisopama sutta lalu
PROLOG  
Untuk kesekian kalinya saya harus jujur mengagumi kebijaksanaan taktis demi transendensi pencerahan yang bukan hanya translingual namun transrasional Buddha Gautama sebagaimana pembabaran alur dukkha asivisopama sutta sebelumnya untuk menyadarkan faktisitas keberadaan problem dilematik samsara diri (analisis 16 nana vipassana paska samatha : via ‘stepping stone’ nibbida untuk melonggarkan cengkeraman upadana kemelekatan papanca samsarik agar sankhar-upekkha keberimbangan formasi termantapkan - anuloma peniscayaan tersesuaikan dan transformasi gotrabu terlayakkan bagi realisasi magga-phala nibbana pencerahan sehingga keniscayaan aktualisasi kiriya non-karmik sebagai Ariya secara autentik murni terrefleksikan ).
STATISTIK ?  
Ke-Buddha-an adalah potensi nirvanik dari esensi murni segala level spiritualitas keberadaan samsarik yang harus menempuh faktisitas penempuhannya masing-masing . Nibbana adalah keterjagaan dan samsara adalah keterlelapan. Buddha sesungguhnya adalah Dia (semoga juga kita semua akan demikian) yang sudah bangun terjaga dari mimpi tidur samsariknya. Semua bhava samsara sesungguhnya (disadari atau tidak) adalah pengarung Dharma keBuddhaan di samudera samsara walaupun dalam label eksistensial bukan penganut ‘agama’ Buddha. So, (maaf) jangan terdelusi statistic kuantitas populasi Buddhist di permukaan.
Buddhisme yang dibabarkan Buddha Gotama adalah segenggam permata kebijaksanaan simsapa yang karena jangkauan pemberdayaannya sangat luas (tidak hanya untuk pendewasaan pribadi, keharmonisan duniawi, perolehan surgawi, pencapaian brahma, kemampuan abhinna namun bahkan terutama pemurnian bagi keterbebasan dari samsara ini) relative bukan hanya tidak lebih mudah difahami namun juga akan cukup susah untuk dijalani bagi semua bhava samsara yang masih terlelap dalam mimpi keakuan, terseret dalam banjir kemauan, tersekap dalam kesemuan , terjebak dalam kenaifan, dsb… sedangkan demi kelayakan penempuhan (terutama untuk ‘uncommon wisdom’ pembebasan) sejumlah kode etik kosmik kemurnian yang tidak selalu ‘popular’ dengan kecenderungan pembenaran samsarik kepentingan ego mutlak memang perlu dijalankan pelayakannya, antara lain kedewasaan menerima, mensikapi dan melayakkan diri atas kaidah karma ( > pembenaran manipulatif kepercayaan harapan/anggapan akidah pengampunan/ pelimpahan) , kemurnian aktualisasi holistik (> defisiensi kepamrihan/ pencitraan) , refleksi kasih murni tiada batas tanpa eksploitasi standar ganda, menjaga harmoni keseluruhan sebagaimana yang Beliau niscayakan tanpa noda (identifikasi pembanggaan kesombongan diri), tiada cela (eksploitasi pembenaran kepentingan diri) tetap bermain ‘cantik’ (harmonisasi transenden pada wilayah immanent … walau memiliki Dasabala keunggulan adiduniawi tetap bijak dan murni terjaga tidak memanipulasi tataran samsara duniawi dibawahNya …. karena walau samsara 'hanyalah' fenomena bayangan kenyataan semu dari Realitas kebenaran Nibbana namun adalah tetap tidak etis bagi yang telah terjaga melanggar ‘aturan main’ wilayah mimpinya . Samsara dalam advaita mandala ini tampaknya memang perlu ‘ada’ bukan hanya sekedar menampung aneka kehebohan pagelaran chaotik drama delusive bagi keterlayakan level episode berikutnya namun juga demi tetap berlangsungnya keberagaman pada kasunyatan abadi ini?) dalam masa pembabaran Dhamma paska pencerahan hingga parinibbana kewafatanNya (laporan ‘pandangan mata batin Ariya’ proses adiduniawi non-empiris paranibbana Beliau oleh Arahata Anurudha kepada Sekha Ananda atas validitas konsistensi keniscayaan Magga Phala Samma-SambuddhaNya).
BAHIYA SUTTA ?  
Dari prolog dan komentar awal tampaknya karakteristik alur tema Anatta akan dibabarkan pada sessi Bahiya Sutta ini. Sangat menarik untuk disimak karena pra asumsi awal kami … dari tilakhana, anatta adalah factor krusial pembeda yang membuat Ariya Dhamma ini bukan hanya melingkupi (bisa mencapai) namun juga mengungguli (bisa melampaui) lainnya (lokiya : asura dewata/ anenja brahma ?). Faktor Anicca dalam batas tertentu memang bisa difahami dan dilalui lokiya dhamma (norma duniawi – etika surgawi .. awas /ditthi + tanha/ dan sangat liarnya sensasi kemauan yang bisa menjerumuskan ke Lokantarika paska pralaya 2 ?) , factor dukkha pada level tertentu juga masih bisa disadari dan dicapai anenja dhamma ( unio mystica – pantheistics … awas /mana + avijja/ plus masih naifnya fantasi keakuan dimensi Abhassara untuk menyeret kembali dalam perangkap samsara paska pralaya 4 ? ) namun annata adalah factor penentu yang memungkinkan lokuttara dhamma ini mampu mengaktualisasi kemurnian penempuhan (> defisiensi kepamrihan & pencitraan) secara konsisten meniscayakan ‘peniscayaan/ keniscayaan’ dalam kelayakan realisasi pencerahan transeden (keterjagaan dari keterlelapan mimpi/ delusi samsara ini – keterbebasan ‘esensi murni’ ke-Buddha-an dari cangkang delusi ‘pancupadana khanda’ tanpa kebodohan identifikasi dan eksploitasi pembodohan dari keterpedayaan/ ketersesatan/ keterperangkapan intra-drama pengembaraan semu samsara ini kembali (singgah/pulang) ke ‘rumah sejati’ Nibbana ).
EPILOG
Dalam mandala advaita kasunyatan abadi ini sebagaimana samma-panna nibbana yang perlu disadari dan ditembus daya sentrifugal kebijaksanaanNya demikian pula tanha-avijja samsara tampaknya juga perlu difahami dan dilampaui daya sentripetal kecenderungannya. So, sebagaimana harmoni musik peregangan senar kecapi walau viriya memang diperlukan untuk mensegerakan dan konsisten dalam penempuhan namun tampaknya perlu juga panna kebijaksanaan untuk menjaga keberimbangannya dalam kewajaran harmonisasi eksistensial maupun kesadaran transendensi spiritualnya.
Semoga refleksi epilog ini tidak menjadi anti klimaks yang dianggap mementahkan samvega kegairahan yang tengah dibangun para Neyya Buddhist (karena ini juga akan berdampak merugikan bagi para truth seeker dalam menyerap referensi yang diperlukan bagi wawasan pengetahuan dan tataran penempuhannya juga).
Salam Namo Buddhaya dari padaparama di 'luar' sasana. 

1c. Visekha:
Visekha berkaitan dengan hisab karmik Sila untuk bawaan berikutnya
atau tabel hipotesis yang agak 'gila' dari kami ini 

 

Wilayah

1

2

3

Transendental

Nibbana ‘sentra’ ?

Belum diketahui ? 7

Tidak diketahui ? 8

Tanpa diketahui ? 9

 

Nibbana ‘sigma’?

Belum mengakui ? 4

Tidak mengakui ? 5

Tanpa mengakui ? 6

 

Nibbana ‘zenka’ ?

Arahata 1

Pacceka 2

Sambuddha 3

Universal

Brahma Murni  (Suddhavasa)

Anagami 7 (aviha Atappa)

Anagami 8 (Sudassa Sudassi)

Anagami  9(Akanittha)

 

Brahma Stabil (Uppekkha )

jhana 4 (Vehapphala)

Asaññasatta 5 (rupa > nama)

Anenja 6 ( nama > rupa arupa brahma 4 )

 

Brahma mobile (nama & rupa)

Jhana 1 (Maha Brahma)

Jhana 2 (Abhassara)

Jhana 3 (Subhakinha)

Eksistensial

Trimurti LokaDewa

Vishnu 7 (Tusita)

Brahma 8 (Nimmãnarati)

Shiva 9 (Mara?  Paranimmita vasavatti)

 

Astral Surgawi

Yakha  (Cãtummahãrãjika) 4

Saka  (Tãvatimsa) 5

Yama (Yãma)6 

 

Materi Eteris

Dunia fisik(mediocre’ manussa  &‘apaya’ hewan iracchãnayoni) 
+ flora & abiotik ? / 1
Eteris Astral apaya (‘apaya’ Petayoni & ‘apaya’ niraya)
2
Eteris Astral apaya Asura  (petta & /eks?/  Deva ) 
3

tampaknya pada kolom universal Uppekha Brahma yang relatif stabil (maksudnya tidak mobile / fragile tidak begitu labil sehingga lolos sementara tidak terkena dari siklus rupa pralaya samsarik dimensi 'materi' : dunia 1 + apaya 4 & juga surga deva kamavacara 6  & Rupa Brahma 3 dibawahnya sebagai rupa lokantarika di antara Brahmanda & lokuttara nantinya sebelum siklus berikutnya) perlu digeser posisi antara anenja 5 & asannasata 6 ... bukan hanya dikarenakan life span (masa hidup) namun juga dari ketangguhan samadhi mereka dalam labirin kosmik paralel penembusan saddhamma. Asaññasatta tersekap (terjatuh) dalam rupa sedangkan anenja 'hanya' terjebak (terlelap) dalam nama. Direvisi resumenya?. Atau bisa juga Brahma Vehappala 4 digeser ke tengah jadi nomor 5 karena keseimbangannya sebagai nama atas rupa (BUKAN KESOMBONGAN, KESERAKAHAN & KEBENCIAN, LHO) dibandingkan  Asaññasatta 4 yang menolak nama batin bahkan malahan menjadi melekat pada rupa materi bahkan mungkin juga justru nomor 6 mengungguli anenja yang terlelap dalam nama dan acuh dengan rupa pada level anariya (?) walau memang memiliki masa hidup (life span) yang lebih lama dibandingkan para Brahma lainnya (bahkan termasuk Ariya anagami suddhavasa di  level atasnya) berdasarkan kalkulasi matematis Gnosis Buddhisme. Direvisi lagi resumenya ?
apaya asura ? hehehe, tampaknya itu rahasia kosmik, guys. Vishnu mungkin tidak suka namun tampaknya tidak bagi Shiva yang arif, Brahma dan Saka memang ahli & baik namun  naif  untuk hal ini. Dalam permainan samsarik ini keberadaan guardian "penyeimbang" bagi keberlangsungan kesemuan, kenaifan & keliaran hingga perlunya serial recycling daur ulang pralaya   perbaikan kerusakan paska kekacauan dimensi tampaknya memang perlu ada. Tanpa maksud  mencela & membela, dalam diri setiap kita para zenka  pengembara keabadian tampaknya memang masih  ada 'drive' ariya dan asura di dalamnya. Dalam dimensi kamavacara tampaknya asura, yama & mara  memang guardian utama untuk permainan samsarik di level bawah, tengah & atas. 
Ini sebetulnya bahasan paling menarik namun sayangnya akan sangat sensitif  tampaknya  (sungkan, ah) referensi acuan?  intinya tetaplah autentik & holistik (tidak identifikatif apalagi manipulatif) 
3b) semoga tanggap demi empati, harmoni, sinergi. kebersamaan semua. 
Kutipan :
3b) (Membicarakan soal Kebenaran dan Agama.docx). 
semoga tanggap demi empati, harmoni, sinergi. kebersamaan semua. 
/mencela itu tercela bukan hanya untuk yang tidak selayaknya dicela bahkan juga jikapun dianggap layak untuk itu awas kesombongan, jaga keseimbangan demi kebijaksanaan akan Kesunyataan holistik / 

So, jadilah berkah yang mencerahkan/ memberdayakan bukan limbah yang menyusahkan/memperdayakan di/ke manapun kita berada bukan hanya bagi diri sendiri namun juga makhluk lain di setiap living cosmic ini.  So, pastikan keberdayaan Saddhamma bukan hanya yakinkan kepercayaan belaka! penempuhan nyata tidak sekedar pengetahuan belaka. Saddhamma adalah aktualisasi autentik pemastian sesuai kaidah Realitas bukan sekedar harapan persangkaan keyakinan saja (Real realized>identifikatif & manipulatif ?).  
Bijaksanalah untuk senantiasa bersiaga dengan segala kemungkinan sejati yang /akan/ ada (kualitas transendensi ariya > mahakammavibhanga 4 > ekspektasi asura ? ) minimal bersiaplah menerima, menghadapi dan melampauinya (realisasi level swadika, kualifikasi genia talenta & hisab visekha)  ! 

(See = siklus samsarik gnosis fase 3 mandala di atas : sungkan & riskan bilang sebetulnya .... BTW sekarang tanggap ya mengapa & bagaimana dalam gnosis buddhisme siklus pralaya samsarik terjadi bukan hanya pada dunia, apaya namun juga surga bahkan hingga rupa brahma jhana 3 ) 

So, spiritualitas memang mutlak mengharuskan kemurnian bukan sekedar kelihaian (terkadang segala kenekatan penempuhan, kehebatan pencapaian & kehebohan perolehan sering menjadi labirin jebakan penjerat/penjebak/penjatuh yang sangat ampuh bagi yang belum terjaga & tidak waspada apalagi jika caranya bertentangan dengan Saddhamma ... bumerang, guys). 

Cari quote video Mahadeva Shiva yang menyayangkan motif Asura karena memujaNya demi transaksi hadiah kekuatan/kemuliaan bukan demi pensucian kesejatian yang seharusnya lebih berguna demi transformasi diri. (memberatkan keakuan & mengumbar kemauan ... kebodohan internal dengan pembodohan eksternal ?) Shiva memang fair mengesankan kesemuanya dan tidak mengenaskan, bukan typical personal god laten deitas yang naif & liar untuk dieksploitasi karena harapkan pengakuan/ pemujaan apalagi persaingan & kebencian /kesalah-fahaman Asura yang fatal dalam persangkaan & pandangannya dalam/sebagai ke-Ilahi-an?) .... bagi pemurnian autentik kesejatian harusnya bukan demi transaksi kepamrihan pencitraan  yang semu, nsif & liar yang merugikan perkembangan pencapaian spiritualitas semuanya. Har har Mahadev seri berapa, ya ? (lupa tayangan TV dulu). Jika saja memang benar level Shiva Mahadeva Hinduisme setara dengan Mara Buddhisme ini tetaplah menjadi keunggulanNya .. senantiasa terjaga & waspada tidak butuh pengakuan walau memang belum menyadari keanattaan realitas diri sebagaimana Buddha Tusita (avatara ke 9 Vishnu ?) yang mencapai pencerahan Nirvanik..  

Keteladanan Acinteya yang telah direalisasi& tetap dijalani Buddha  walau tanpa dipublikasi dalam simsapa sutta ini apa juga difahami & disadari Savaka-Nya ?  
Link data lain :  
Ulasan : Simsapa tipitaka + acinteya udumbara /mahakasapa/
Sayang ...hanya Bhante Mahakasapa Arahata yang memahami universalitas kaidah kosmik Buddhism yang tersirat.
Walau cenderung agak nivritti negative namun cukuplah simsapa tipitaka etc yang tersurat untuk paradigma holistik lanjut.
(Buddhism dhutanga > pabajitta >  upasaka (neyya > padaparama) > umat luar sasana > makhluk lain) 
Pro Buddhism ?  Dalai Lama  show / save
No Buddhism ? Herman Hesse  save
Ina : link sementara :  0a) (show) or  0b)(show)
 

IMPERSONAL REALITY 
Susah edit . Just info. Rasan-rasan (Internal Self Talk)
SPOILER KONSIDERAN :
Impersonal reality ... episode samsarik ... siklus ajaran ... tanazul taraqi ... emanasi kreasi ... etika dogma ... impersonal transenden personal immanen ... absolute guardian laten deitas  ...Mental kadrun prinsip ariya ... barzah jannah ... konsep mld .. membentang hingga keluasan eksternal menjangkau kedalaman internal... memastikan kebenaran menyeluruh meyakinkan tendensi pembenaran kepentingan...Melepas melekat ... inferensi berkebalikan ... uncommon wisdom ...Jfs prakata yasudev prolog tentang pandangan monolog thesis orientasi kesedemikianan antithesis pemberdayaan thesis terniscayakan epilog tentang kenyataan epilog wasalam
IMPERSONAL REALITY  JUST FOR SEEKER 
Tampaknya memang konsep Anatta ini keunggulan pandangan Buddha yang mendasar & menyasar mengatasi avijja .... tidak lagi MLD bodoh menyombongkan keberadaan, tidak perlu dibodohi asava internal mengumbar keserakahan apalagi harus tega membodohi eksternal menebar kedengkian .... sangat autentik & holistik. Melampaui samsara dengan cantik ... ajaran walau tampak sederhana (walau tidak mudah) namun sempurna (tanpa manuver obralan psikis-bisnis-politis & agresi teror ghibah fitnah, hasad hasut & jajah jarah demi kuasa,harta& citra typical ular pemangsa berbisa ?... pekok, heboh dan norak yang justru bukan hanya menyimpang dari kaidah kosmik yang berlaku impersonal transenden namun juga menyesatkan, menyusahkan dan menghancurkan bukan hanya diri sendiri, orang lain dan bahkan tertib kehidupan dimensi alam ini.  Realisasi Transendental yang tidak membawa masalah bahkan justru berkah bagi kedamaian universal & kecerahan eksistensial. 
Referensi yang pas ? Ahara Sopaka 10 ? JMB 8 Dhammacakapavatana + 2 mahacatirasaka ( Anattalakhana sutta ?)
Chogyam Trungpa cutting materialism spiritual, Bhante Sumedho don't take your life personally ,Bhante Nanananda Magic of Mind ?
Ashin Tejaniya don't underestimate your defilement they laugh at you Referensi meditasi plus ? Pa Auk Sayadaw (janati Pasati, dll), David Johnson Bhante Vimalaramsi (the Path of Nibbana), Bhante Punnaji (meditation Ariya Magga, dll) etc
Video ? Hanya proses (anatta) :
Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaan.  

PERSONAL GODS 
PERSONAL GODS the Guardian ... Elite Global KOsmik ? 
Sant Mat : 5 guardians ( Alakh Niranjan /astral - Om Kal/ kausal - 
Level KeIlahian : Brahma Wihdat - Dewa Triloka 3 Hikmat - Dewa Kamavacara 3 Nikmat + Yakha Asura apaya - Dunia Empiris (atta diri ?)
Impersonal reality ... episode samsarik ... siklus ajaran ... tanazul taraqi ... emanasi kreasi ... etika dogma ... impersonal transenden personal immanen ... absolute guardian laten deitas Mental kadrun prinsip ariya ... barzah jannah ... konsep mld .. membentang hingga keluasan eksternal menjangkau kedalaman internal... memastikan kebenaran menyeluruh meyakinkan tendensi pembenaran kepentingan Melepas melekat ... inferensi berkebalikan ... uncommon wisdom
Jfs prakata yasudev prolog tentang pandangan monolog thesis orientasi kesedemikianan antithesis pemberdayaan thesis terniscayakan epilog tentang kenyataan epilog
wasalam
SPOILER KONSIDERAN :

PLUS : ARTIKEL IMPERSONAL

TRANSENDENT OF IMMANENT & IMMANENT ON TRANSENDENT 

Tuhan adalah Dzat Mutlak yang imanensi keluhuranNya melingkupi segala sesuatu walaupun memang transendensi kekudusanNya tak akan mampu terjangkau siapapun juga. Dunia dan akherat hanyalah terminology peristilahan bagi Fenomena dimensi yang terpilah bukanlah Realitas esensi yang terpisah. Pada hakekatnya (baik disini maupun disana - baik sekarang ataupun nanti) kita senantiasa berhadapan denganNya. Segalanya berproses, berlanjut dan juga berdampak pada saatnya. 

Tuhan adalah Sentra terdalam segala mikrokosmos yang membentang sebagai causa prima keberadaan makrokosmos. 

PERSONAL GODS 
PERSONAL GODS the Guardian ... Elite Global KOsmik ? 
Sant Mat : 5 guardians ( Alakh Niranjan /astral - Om Kal/ kausal - 
Level KeIlahian : Brahma Wihdat - Dewa Triloka 3 Hikmat - Dewa Kamavacara 3 Nikmat + Yakha Asura apaya - Dunia Empiris (atta diri ?)
Impersonal reality ... episode samsarik ... siklus ajaran ... tanazul taraqi ... emanasi kreasi ... etika dogma ... impersonal transenden personal immanen ... absolute guardian laten deitas Mental kadrun prinsip ariya ... barzah jannah ... konsep mld .. membentang hingga keluasan eksternal menjangkau kedalaman internal... memastikan kebenaran menyeluruh meyakinkan tendensi pembenaran kepentingan Melepas melekat ... inferensi berkebalikan ... uncommon wisdom
Jfs prakata yasudev prolog tentang pandangan monolog thesis orientasi kesedemikianan antithesis pemberdayaan thesis terniscayakan epilog tentang kenyataan epilog
wasalam
SPOILER KONSIDERAN :
SERBA SERBI PANENTHEISTICS BUDDHISM (IMPERSONAL REALITY)

plus
Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaan.  
Segalanya tertata sempurna adanya dalam Impersonal Transenden Reality. 
perlu kelayakan > kesadaran > kefahaman : acinteya ariya - panna kiriya 

progress akumulatif autentik evolusi pribadi & harmoni dimensi secara impersonal (ketertundaan / keterhalangan orientasi pengharapan/kepercayaan personal ) 
belum layak surga (nikmat<hikmat<wihdat) demi keamanan /kenyamanan harmoni dimensi wilayah surgawi  atas kecenderungan berbahaya kualitas evolusi pribadi ... ndemit bareng di dimensi barzah petta apaya (hingga pralaya kiamat dunia ?), kadrun. Tertunda nibbana karena kualifikasi (kontradiktif tanha aspirasi/orientasi , mana identifikasi konseptual saddha, aktualisasi semu asava karmik personal etc ?) , savaka ? 
Etika x Dogma. Fakta x Citra. Impersonal x Personal.
Keswadikaan pemurnian kesejatian : dari MLD (moha - lobha - dosa) /asava (anusaya- nivarana- kilesha vs panna- samadhi- sila ? )
kewajaran meng-esa & kesadaran anatta ( Taoism weiwuwei = action without actor / acting ?.... just process )
impersonal Reality : keselarasan  kesadaran berpandangan taransendental, kelayakan berpribadi universal dalam kewajaran berprilaku eksistensial 

.

PARADIGMA SEDERHANA 
plus
ETIKA ZENKA ?
GRAND DESIGN 
Segalanya (aneka keberadaan laten deitas dsb) tampaknya memang berawal dari Sentra KeIlahian Satu yang sama (Impersonal Transenden God?) dan berada dalam mandala DeitasNya kemudian secara ideal laten Deitas seharusnya akan kembali kepadaNya … namun dikarenakan orientasi berpandangan, berpribadi & berprilaku serta realisasi penempuhan, pencapaian & pencerahannya akan mencapai level yang berbeda walau dalam area mandala deitas keIlahian yang sama . Kami mengutarakan ini dengan tanpa maksud sama sekali untuk membela yang satu apalagi harus mencela lainnya namun ini agar kita memang harus tetap swadika untuk bijaksana menerima keniscayaan atas kesedemikian konsekuensi logis & ethis yang secara kosmik berlaku.  Well, harmoni dimensi memang perlu dilakukan dalam peran semesta ini demi kebersamaan namun evolusi pribadi tampaknya memang tetap harus dilakukan secara mandiri dalam kesendirian sebagaimana harusnya (aktualisasi impersonal > transaksi personal > defisiensi individual).
Tampaknya selama ini kami hanya berputar-putar saja …Walau sesungguhnya memang sungkan karena masih rendahnya kenyataan autentik dalam level spiritual dan memang riskan karena tetap perlu keberadaan harmonis dalam label eksistensial , namun tampaknya  pandangan esoteric yang tersembunyi (disembunyikan?) di kedalaman ini memang seharusnya muncul  ke permukaan demi kebijakan pengertian & kebajikan penempuhan untuk mempermudah pencerahan selanjutnya.
Kaidah Gnosis Kosmik ini sesungguhnya sederhana jika kita cukup tanggap akan reversed inference yang ada dan tampaknya terjadi & seharusnya memang akan terbukti dalam mandala advaita ini. Well,  namun demikian walaupun dalam pengetahuan relative mudah difahami & disadari namun dalam penempuhan apalagi untuk penembusan susah untuk dijalani hingga pencapaian pencerahan (kembali pulang) Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaan
Hidup adalah pilihan. Sebagai seeker kami memang  memilih  pandangan panentheistic ini untuk menjaga arah pandangan yang relative lebih benar, bijak & bajik dalam keseluruhan untuk senantiasa true, humble & responsible selaras dengan realitas kenyataan yang terjadi.
Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaan.
Segalanya tertata sempurna adanya dalam Impersonal Transenden Reality.  perlu kelayakan > kesadaran > kefahaman : acinteya ariya - panna kiriya 
progress akumulatif autentik evolusi pribadi & harmoni dimensi secara impersonal (ketertundaan / keterhalangan orientasi pengharapan/kepercayaan personal ) 
belum layak surga (nikmat<hikmat<wihdat) demi keamanan /kenyamanan harmoni dimensi wilayah surgawi  atas kecenderungan berbahaya kualitas evolusi pribadi ... ndemit bareng di dimensi barzah petta apaya (hingga pralaya kiamat dunia ?), kadrun. Tertunda nibbana karena kualifikasi (kontradiktif tanha aspirasi/orientasi , mana identifikasi konseptual saddha, aktualisasi semu asava karmik personal etc ?) , savaka ? 
Etika x Dogma. Fakta x Citra. Impersonal x Personal.
Keswadikaan pemurnian kesejatian : dari MLD (moha - lobha - dosa) /asava (anusaya- nivarana- kilesha vs panna- samadhi- sila ? )
kewajaran meng-esa & kesadaran anatta ( Taoism weiwuwei = action without actor / acting ?.... just process )
impersonal Reality : keselarasan  kesadaran berpandangan taransendental, kelayakan berpribadi universal dalam kewajaran berprilaku eksistensial 
REVIEW TOTAL
Konsep :
1. Be Realistics : kefahaman perspektif kesedemikianan yang menyeluruh 
2. To Realize : kesadaran integritas untuk tulus menuju pemurnian kesejatian 
3. of Real : kelayakan pencapaian yang sesuai
(+ inferential hypothesis)
well cara pandang paradigma impersonal reality yang tidak konseptual kesadaran nivritti negative tetapi kontekstual kewajaran holistics .... solution x solace !
bukan hanya mandala nibbana tetapi samsara juga perlu ariya dhamma bukan hanya demi evolusi pribadi namun juga bagi harmoni dimensi  (paradigma Impersonal Reality Panentheistics dalam keberimbangan kebijaksanaan demi keberdayaan yang meniscayakan  kesedemikianan untuk keseluruhan  )

SEEKER DIARY 
1 suro
Paradigma Panentheistic tampaknya memang agak susah ditangkap ... ada yang aneh arus ideanya . Kesedemikianan yang menuju perluasan holistik advaita mandala bukan pembebasan dualitas samsara nibbana. (reversed inference intuitif > intelek ?)
RUWET 
logika hati perlu keharuan yang lebih rumit dibandingkan kejelian logika akal 
How to be a seeker
Sacca (kejujuran ? ketulusan? Kepolosan ? kemurnian ? kesejatian ?)
Esensi sejati diri kita di kedalaman sesungguhnya memang murni … tersentuh akan keharuan  
Sincerity authentic
Ini bukan manuver strategis … mencitra secara personal namun memang natural impersonal dalam kesedemikianannya  (meditatif )
Lihatlah segala sesuatu dalam kemurnian sejatinya bukan sekedar dari citra yang ditampakkannya (tanpa prasangka semu , naif & liar apapun juga)…. Tidak ada yang salah dari yang ada jika kita senantiasa menyadari esensi yang ada tersebut.
Perlu impresi yang reseptif akan itu semua di kedalaman bukan di permukaan …. Jangan langsung kesal reaktif kompulsif karena ekspresi penolakan negatif eksternal tidak juga segera melekat karena impresi respon pelekatan internal  
2 suro  
benar .. seperti kata herman hesse dalam Siddharta ... bukan obsesi pembebasan tetapi ekstensi perluasan (idea harus holistik lagi ?) ... tidak sekedar analisa logika rasio akal sehat tapi synthesis ethika batin hati yang murni (mengesa dalam totalitas keseluruhan tidak lagi beridea dalam konsep pengamatan ... semakin dalam semakin luas ... semakin sulit & rumit ... menerima tanpa pembedaan karena demikianlah sesungguhnya )
prinsip keesaan = memandang kesedemikianan dalam keseluruhan 

PARADIGMA 

Plus : Data lain 
dari :  Go on Seeker. http://teguhqi.blogspot.com/2020/09/hubungan-antara-pikiran-emosi-energi.html)
spiritualitas sehat (benar, bijak & bajik) : kemurnian pemberdayaan via : Orientasi holistik - Realisasi autentik - Aktualisasi sinergik (x kelihaian pemanfaatan autorisasi - demi kepentingan klaim identifikasi - apalagi untuk eksploitasi memperdayakan )
Pencerahan perlu keperwiraan & kemandirian individual ( > ketergantungan & kebergantungan eksternal ) 
Demi penempuhan & pencapaian keberdayaan autentik > terbelenggu kepercayaan (fanatik/intelek) 
Postulasi paradigma hipotetis awal "Parama Dhamma" ? referensial < experiential < experimental ?
kesunyataan ber'esa' > keberadaan ber'aku'
 ki-ageng-soerjomentaram-ilmu-jiwa-kramadangsa : manusia tanpa ciri : "anatta"  (swadika > bahagia)
Ketegaran hidup : Yin Natadhita_STAY STRONG
Power vs Force : Ina (artikel) - Eng (Ebook) 
David Hawkins_Power vs Force 

PARADIGMA HYPOTHESIS 

Kaidah Impersonal Reality 

Be Realistics to Realize the Real 
Be realistics to realize the Real. (Bersikaplah benar untuk senantiasa realistis dalam merealisasikan segala yang real nyata secara tepat dan sehat) Kita hanya berhak mendapatkan apa yang kita berikan .... entah itu kebaikan ataupun keburukan. Segala niatan, tindakan dan capaian tidak akan percuma walau dampak mungkin tidak selalu instan kemasakannya dan mungkin tidak juga identik kelayakannya. Namun demikian kebijaksanaan untuk senantasa mengupayakan keterarahan dan keberdayaan dalam menghadapi segala kemungkinan yang ada secara pasti bahkan mungkin bisa ada perlu selalu dilakukan dengan tanpa perlu merendahkan adanya karunia keberuntungan akan kepercayaan dan pengharapan untuk segala kemungkinan yang bisa saja ada terjadi.
1. Thesis : Data Lama (Pengantar ) - Ketepatan dalam berpandangan
Parama Dharma : tentang Pandangan ( akal sehat - hati nurani - jiwa suci : ketepatan holistik or kebenaran empirik or kenyataan realitas)
Mandala Advaita : tentang KeIlahian ( theologi - theosofi - theodice ? The Impersonal Absolute Transendence & Its Personal Immanent Guardians ?) 
Formula Swadika : tentang Pemberdayaan (keabadian : refleksi - distansi- meditasi , pembumian kehidupan , kesiagaan kematian)
Formula Swadika : tentang Peniscayaan 
Peniscayaan realistik dari keberdayaan autentik, kemungkinan holistik  untuk terealisasinya faktor tidak sekedar (walaupun tidak menafikan memang memungkinkan adanya anomali penyimpangan kaidah kosmik karena intervensi internal & eksternal transaksional)  pengharapan ataupun penganggapan semata ?
2. Anti-Thesis : Just For Seeker 1 - Kejelasan untuk tindakan
Kesadaran : 
Keariyaan : 
Pembumian : kecakapan - kemapanan - kewajaran 
3. Synthesis : Just For Seeker 2 - kebijakan terhadap pelayakan
Menghadapi Keabadian (swadika - talenta - visekha :
Menghadapi Kehidupan (kecakapan - kemapanan - kewajaran :
Menghadapi Kematian (racut - bardo - rebirth :
Penutup : Be true - humble - responsible /vs sacred monistics  (schaden freude, etc ? : irasionalitas ellis, pembenaran standar ganda, etc)  


IMPERSONAL REALITY 
Susah edit . Just info. Rasan-rasan (Internal Self Talk)
SPOILER KONSIDERAN :
Impersonal reality ... episode samsarik ... siklus ajaran ... tanazul taraqi ... emanasi kreasi ... etika dogma ... impersonal transenden personal immanen ... absolute guardian laten deitas  ...Mental kadrun prinsip ariya ... barzah jannah ... konsep mld .. membentang hingga keluasan eksternal menjangkau kedalaman internal... memastikan kebenaran menyeluruh meyakinkan tendensi pembenaran kepentingan...Melepas melekat ... inferensi berkebalikan ... uncommon wisdom ...Jfs prakata yasudev prolog tentang pandangan monolog thesis orientasi kesedemikianan antithesis pemberdayaan thesis terniscayakan epilog tentang kenyataan epilog wasalam

Sebagai penutup, penjelas, penyeimbang, etc ....
Memahami kesedemikianan = Realitas Kesunyataan & Fenomena KeberadaanPrediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10
Konsep :
1. Be Realistics : kefahaman perspektif kesedemikianan yang menyeluruh 
2. To Realize : kesadaran integritas untuk tulus menuju pemurnian kesejatian 
3. of Real : kelayakan pencapaian yang sesuai 
bukan candu memabukan untuk perubahan bukan racun mematikan bagi keberadaan namun spirit bagi kedewasaan pencerahan 
mulai dari diri di sini saat ini dengan paradigma cara pandang bijak tidak sekedar idea pandang  impersonal reality 
memperluas tanpa melepas menempuh tiada menjauh 
ESKATOLOGI
Sesuai dengan level MLD (moha – lobha – dosa ) pada ditthi – tanha – mana
lokiya dhamma agama or addhamma ? Walau secara tersurat dijanjikan jannah surga di saat akherat namun secara tersirat dipastikan barzah petta hingga kiamat.
Persepsi doktrin moha  
Lokiya Dhamma ini adalah diniah dhamma dengan
Evolusi pribadi Lobha Tanha pengharapan terlalu tinggi Kualitas Evolusi pribadi tidak memadai untuk pelayakan kuantitas/kualitas amaliah kebajikan level surgawi
Harmoni dimensi Dosa
Harmoni dimensi meragukan untuk kedamaian alam surgawi  Manna kesombongan terlalu heboh
 Mengapa ? Persepsi doktrin moha , Evolusi pribadi Lobha, Harmoni dimensi Dosa
Tetapi bisa … ?
Mahakammavibhanga vipaka batiniah sebelum kematian kehidupan sebelum periode ndagel saat ini berbuah, kesadaran penyambung, bantuan personal gods? (‘rahmat’ keberuntungan diri walau jika saja kecenderungan masih dihuni kemalangan harmoni dimensi alam yang kemudian dihuni.
Adil bagi hukum karma walau tidak  
Sesuai dengan level MLD (moha – lobha – dosa ) pada ditthi – tanha – mana
Pralaya ? masih memungkinkan surga samawi ? untuk theodice masih memungkinkan surga samawi paska apaya petta walau diragukan karena bisa jadi terjadi pergeseran kehidupan di lokadatu lainnya atau proses dematerialisasi / rematerialisasi / enmaterialisasi kosmik (via black hole) kehancuran & pemberadaan kembali di dimensi fisik.
Meditasi untuk menyelami kedalamanan mikrokosmik diri (byproduct effect akan paralel dengan memahami keluasan makrokosmik luar)Bonus kedamaian / kesegaran hingga kesaktian (iddhipada parihariya) , level keilahian (laten deitas), kemurnian hinggaKebajikan dengan kebijakan (burung pipit)
Awas cetana
Kesadaran impersonal (panna internal)  > kepolosan personal (etika spiritual) > kebodohan personal (citra religius)  
Kebenaran non keutamaan :
Sacca kiriya menukar karma kebaikan untuk tujuan tertentu (impersonality amaliah)
vs anggulimala ? (kebijaksanaan ‘penyimpangan’
Bantuan as personal gods (penyimpangan intervensi kosmik/karmik)
see purana (asura atas shiva + vishnu) vs ratana sutta (untuk tidak dizalimi, untuk mengasihi ?)
Prank (menguji kualitas (mencobai/ ngerjain > menjahili lainnya menzalimi diri sendiri
Awas dakhina
Kewajaran x pembodohan
Pahala < kesungkanan
Parami memberi kadrun parasit/ pemangsa (khr)
Menyekap & (menyengsarakan diri sendiri & semakin menjerumuskan lainnya)
Walau bisa namun jangan  
Awas upekkha sakmadyo  nekhamma
Awas keterarahan orientasi penempuhan kepekaan perkembangan
Jika sacca kejujuran dilakukan memang daya tanggap meningkat. namun jika tidak dibarengi kearifan pemakluman eksternal keberimbangan umumnya sering kesal (memberi dana ,  menjaga sila  )
Panentheisme
Mengidentifikasikan diri dengan kemuliaan pembandingan tidak lagi setara dalam apapun di keseluruhan (sebagai Buddha, Tuhan, Nabi, dsb)  adalah kebodohan & mengidentifikasikan lainnya deifikasi adalah pembodohan (sebagai bemper bergantung, menjatuhkan dengan moha kesombongan, menyusahkan dengan lobha permohonan, memperalat dengan bermuhabala)
PERSONAL GODS 
PERSONAL GODS the Guardian ... Elite Global KOsmik ? 
Sant Mat : 5 guardians ( Alakh Niranjan /astral - Om Kal/ kausal - 
Level KeIlahian : Brahma Wihdat - Dewa Triloka 3 Hikmat - Dewa Kamavacara 3 Nikmat + Yakha Asura apaya - Dunia Empiris (atta diri ?)
Impersonal reality ... episode samsarik ... siklus ajaran ... tanazul taraqi ... emanasi kreasi ... etika dogma ... impersonal transenden personal immanen ... absolute guardian laten deitas Mental kadrun prinsip ariya ... barzah jannah ... konsep mld .. membentang hingga keluasan eksternal menjangkau kedalaman internal... memastikan kebenaran menyeluruh meyakinkan tendensi pembenaran kepentingan Melepas melekat ... inferensi berkebalikan ... uncommon wisdom
Jfs prakata yasudev prolog tentang pandangan monolog thesis orientasi kesedemikianan antithesis pemberdayaan thesis terniscayakan epilog tentang kenyataan epilog
wasalam
SPOILER KONSIDERAN :

trigger drakor not only musics, seeker ?
People only see what they want to, but a photo records every single thing. it saw in the same time and place. 
mata orang hanya melihat apa yang ingin dilihatnya. Tapi foto bisa merekam keseluruhan dari suatu tempat di waktu yang sama 
memahami 
prinsip keesaan = memandang kesedemikianan dalam keseluruhan 
kedewasaan pencerahan untuk menerima kenyataan, mengasihi kesedemikianan & melampaui  keseluruhan. 
Konsep :

1. Be Realistics : kefahaman perspektif kesedemikianan yang menyeluruh 
2. To Realize : kesadaran integritas untuk tulus menuju pemurnian kesejatian 
3. of Real : kelayakan pencapaian yang sesuai 
bukan candu memabukan untuk perubahan bukan racun mematikan bagi keberadaan namun spirit bagi kedewasaan pencerahan 
mulai dari diri di sini saat ini dengan paradigma cara pandang bijak tidak sekedar idea pandang  
impersonal reality 
memperluas tanpa melepas menempuh tiada menjauh 
Well, harusnya sudah cukup selesai logika akal mengikuti kata hati .... Repot juga menuntaskan frame work posting ini jika arus batin selalu spontan menyusahkan diri (agar posting tetap logically terstruktur sesuai triade paradigma semula). Apa kerangka berfikir harus disesuaikan lagi ? Mbuh ... lah, hehehe.  
Sebagai penutup, penjelas, penyeimbang, etc ....
Memahami kesedemikianan = Realitas Kesunyataan & Fenomena KeberadaanPrediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10
Konsep :
1. Be Realistics : kefahaman perspektif kesedemikianan yang menyeluruh 
2. To Realize : kesadaran integritas untuk tulus menuju pemurnian kesejatian 
3. of Real : kelayakan pencapaian yang sesuai 
bukan candu memabukan untuk perubahan bukan racun mematikan bagi keberadaan namun spirit bagi kedewasaan pencerahan 
mulai dari diri di sini saat ini dengan paradigma cara pandang bijak tidak sekedar idea pandang  impersonal reality 
memperluas tanpa melepas menempuh tiada menjauh 
ESKATOLOGI
Sesuai dengan level MLD (moha – lobha – dosa ) pada ditthi – tanha – mana
lokiya dhamma agama or addhamma ? Walau secara tersurat dijanjikan jannah surga di saat akherat namun secara tersirat dipastikan barzah petta hingga kiamat.
Persepsi doktrin moha  
Lokiya Dhamma ini adalah diniah dhamma dengan
Evolusi pribadi Lobha Tanha pengharapan terlalu tinggi Kualitas Evolusi pribadi tidak memadai untuk pelayakan kuantitas/kualitas amaliah kebajikan level surgawi
Harmoni dimensi Dosa
Harmoni dimensi meragukan untuk kedamaian alam surgawi  Manna kesombongan terlalu heboh
 Mengapa ? Persepsi doktrin moha , Evolusi pribadi Lobha, Harmoni dimensi Dosa
Tetapi bisa … ?
Mahakammavibhanga vipaka batiniah sebelum kematian kehidupan sebelum periode ndagel saat ini berbuah, kesadaran penyambung, bantuan personal gods? (‘rahmat’ keberuntungan diri walau jika saja kecenderungan masih dihuni kemalangan harmoni dimensi alam yang kemudian dihuni.
Adil bagi hukum karma walau tidak  
Sesuai dengan level MLD (moha – lobha – dosa ) pada ditthi – tanha – mana
Pralaya ? masih memungkinkan surga samawi ? untuk theodice masih memungkinkan surga samawi paska apaya petta walau diragukan karena bisa jadi terjadi pergeseran kehidupan di lokadatu lainnya atau proses dematerialisasi / rematerialisasi / enmaterialisasi kosmik (via black hole) kehancuran & pemberadaan kembali di dimensi fisik.
Meditasi untuk menyelami kedalamanan mikrokosmik diri (byproduct effect akan paralel dengan memahami keluasan makrokosmik luar)Bonus kedamaian / kesegaran hingga kesaktian (iddhipada parihariya) , level keilahian (laten deitas), kemurnian hinggaKebajikan dengan kebijakan (burung pipit)
Awas cetana
Kesadaran impersonal (panna internal)  > kepolosan personal (etika spiritual) > kebodohan personal (citra religius)  
Kebenaran non keutamaan :
Sacca kiriya menukar karma kebaikan untuk tujuan tertentu (impersonality amaliah)
vs anggulimala ? (kebijaksanaan ‘penyimpangan’
Bantuan as personal gods (penyimpangan intervensi kosmik/karmik)
see purana (asura atas shiva + vishnu) vs ratana sutta (untuk tidak dizalimi, untuk mengasihi ?)
Prank (menguji kualitas (mencobai/ ngerjain > menjahili lainnya menzalimi diri sendiri
Awas dakhina
Kewajaran x pembodohan
Pahala < kesungkanan
Parami memberi kadrun parasit/ pemangsa (khr)
Menyekap & (menyengsarakan diri sendiri & semakin menjerumuskan lainnya)
Walau bisa namun jangan  
Awas upekkha sakmadyo  nekhamma
Awas keterarahan orientasi penempuhan kepekaan perkembangan
Jika sacca kejujuran dilakukan memang daya tanggap meningkat. namun jika tidak dibarengi kearifan pemakluman eksternal keberimbangan umumnya sering kesal (memberi dana ,  menjaga sila  )
Panentheisme
Mengidentifikasikan diri dengan kemuliaan pembandingan tidak lagi setara dalam apapun di keseluruhan (sebagai Buddha, Tuhan, Nabi, dsb)  adalah kebodohan & mengidentifikasikan lainnya deifikasi adalah pembodohan (sebagai bemper bergantung, menjatuhkan dengan moha kesombongan, menyusahkan dengan lobha permohonan, memperalat dengan bermuhabala)

plus 

Belajar spiritualitas secara mendalam dan meluas memang sangat mengasyikan namun perlu kedewasaan dan keberimbangan agar bukan hanya tidak melengahkan/mengacaukan aktualisasi tanggung jawab eksistensial kehidupan kita namun juga agar dalam penempuhan spiritualitas keabadian tidak justru malah kontraproduktif (istilah kontroversi kami 'ter-alienasi', jadzab ?- 'ngedan ngelmu'?').  Suatu kondisi dimana kita tidak lagi samvega tergugah dalam penempuhan namun justru merasa galau dikarenakan ada gap antara realitas target ideal aneka kaidah spiritualitas / akidah religiusitas tertentu dengan segala faktisitas kompleks keberadaan kita yang memang terbatas dan terbatasi situasi dan kondisi  yang ada dan nyata.  Oleh karena itu ... sambil terus meng-upload aneka referensi files spiritualitas yang kami rasa perlu untuk dishare (juga aneka files kehidupan lainnya) dan menyelesaikan posting Quo Vadis (yang sudah terlanjur dipublish) ; kami merasa perlu mengajukan juga paradigma alternatif pribadi tentang konsep Parama Dharma, desain Mandala Advaita dan Formula Swadika yang senantiasa terupdate terus menerus sesuai dengan aneka macam referensi masukan dan refleksi renungan dalam setiap perjalanan kehidupan dan penjelajahan keabadian ini.  Perlu sikap benar, sehat dan tepat bagi kita untuk memandang permasalahan secara berimbang dengan harmonis & holistik agar tidak ambisius tenggelam dalam arus kehidupan namun juga tidak obsesif terhanyutkan banyak konsep pandangan yang ada dengan segala tuntunan (tuntutan?) idealitas kesempurnaannya. 

Well jangan salah sangka … kami tidak sedang memaparkan tentang  pelekatan /pelepasan tetapi alternatif kepekaan perluasan kebijaksanaan 

Kearifan, keahlian, keuletan, kebaikan, plus kesucian, keutuhan …. What’s next ?

jika benar ? membawa ketepatan penempuhan & mencapai kepastian pencerahan (pencerahan spiritual impersonal transenden & kedewasaan psikologis pemeranan personal imanen dalam  kebijakan & kebajikan .. kiriya ariya, zenka swadika ?)

jika salah ? Ya, revisi lagi ( gitu aja koq repot )

…. aktualitas impersonal Ekstensi universal berimbang berkelanjutan tanpa perlu teralienasi obsesi transendental apalagi terdefisiensi ambisi eksistensial.

ETC ETC ETC 

JUST ORDINARY PEOPLE
tatu - Didi Kempot : opo aku salah yen aku cerito opo anane
apa saya salah jika saya harus menceritakan apa adanya
https://www.youtube.com/playlist?list=PLZZa2J4-qv-YhR5fxgxiX-2CARnd7LjQ2
Gnosis Kosmik Impersonal Reality Panentheistics bagi Zenka Pembumi bukan/ TIDAK HANYA  Ariya Samana ?
ini harus hati-hati karena bukan hanya akan menyinggung diri sendiri (peran eksistensial penganut agama 'langit'?) namun juga lainnya (maaf, Einstein & Dalai Lama juga sadhguru yasudev + Osho? ... termasuk mystic kosmik &Buddhisme)
FOR PUBLIC SEEKERS
Gnosis Kosmik Impersonal Reality Panentheistics bagi Zenka Pembumi JUGA Ariya Samana ?

Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaa
1. Thesis : Data Lama (Pengantar ) - Ketepatan dalam berpandangan
Parama Dharma : tentang Pandangan ( akal sehat - hati nurani - jiwa suci : ketepatan holistik or kebenaran empirik or kenyataan realitas)
Mandala Advaita : tentang KeIlahian ( theologi - theosofi - theodice ? The Impersonal Absolute Transendence & Its Personal Immanent Guardians ?) 
Formula Swadika : tentang Pemberdayaan (keabadian : refleksi - distansi- meditasi , pembumian kehidupan , kesiagaan kematian)
Formula Swadika : tentang Peniscayaan 
Peniscayaan realistik dari keberdayaan autentik, kemungkinan holistik  untuk terealisasinya faktor tidak sekedar (walaupun tidak menafikan memang memungkinkan adanya anomali penyimpangan kaidah kosmik karena intervensi internal & eksternal transaksional)  pengharapan ataupun penganggapan semata ?
2. Anti-Thesis : Just For Seeker 1 - Kejelasan untuk tindakan
Kesadaran : 
Keariyaan : 
Pembumian : kecakapan - kemapanan - kewajaran 
3. Synthesis : Just For Seeker 2 - kebijakan terhadap pelayakan
Menghadapi Keabadian (swadika - talenta - visekha :
Menghadapi Kehidupan (kecakapan - kemapanan - kewajaran :
Menghadapi Kematian (racut - bardo - rebirth :
Penutup : Be true - humble - responsible /vs sacred monistics  (xschaden freude, etc ? : irasionalitas ellis, pembenaran standar ganda, etc)  

TRANSENDENT OF IMMANENT & IMMANENT ON TRANSENDENT 

Tuhan adalah Dzat Mutlak yang imanensi keluhuranNya melingkupi segala sesuatu walaupun memang transendensi kekudusanNya tak akan mampu terjangkau siapapun juga. Dunia dan akherat hanyalah terminology peristilahan bagi Fenomena dimensi yang terpilah bukanlah Realitas esensi yang terpisah. Pada hakekatnya (baik disini maupun disana - baik sekarang ataupun nanti) kita senantiasa berhadapan denganNya. Segalanya berproses, berlanjut dan juga berdampak pada saatnya. Tuhan adalah Sentra terdalam segala mikrokosmos yang membentang sebagai causa prima keberadaan makrokosmos. (dalam triade : wujud - kuasa - kasihNya)

tentang keIlahian ? tidak mencari , menjadi & mencipta Tuhan ?

mencari (personal immanen < impersonal transenden) = All in God , Nobody is perfect but God

menjadi (kebodohan identifikatif ) = Brahma Baka yang akan terjatuh ? Devata hingga asura yang terdelusi? bahkan atta (diri) yang terpedaya?

mencipta (pembodohan eksploitatif) =  Brahma Baka yang akan terjatuh ? Devata hingga asura yang terdelusi? bahkan atta (diri) yang terpedaya?

tentang keIlahian ? tanpa theologi, theodice & theosofi ?

 2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) :

prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan)

1) Khilafiyah Theologi : kemustahilan membatasi Tuhan ? → kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat (keIlahian ; keberadaaan; ketentuan)

2) Problema Theodice : kemustahilan membela Tuhan?® kebijakan metanoia diantara faham pandangan (fanatisme/mistisme ; atheisme/vitalisme ; agnostisme /heuretisme)

3) Masalah Theosofi: kemustahilan mencintai Tuhan ?®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan (kegaiban Tuhan ; penderitaan/kezaliman ; ananiyah/nafsiyah) epilog : keimanan ?ketentuan awal > kepastian final → aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian


impersonal Reality : keselarasan  kesadaran berpandangan taransendental, kelayakan berpribadi universal dalam kewajaran berprilaku eksistensial 
prajna paramitta avalokitesvara
khutbah bunga mahakasapa 
3 jawaban zen boddhidharma
herman hesse siddharta

menatap Buddha Rupang  reversed inference (Empati kosmik < Direct Insight?)
herman hesse siddharta
PLUS NOVELS/ALL/HERMAN HESSE/SIDDHARTA/Hermann Hesse_Siddartha.pdf
PLUS NOVELS/ALL/HERMAN HESSE/SIDDHARTA/New folder/Terjemahan_Siddhartha-Govinda_Hermann_He.pdf
PLUS NOVELS/ALL/HERMAN HESSE/SIDDHARTA/New folder/Novel_Siddhartha_Karya_Hermann_Hesse_Pencarian_Chi.pdf
PLUS NOVELS/ALL/HERMAN HESSE/SIDDHARTA/New folder/SIDDHARTHA.docx
62
Knowledge can be conveyed, but not wisdom.
Pengetahuan dapat disampaikan, tetapi bukan kebijaksanaan
64
"I know it," said Siddhartha; his smile shone golden. "I know it, Govinda. And behold, with this we are right in the middle of the thicket of opinions, in the dispute about words. For I cannot deny, my words of love are in a contradiction, a seeming contradiction with Gotama's words. For this very reason, I distrust in words so much, for I know, this contradiction is a deception. I know that I am in agreement with Gotama. How should he not know love, he, who has discovered all elements of human existence in their transitoriness, in their meaninglessness, and yet loved people thus much, to use a long, laborious life only to help them, to teach them! Even with him, even with your great teacher, I prefer the thing over the words, place more importance on his acts and life than on his speeches, more on the gestures of his hand than his opinions. Not in his speech, not in his thoughts, I see his greatness, only in his actions, in his life."
“Aku tahu” ucap Siddhartha; semyumnya seperti caahaya keemasan. “Aku tahu, Govinda. Dan lihatlah, kita sekarang berada di belantara pendapat, memperselisihkan kata-kata.Aku tidak bisa menyangkal, kata-kata ku tentang cinta itu kontradiktif atau terdengar kontradiktif dengan kata-kata Gotama. Untuk alasan khusus itu, aku sangat tidak mempercayai kata-kata karena aku tahu bahwa “kontradiktif” itu sendiri menyesatkan. Aku tahu bahwa aku setuju dengan Gotama. Bagaimana, selanjutnya, ia bisa dan semua orang gagal untuk berkenalan dengan cinta? Dia (Gotama) yang mengetahui kefanaan dan ketiadaan eksistensi semua manusia, namun sangat mencintai manusia, yang mana ia menghabiskan waktu, mengeluarkan tenaganya hanya semata-mata untuk menolong mereka, mengajar mereka! Bahkan dalam kasusnya, bahkan dalam kasus guru mu yang agung itu, kehidupannya lebih aku hormati daripada katakatanya. Aktivitas dan hidupnya lebih penting daripada ajarannya, gestur tangannya lebih penting daripada pendapatnya. Aku melihat keagungannya bukan dari katakata, pikirannya, tetapi hanya dari aktivitas di dalam hidupnya.

Well, sesungguhnya tokoh ini memang luar biasa. True Seeker yang autentik , harmonis & holistik . Beliau hanya katakan kebenaran yang telah direalisasi sejati tidak seperti kami truth seeker yang sering 'tranyakan'  berasumsi , Sadhguru Yasudev.

Sadhguru Yasudev Quotes : 

If you are looking for solace, belief system is fine. But if you are looking for a solution, you have to seek.

Jika anda mencari hiburan, sistem kepercayaan baik-baik sajalah. Tetapi jika anda mencari solusi anda harus mencarinya. 

Sadhguru Yasudev Quotes : 

The intelect which is based on memory is wonderful tool. However, it can only inform - it can not transform.

Intelek yang didasarkan pada memori adalah alat yang luar biasa. Namun ia hanya dapat menginformasi - dia tidak dapat mentransformasi.

Sadhguru Yasudev Quotes : 

Being a seeker of truth means refusing to make assumptions about things that you do not know.

Menjadi pencari kebenaran berarti menolak membuat asumsi tentang hal hal yang tidak anda ketahui..



Figur holistik  (being true, humble & responsible x fake, arogant & irresponsible) untuk menjaga harmoni dimensi bukan hanya tidak menyesatkan, menyusahkan apalagi tega mengorbankan lainnya demi pembenaran kepentingan, kebanggaan & kesewenangan dirinya namun bahkan sebaliknya.rela berkorban diri termasuk juga  mencerahkan evolusi pribadi lainnya . 

Sadhguru Yasudev Quotes : 

Only in transendence can there be transformation. When you keep rising from where you are right now, one day you will be profoundly transformed. 

Hanya dalam transendensi dapat ada transformasi Ketika anda terus bangkit dari posisi anda saat ini, Suatu hari anda akan ditransformasi secara mendalam .

Sadhguru Yasudev Quotes : 

Whatever competence, capabilities and genius we may have - all of it is meaningful when there is balance.  

Apapun kompetensi, kemampuan dan kegeniusan yang mungkin kita miliki. Semua itu bermakna hanya jika ada keseimbangan.

Sadhguru Yasudev Quotes : 

Every human being should know the highest possibilities in life are, Whether they will walk the path all the way or not is up to them.

Setiap manusia seharusnya mengetahui apa kemungkinan tertinggi dalam hidup. Apakah mereka akan menrmpuh jalan itu sepenuhnya atau tidak adalah terserah mereka


khutbah bunga mahakasapa 
Mahakassapa (Pali:Mahākāśyapa) atau Kāśyapa, adalah seorang brahmana dari Magadha di sebuah desa bernama Mahatittha, yang menjadi salah satu murid utama yang sering diperkenalkan oleh Buddha Sakyamuni. Seperti murid-murid Utama Sang Buddha (Sariputta dan Mahamoggallana), Kasyapa juga berasal dari keluarga Brahmana (ayahnya bernama Brahmana Kapila dan ibunya bernama Sumanadevi). Ia juga penyelenggara dan penuntun Sidang Agung Pertama. Ia juga sering digambarkan mendampingi Sang Buddha bersama-sama dengan Ananda, masing-masing di sisi Sang Buddha. Ia juga dipanggil dengan panggilan "Pipphali".
Menurut legenda, suatu hari Sang Buddha sedang menyampaikan "Khotbah Bunga" di Puncak Burung Hering, ia menaiki tahtanya, memetik setangkai bunga, dan menunjukkan kepada yang hadir. Tidak seorang pun memahami maknanya, kecuali Mahakasyapa, yang menanggapinya dengan tersenyum. Sang Buddha memilihnya sebagai seseorang yang mengerti sepenuhnya dan merupakan seseorang yang pantas menjadi penerusnya. Sang Buddha kemudian berkata:
https://id.wikipedia.org/wiki/Mahakassapa

EBOOK BUDDHISM 2/SUDAH/BHANTE/TRANS/Karakterisitik-dan-Esensi-Zen.pdf

264344


prajna paramitta avalokitesvara
HARMONI DIMENSI
memahami hakekat realitas transendental kesedemikianan
Prajñāpāramitā
kebijaksanaan agung prajna paramita

Oṁ! Namo Bhagavatyai Ārya-Prajñāpāramitāyai!
Om | Aku memuliakan Sang Ariya Guru Suci yang telah mencapai kebijaksanaan agung prajna paramita
Ārya-Avalokiteśvaro Bodhisattvo, gambhīrāṁ prajñāpāramitā caryāṁ caramāṇo,
Sang Ariya Bodhisatva  Avalokiteśvara saat itu berdiam di dalam praktik kebijaksanaan agung prajna paramita,
vyavalokayati sma panca-skandhāṁs tāṁś ca svabhāvaśūnyān paśyati sma.
melihat ke dalam lima skhanda (agregat = pikiran dan tubuh / nama rupa ) dan ternyata mereka kosong dari sifat-diri

Iha, Śāriputra, rūpaṁ śūnyatā, śūnyataiva rūpaṁ;
Di sini, Wahai Śāriputra, wujud adalah kekosongan, kekosongan adalah wujud;
rūpān na pṛthak śūnyatā, śunyatāyā na pṛthag rūpaṁ;
kekosongan tidak berbeda dengan wujudwujud tidak berbeda dengan kekosongan;
yad rūpaṁ, sā śūnyatā; ya śūnyatā, tad rūpaṁ;
Segala apapun wujudnya, itu adalah kekosongan; Segala apapun kekosongan yang ada, itu adalah wujud.
evam eva vedanā-saṁjñā-saṁskāra-vijñānaṁ.
Begitu juga sama halnya untuk perasaan, persepsi, proses kemauan dan kesadaran.

Iha, Śāriputra, sarva-dharmāḥ śūnyatā-lakṣaṇā,
Di sini, Wahai Śāriputra, segala dharma bersifat kosong , 
anutpannā, aniruddhā;
Tanpa kemunculantiada pula kelenyapan ;
amalā, avimalā;
Tanpa ketiada-nodaan, tiada pula ketidakmurnian;
anūnā, aparipūrṇāḥ
Tanpa adanya kekurangan, tiada pula kelengkapan

Tasmāc Śāriputra, śūnyatāyāṁ
Karena itu, Wahai Śāriputra,  dalam kekosongan itu
na rūpaṁ, na vedanā, na saṁjñā, na saṁskārāḥ, na vijñānam;
tidak ada bentuk, tidak ada perasaan, tidak ada persepsi, tidak ada proses kehendak, tidak ada kesadaran;
na cakṣuḥ-śrotra-ghrāna-jihvā-kāya-manāṁsi;
tidak ada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh atau pikiran;
na rūpa-śabda-gandha-rasa-spraṣṭavya-dharmāḥ;
tidak ada bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, pikiran;
na cakṣūr-dhātur yāvan na manovijñāna-dhātuḥ;
tidak ada elemen mata (dan seterusnya) hingga tidak ada elemen kesadaran-pikiran;
na avidyā, na avidyā-kṣayo yāvan na jarā-maraṇam, na jarā-maraṇa-kṣayo;
tidak ada ketidaktahuan, tidak ada kehancuran ketidaktahuan (dan seterusnya) hingga tidak ada usia tua dan kematian,
na duḥkha-samudaya-nirodha-mārgā;
tidak ada kehancuran usia tua dan kematian; tidak ada penderitaan, kemunculan, lenyapnya, jalan;
na jñānam, na prāptir na aprāptiḥ.
tidak ada pengetahuan, tidak ada pencapaian, tidak ada non-pencapaian.

Tasmāc Śāriputra, aprāptitvād Bodhisattvasya
Oleh karena itu, Wahai Śāriputra, karena tiada yang ingin dicapai, Bodhisattva bebas dari segala gangguan pikiran,
Prajñāpāramitām āśritya, viharaty acittāvaraṇaḥ,
Beliau mengandalkan Kesempurnaan Kebijaksanaan, dan berdiam dengan pikirannya tidak terhalang,
cittāvaraṇa-nāstitvād atrastro,
memiliki pikiran yang tidak terhalang dia tidak gentar,
viparyāsa-atikrānto, niṣṭhā-Nirvāṇa-prāptaḥ.
mengatasi pertentangan, ia mencapai kondisi Nirvāṇa.

Tryadhva-vyavasthitāḥ sarva-Buddhāḥ
Semua Buddha berdiam di tiga masa dengan
Prajñāpāramitām āśritya
mengandalkan Kesempurnaan Kebijaksanaan
anuttarāṁ Samyaksambodhim abhisambuddhāḥ.
sepenuhnya terbangun menuju Keterjagaan Lengkap Sempurna yang tak tertandingi

Tasmāj jñātavyam Prajñāpāramitā mahā-mantro,
Oleh karena itu, Kebijaksanaan Sempurna prajna paramita adalah mantra yang agung
mahā-vidyā mantro, 'nuttara-mantro, samasama-mantraḥ,
mantra pengetahuan agung, mantra yang tertinggi, mantra yang tak tertandingi,
sarva duḥkha praśamanaḥ, satyam, amithyatvāt.
Secara tuntas mengatasi semua penderitaan, sebagai kebenaran sejati yang tak mungkin palsu.

Prajñāpāramitāyām ukto mantraḥ
Dalam Kesempurnaan Kebijaksanaan mantra telah diucapkan
tad-yathā:
dengan cara berikut ini
gate, gate, pāragate, pārasaṁgate, Bodhi, svāhā!
pergi, pergi, pergi melampaui, pergi sepenuhnya ke luar, dalam Kebangkitan, dengan keberkahan!

Iti Prajñāpāramitā-Hṛdayam Samāptam
Dengan demikian Kesempurnaan Kebijaksanaan dari Hati 

3 jawaban zen boddhidharma
Pada tahun 527 semasa Dinasti Liang, ada seorang mahabhiksu India bernama Bodhidharma berlayar ke Tiongkok. Ia mendarat di Guangzhou pada tanggal 21 September. Kaisar yang berkuasa saat itu, Kaisar Wu, adalah pemeluk agama Buddha yang antusias. Ia suka mengenakan busana Buddhist, menyantap makanan vegetarian dan melantunkan liturgi Buddhist. Semasa pemerintahannya, agama Buddha berkembang luas di Tiongkok. Kaisar membangun banyak vihara dimana-mana serta menyiarkan agama Buddha hingga ke seluruh pelosok negeri.
Pada tanggal 1 Oktober sang Kaisar mengundang Bodhidharma ke ibu kota di Nanjing, dan terjadi dialog sebagai berikut.
Kaisar Wu: “Selama ini saya telah banyak sekali membangun vihara besar serta pagoda, berdana, dan menyokong kehidupan para bhiksu dan bhiksuni, mencetak sangat banyak kitab-kitab suci, patung dan lukisan Buddhist, menolong orang miskin sampai tak terbatas jumlahnya. Jadi seberapa besarkah pahala dan kebajikan yang telah saya buat?”
Bodhidharma: “Semua itu tidak ada pahalanya atau kebajikannya apapun. Segala yang Anda lakukan cuma sebuah kesibukan duniawi yang tak bisa dipandang sebagai kebajikan sejati. Kebajikan sejati ada dalam kesadaran murni yang sempurna dan menakjubkan. Hakikatnya suwung. Anda takkan bisa mencapai kebajikan sejati itu dengan cara-cara duniawi.”
Kaisar Wu: “Kalau begitu, siapakah Anda yang berdiri di hadapan saya ini?”
Bodhidharma: “Tidak tahu.”
Antusiasme Kaisar Wu dalam menyiarkan agama Buddha, berdana, menyokong Sangha, menolong rakyat miskin, membangun tempat ibadah, itu sebenarnya jelas adalah sebuah kebajikan, akan tetapi Bodhidharma bermaksud membantu Kaisar untuk masuk ke level spiritual yang lebih mendalam.
Bodhidharma ingin membantu Kaisar Wu untuk melepas kemelekatan egoismenya terhadap subyek “aku” yang berdana, terhadap “tindakan” berdana, dan terhadap obyek “liyan” yang diberi dana. Untuk merealisasi bahwa pada hakikatnya aku, tindakan, dan liyan adalah suwung, sehingga kebajikan tersebut menjadi sempurna paramita karena bersih dari beban kemelekatan.
Ini seperti yang kalau dalam bahasa Jawa disebut sebagai, “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Sebagaimana dalam sutra Mahayana dikatakan, “Kembangkan batin yang tidak melekat pada apapun, namun berfungsi dengan sempurna”.
Berikutnya, dengan bingung Kaisar mempertanyakan siapakah Anda yang berani menihilkan karya-karya besar Kaisar?
Bodhidharma menjawab, “Saya tidak tahu.”
Untuk kedua kalinya Kaisar tak mampu menangkap petunjuk Bodhidharma tentang “pikiran yang tidak tahu”.
Pikiran yang sadar “tidak tahu” adalah pikiran yang tidak dibebani oleh pengetahuan, konsep, wacana. Sebaliknya, pikiran yang rumangsa tahu itu tertutup oleh prasangka-prasangkanya sendiri. Prasangka-prasangka adalah data basi, tidak riil.
Pikiran yang tidak tahu sifatnya segar, membuka, selalu baru, luwes, sadar, penuh perhatian, ingin tahu. Dengan demikian tidak gentar dalam menjumpai hal-hal baru, tidak ketakutan atau benci terhadap yang asing, siap untuk belajar, berani berubah, tanpa beban melihat realitas secara riil, direct, dan di sini - sekarang.  Dalam tradisi Buddhisme ini disebut sebagai “pikiran pemula”.
Ini sejalan dengan nasehat bahasa Jawa, “Aja rumangsa bisa, nanging bisa a rumangsa” yang kurang lebih berarti: Janganlah sok merasa pandai, akan tetapi mampulah melihat atau menyadari keadaan obyektif diri sendiri.
Menyadari bahwa level batin Kaisar Wu tak mampu mencapai  pemahaman seperti itu, maka Bodhidharma pergi berlayar menyebrangi Sungai Yangtze pada tanggal 17 Oktober. Beliau sampai di biara Shaolin di Gunung Song dan menghabiskan waktu 9 tahun duduk bertapa dalam gua di balik bukit.  Beliau terkenal karena memperkenalkan yoga dan olah tubuh yang belakangan dikenal sebagai kungfu kepada para biarawan Shaolin guna meningkatkan kesehatan fisik dan mental mereka agar mampu bermeditasi secara lebih mendalam.
Bodhidharma dipandang sebagai sesepuh Buddhisme Chan Tiongkok pertama dan dikenal dengan nama Da Mo, di Jepang  sebagai Da Ru Ma, di Tibet sebagai Pha Dampa Sangye. Di Tiongkok beliau kadang dijuluki, “Bhiksu asing bermata biru.”
Sumber-sumber Tiongkok dan Jepang mengatakan bahwa Bodhidharma asalnya adalah seorang pangeran Persia atau mungkin perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Sumber India, tradisi Asia Tenggara dan Tibet lazimnya mengatakan bahwa ia adalah petapa suci berkulit hitam, asalnya adalah seorang pangeran Tamil, India Selatan, yang mengalami keterbangunan kundalini lalu melepas kehidupan istana dan menempuh kehidupan bhiksu.
Oleh: Agus Santoso
Ketua Majelis Budayana Indonesia DIY
https://www.bernas.id/45430-membalas-budi-ke-orang-tua

Lengkapnya https://en.wikipedia.org/wiki/Bodhidharma
Encounter with Emperor Wu of Liang
The Anthology of the Patriarchal Hall says that in 527, Bodhidharma visited Emperor Wu of Liang, a fervent patron of Buddhism:
Emperor Wu: "How much karmic merit have I earned for ordaining Buddhist monks, building monasteries, having sutras copied, and commissioning Buddha images?"
Bodhidharma: "None. Good deeds done with worldly intent bring good karma, but no merit."
Emperor Wu: "So what is the highest meaning of noble truth?"
Bodhidharma: "There is no noble truth, there is only emptiness."
Emperor Wu: "Then, who is standing before me?"
Bodhidharma: "I know not, Your Majesty."
Bertemu dengan Kaisar Wu dari Liang
The Antology of the Patriarchal Hall mengatakan bahwa pada tahun 527, Bodhidharma mengunjungi Kaisar Wu dari Liang, seorang pelindung kuat agama Buddha:
Kaisar Wu: "Berapa banyak pahala karma yang telah saya peroleh untuk menahbiskan biksu Buddha, membangun biara, menyalin sutra, dan menugaskan gambar Buddha?"
Bodhidharma: "Tidak ada. Perbuatan baik yang dilakukan dengan tujuan duniawi membawa karma baik, tetapi tidak ada jasa."
Kaisar Wu: "Jadi apa arti tertinggi dari kebenaran mulia?"
Bodhidharma: "Tidak ada kebenaran mulia, yang ada hanyalah kekosongan."
Kaisar Wu: "Lalu, siapa yang berdiri di depanku?"
Bodhidharma: "Saya tidak tahu, Yang Mulia
penjelasan jawaban 
https://www.youtube.com/watch?v=nRt8jRmD964&list=PLZZa2J4-qv-bhq6xJFZjoY4jEP9a4E2e3&index=55&t=59m7s
00:59:07.123 sd 01:00:52.654
T : Guru, saya telah mendengar bahwa ada seorang bhikkhu dengan kekuatan khusus.  Apakah kamu mengetahuinya?
J :  Saya tidak beruntung melihatnya, tetapi Yang Mulia pernah bertemu dengannya. Dia adalah Guru Dharma yang diwawancarai oleh Yang Mulia sebelumnya.
T :  Oh, tidak mungkin dia!  Dia benar-benar tidak tahu tentang pengetahuan.  Berani-beraninya dia berkata, aku tidak pantas mendapat jasa ...  dalam kontribusi saya menjadi Buddhisme!
 J : Dia memberikan jawaban yang benar.  Maafkan pendapat jujur ​​saya, Yang Mulia.  Di wajah, Anda layak mendapat manfaat dari pekerjaan Anda,  tapi mengidam Anda untuk jasa dan pujian .....  telah mengubah sifatnya.
T :  Mungkin dia benar,  tetapi ketika saya bertanya kepadanya apakah Buddha itu ada.  Dia menjawab negatif!
J : Dia juga benar untuk mengatakan itu, Yang Mulia,  Buddha tidak memiliki entitas, ia ada dalam pikiran.  Jika Anda pernah bertanya di mana Sang Buddha berada,  itu berarti Buddha tidak ada dalam pikiran Anda, apalagi kebijaksanaan Buddha.
T : Tapi dia bahkan tidak bisa menjawab siapa dia?
J : Itu karena Master Zen mencapai "altruism absolut", baginya tidak ada "makhluk" .. Dalam hal ini, ia benar-benar seorang Guru Zen yang hebat.

PLUS  Syair Huineng 

Interpretasi Syair Legendaris Zen, Master HuiNeng

Diskusi dimulai dengan moderasi seorang kawan:

Hui Neng memiliki kebijaksanaan yg tinggi walaupun tugasnya hanya memasak didapur.Hui Neng memiliki seorg abang seperguruan yg terpelajar bernama Shen Hsiu.Gurunya meminta murid2nya utk menulis sajak dan menyerahkan kpdnya.

Ini sajak Shen Hsiu,abang seperguruan Hui Neng :

BADAN INI SEBAGAI POHON BODHI

PIKIRAN LAKSANA CERMIN BERSTANDAR

RAJIN MENGGOSOK TERUS MENERUS

AGAR BERSIH TIDAK TERKENA KOTORAN.

Ini sajak Patriat ke 6 Hui Neng :

BODHI SEJATI SEBENARNYA BUKAN POHON,

DAN CERMIN JUGA TIDAK BERSTANDAR,

PADA HAKEKATNYA TIDAK ADA SESUATUPUN,

BAGAIMANA MUNGKIN MENIMBULKAN KOTORAN ?

Dari sajak ini terlihat kebijaksanaan yg tinggi dari Hui Neng dan akhirnya Beliau dinobatkan sbg Patriat Zen ke 6.

http://rawdiamondsfoundation.blogspot.com/2012/06/interpretasi-syair-legendaris-zen.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Huineng




Tentang Evolusi Spiritual =

Prediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10 
Memahami kesedemikianan = Realitas Kesunyataan & Fenomena KeberadaanPrediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10  
  
Hidup total dalam penempuhan induktif (7 dimensi?) bagi evolusi pribadi eksistensial, kebijaksanaan deduktif demi harmoni dimensi universal dan keterarahan holistik pada sinergi saddhamma transendental .... bukan hanya selfish demi ego sendiri namun selfless bagi keEsaan mandala advaita ini. dan seharusnyalah tampaknya bisa diusahakan setiap zenka berkesadaran dimanapun dimensi keberadaannya dalam segala situasi & kondisi keterbatasan dan pembatasannya sebagaimana kaidah yang diberlakukan Niyama Dhamma dalam mandala advaita ini agar tetap kokoh dalam keberadaan dan keberdayaanNya yang homeostatis, interconnected & equiliberium. Well, 7 dimensi pemurnian kesejatian= fisik, etersis, astral, kausal, monade, kosmik & nirvanik - Osho  (demi keselarasan harmonis & holistik Homo Novus Mystical Being eneagram 10 ?) 

Tantien

Pusat

Hati

Rasio

10 ?

Kalki (destroyer?)

Zorba (artistics)

Zenka? (holistics)

Ethical

Rama 7 (peaceful)

Khrisna 8 (lovely)

Buddha 9 (meditative)

Emotional

Parasurama 6 (warrior !)

Vamana 5 (insani)

Narasimha 4 (hewani)

Physical

Matsya 1 (ikan air)

Koorma 2 (amfibi kura2)

Varaha 3 (celeng darat)

Prediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10 (for the Next Mystical Being 10 ?)
1. Kalki destroyer (Ancient Hinduism Myth of dasavathara ) penghancuran addhamma di akhir yuga 4 atau hingga  menggenapi siklus pralaya samsarik rupa lokantarika Asura > progress swadika nirvanik nama lokuttara Ariya ? ironis & tragis karena kesalahan sesungguhnya bukan pada aspek khanda rupa material fisik alamiah  namun pada keburukan asava aspek nama batiniah zenkanya. / awas dosa byapada kebencian/ 
2. Zorba the Buddha (hipotesis Osho for New Man ) ? vitalisme mampu filosofis atau menjadi hedonis / awas lobha tanha ketamakan /
3. Zenka the holistics (just dream ?) ... Ariya Swadika di segala mandala / awas moha avijja kebodohan juga, lho  / 
Inilah sebabnya kami lebih suka istilah sederhana kedewasaan pencerahan ketimbang perayaan kebebasan (karena lebih : true, humble & responsible untuk tetap terjaga , menjaga & berjaga dari segala kemungkinan ... Kebenaran adalah Jalan Kita semua tetapi bukan Milik kita, Diri Kita dan Label Kita ... Anatta ? .. Well, hanya Sang Kebenaran (baca: Hyang Esa ... Tuhan Transenden dalam triade Wujud, Kuasa & KasihNya atas laten deitas keIlahianNya di segala mandala immanenNya yang nyata, mulia dan benar dalam kesempurnaanNya) yang benar. Sedangkan kita dalam keterbatasan & pembatasan yang ada memang sering bodoh, bisa saja salah, dan bahkan mungkin jatuh  namun tetap perlu segera bangkit kembali menempuh jalan benar itu dengan benar dalam niat, cara,& arah tujuannya ...  terjaga untuk evolusi eksistensial , menjaga bagi harmoni universal & berjaga demi sinergi transendental
See :  apa itu kebenaran  Bhante Pannavarro.
Well, penerimaan keterbatasan diri ini tidak dimaksudkan sebagai logical/illogical fallacy cari aman untuk rasionalisasi peninggian ide & irasionalisasi pembenaran ego bagi dalih kemalasan / pengalihan namun ini memang cara aman untuk menjaga kewaspadaan dari keterpedayaan. Membangun keseimbangan & keberimbangan dengan kebijaksanaan bukan hanya untuk tetap realistis dalam membumi namun juga  untuk tetap merealisasi transformasi diri. 

(wah ... harus revisi karya lama diri kami sebelumnya , deh ... karena kemurnian mencintai kebenaran adalah keniscayaan yang mutlak  (sudah keterarahan atau masih keterpedayaan atau dalam keterpaksaan ?) seharusnyalah ini tetap mengatasi segalanya termasuk kelihaian manipulatif pemerdayaan yang memang akan memperdayakan harmoni keselarasan bukan hanya dimensi keswadikaan diri namun juga demi kebersamaan/ kesemestaan/ kesunyataan dalam kesedemikianan desain kosmik mandala advaita ini ... sacca individual, metta universal & agape transendental as spiritual sadhana for all in 84th era dst , Sadhguru Yasudev ? 
screenshot Magical Moments at Mahashivratri 2020 @ Isha Yoga Center
Clip Sadhguru Yasudev : ts = speech 18s sd 1m5s
Welcome to Mahashivaratri 2020 
Selamat datang ke Mahashivaratri 2020
Living death is not a morbid idea 
Kematian dalam kehidupan bukanlah gagasan mengerikan 
It is a reality
Ini adalah kenyataan.
We are all living death.
Kita semua adalah kematian yang hidup.
We can say we are living or we can say we are dying and it’s not different.
Kita dapat mengatakan kita sedang hidup atau kita dapat mengatakan kita sedang mati (dan) itu bukanlah hal yang berbeda.
They’re just two different words for the same process.
Mereka hanyalah dua kata yang berbeda untuk proses yang sama
Death is not an event that happens once.
Kematian bukanlah suatu peristiwa yang terjadi satu kali.
Death is happening. It’s a process.
Kematian adalah kejadian. Dia adalah suatu proses.
One day it will be complete.
Suatu hari ini akan terlengkapi.
the most beautiful thing about life is nobody fails,  everybody shall pass .
(hal paling indah tentang kehidupan adalah tak seorangpun gagal, 
/namun demikian/ setiap orang hendaklah melaluinya /bertahan & berjuang hingga berhasil .?/ )

2. Menghadapi Kehidupan :  kecakapan, kemapanan, kewajaran
Data lama :

Sanatana Dhamma dalam kompleksitas Realitas Fenomena 
a. Transendensi Keabadian Universal
Terjagalah ! Transendensi kehadiran demi keabadian : vs niyama dhamma via media
senantiasa ada dampak dari pandangan, tindakan dan capaian
tataran pencapaian > progress penempuhan > kefahaman pengetahuan
b:Harmonisasi Keberadaan Eksistensial
Menjagalah ! Harmonisasi dalam kehidupan : vs peran eksistensial
sedaka sutta : menjaga diri & orang lain
anjali/namaste : menghormati esensi murni didalam > segalanya interconnected (orang lain adalah diri kita sendiri dalam peran yang berbeda) demikian juga alam dsb. 
Untuk layak mekarnya bunga transendental ,kemantapan akar eksistensial sila dan batang kasih universal harus tumbuh berkembang baik menunjang dahan bhavana penembusan dan pencerahan di internal dan juga ke eksternal.
c. Eskatologi (kiamat akhir zaman ?) Kelanjutan Spiritual
Berjagalah ! Eskatologi untuk kematian : vs bardo (1 chikhai - 2 conyid - 3 sidpa bardo)
Kehidupan tidak pasti, kematian pasti 
pencerahan masih mungkin diusahakan kala kematian (pandangan Mahavira jainisme bukan Guru Padmasambhava Tibetan Buddhism... maaf ~ AK).
Inilah pentingnya kemurnian brahma vihara yang bukan hanya memurnikan dana sila Dhamma Vihara sepanjang kehidupan dan (plus desana) menumbuh kembangkan potensi  tihetuka (alobha adosa amoha) yang akan juga menunjang kecakapan penembusan  meditatif  pemurnian batin Ariya Vihara dalam menyambut kematian. 

Belajar spiritualitas secara mendalam dan meluas memang sangat mengasyikan namun perlu kedewasaan dan keberimbangan agar bukan hanya tidak melengahkan/mengacaukan aktualisasi tanggung jawab eksistensial kehidupan kita namun juga agar dalam penempuhan spiritualitas keabadian tidak justru malah kontraproduktif (istilah kontroversi kami 'ter-alienasi', jadzab ?- 'ngedan ngelmu'?').  Suatu kondisi dimana kita tidak lagi samvega tergugah dalam penempuhan namun justru merasa galau dikarenakan ada gap antara realitas target ideal aneka kaidah spiritualitas / akidah religiusitas tertentu dengan segala faktisitas kompleks keberadaan kita yang memang terbatas dan terbatasi situasi dan kondisi  yang ada dan nyata.  Oleh karena itu ... sambil terus meng-upload aneka referensi files spiritualitas yang kami rasa perlu untuk dishare (juga aneka files kehidupan lainnya) dan menyelesaikan posting Quo Vadis (yang sudah terlanjur dipublish) ; kami merasa perlu mengajukan juga paradigma alternatif pribadi tentang konsep Parama Dharma, desain Mandala Advaita dan Formula Swadika yang senantiasa terupdate terus menerus sesuai dengan aneka macam referensi masukan dan refleksi renungan dalam setiap perjalanan kehidupan dan penjelajahan keabadian ini.  Perlu sikap benar, sehat dan tepat bagi kita untuk memandang permasalahan secara berimbang dengan harmonis & holistik agar tidak ambisius tenggelam dalam arus kehidupan namun juga tidak obsesif terhanyutkan banyak konsep pandangan yang ada dengan segala tuntunan (tuntutan?) idealitas kesempurnaannya. 

 

Well, ini akan jadi menarik juga untuk kembali membumi sebagaimana sebelumnya menghadapi kompleksitas kenyataan hidup bersama lainnya dalam wisdom kewajaran eksternal dengan gnosis kesadaran internal tersebut. Setelah mendaki bersama Buddha ini saatnya bagaimana menari bersama Shiva. 

The disaster in this planet is not an earthquake, not volcano, not a tsunami.
The true disaster is human ignorance. This is the only disaster. Ignorance is the only disaster.
Enlightenment is the only solution, there is really no other solution, please see -You need a subjective perception of life.
so spiritual process if it has become alive … this is not about renunciation. This is just about living sensibily.

Bencana di planet ini bukanlah gempa bumi, bukan (letusan) gunung berapi, bukan tsunami.
Bencana sebenarnya adalah ketidaktahuan manusia. Ini satu-satunya bencana. Ketidaktahuan adalah satu-satunya bencana. 
Pencerahan adalah satu-satunya solusi, benar-benar tidak ada solusi lain, silakan lihat -Anda membutuhkan persepsi subjektif tentang kehidupan.
Jadi proses spiritual jika telah menjadi hidup… ini bukan (hanya?) tentang pelepasan keduniawian. Ini (tepatnya?) hanya tentang hidup dengan bijaksana

KEMBALI MEMBUMI 
Well, ini akan jadi menarik juga untuk kembali membumi sebagaimana sebelumnya menghadapi kompleksitas kenyataan hidup bersama lainnya dalam wisdom kewajaran eksternal dengan gnosis kesadaran internal tersebut. Setelah mendaki bersama Buddha ini saatnya bagaimana menari bersama Shiva. 
No, terma 'falling to the bottomless pit' ( menjatuhkan diri ke lubang/jurang tak berdasar ... guyonan Sadhguru) ini jangan payah diterima wantah , kita akan menuruni lembah kewajaran dengan kesadaran .. itu maksud beliau tampaknya. (kepekaan daya tanggap intuitif tidak sekedar keahlian daya tangkap intelektual). 
Just joke, 

jika saja semuanya memang harus kembali ke nibbana apa artinya permainan alami akan keterlelapan samsara bagi mandala ini ?  
jika saja semuanya hanya perlu mengembara di samsara apa artinya kerinduan azali akan keterjagaan nibbana bagi mandala ini ? 

Semoga guyonan ini tidak dianggap memanjakan kenaifan /keliaran kita untuk memperdayakan amanah kebebasan spiritual yang diberikan apalagi untuk mementahkan samvega ketergugahan/kemendesakan spiritualitas bagi semuanya karena tanpa kepastian transformasi kebenaran, kebajikan dan kebijakan yang sejati bukan hanya evolusi pribadi namun juga harmoni dimensi hampir tidak akan mungkin terjadi .... walaupun memang tiada guna menyesali kegagalan yang terjadi agar tetap  perwira bertanggung jawab, senantiasa bijaksana memperbaiki dan semakin berdaya menyempurnakan evolusi diri dengan menjaga juga harmoni dimensi

Well,... jika tidak berkenan .... sebaiknya anda tak perlu meneruskan membaca ini ...

the most beautiful thing about life is nobody fails, everybody shall pass .(hal paling indah tentang kehidupan adalah tak seorangpun gagal, /namun demikian/ setiap orang hendaklah melaluinya /bertahan & berjuang hingga berhasil .?/ ) 


Kebodohan kita 
link video 
link data : 
Pro Buddhism ?  Dalai Lama  show / save
No Buddhism ? Herman Hesse  save
Ina : link sementara :  0a) (show) or  0b)(show)

Hanya bermodalkan sedikit referensi intelektual pengetahuan & inferensi imaginatif  kemungkinan kami jujur saja bukanlah 'otoritas' yang layak untuk membabarkan realitas ini.  Namun demikian sekedar share... okelah ... walaupun memang kurang bonafide memadai (dari sisi qualified & certified) kami akan berbagi semampu yang bisa dilakukan.
See :slogan pacceka 
Amor Dei, Amor Fati  
(Jika cinta Tuhan cintailah juga GarisNya.)  
Dhammo have rakkhati dhammacarim 
(Dharma kebenaran akan melindungi para penempuhNya ) 
Gate Gate Paragate Parasamgate .... Bodhi Svaha 
(lampaui delusi apaya, sensasi surga, fantasi brahma ... murni terjaga, berjaga dan menjaga)  
Appamadena Sampadetha 
(berjuanglah untuk tidak lengah sebagai/selayak/selaras ariya)  
BE RESPONSIBLE  
bertanggung jawablah 
BE HUMBLE 
(dalam) kerendah-hatian 
BE TRUE 
(untuk menjadi) sejati

Sikap Batin Dasar : Be Realistics to Realize the Real 
Menjadi spiritual (kemurnian autentik) tidak sekedar mengemas kesalehan estetik religius
 Untuk waspada (kaidah keutamaan > konsep kebenaran > trick kelihaian ) 
Demi konsistensi & kontinuitas 'ovada paccceka? maka Kaidah etika  keutamaan tidak sebatas klaim konsep kebenaran apalagi sekedar trick kelihaian pembenaran 'sacred monistics' perlu ditekankan & ditegaskan. Ini dimaksudkan sama sekali bukan untuk menyinggung/ menyangkal kepercayaan normatif religius kita selama ini namun justru demi mendukung bahkan meningkatkan keberdayaan autentik spiritual kita selanjutnya. In short , agar senantiasa terjaga dalam kebenaran evolutif , menjaga kebersamaan semuanya & berjaga dari segala kemungkinan ...... bukannya terjatuh dalam semunya keterpedayaan, naifnya ketersesatan apalagi liarnya pengrusakan bukan hanya diri sendiri namun bahkan juga lainnya. 
Be True : 
vs kesemuan : kesombongan berpandangan / beranggapan ( identifikatif ?)
mencela itu tercela./mencela itu tercela bukan hanya untuk yang tidak selayaknya dicela bahkan juga jikapun dianggap layak untuk itu awas kesombongan, jaga keseimbangan demi kebijaksanaan akan Kesunyataan holistik /
Ada keyakinan semu yang mengajarkan bahwa kita sering menganggap / dipandang mulia ego kita jika bisa berbangga diri apalagi jika menista lainnya ? 
Sesungguhnya tidak perlu mengkambing-hitamkan setan, mara  & derivatnya (dajjal, lucifer, kafir, etc), karena sejujurnya kenaifan & keliaran ego kita sudah cukup parah & payah untuk merusak diri sendiri dan alam semesta ini tanpa perlu godaan atau cobaan siapapun juga. Well, jika mereka yang "tercela" tersebut memiliki integritas etika yang lebih baik & maju mereka pastilah akan berprihatin dengan kenaifan berpandangan ini ... sebaliknya jika moralitas norma mereka tidak cukup baik mereka tentulah akan tertawa karena kejatuhan bersama akan keliaran prilaku ini..
Be Humble : 
vs kenaifan : terjaga untuk terus memberdaya & tidak mudah terpedaya (magga phala & ritual ibadah ?)
Untuk menjadi ahli & suci memang mutlak diperlukan kearifan & kebaikan .... namun tidak jaminan setelah level keahlian & kesucian tercapai bisa dipastikan kearifan & kebaikan akan mengikuti. 
Be Responsible :  
vs keliaran manipulatif : senantiasa terjaga, menjaga & berjaga dari segala kemungkinan( pengampunan/penrebusan & ahosi karma/ 'kiriya' monistik )
metta karuna > schaden freude ?
 
Realitas Kesunyataan
Episode Samsarik
Intelgensi 

2a. kecakapan, 

survival, financial, universal 
kecakapan :
Memastikan persada kesiagaan ( kemapanan ekonomi , sosial, etc ) untuk  mandiri , santuti dan berbagi.  
mandiri : 
kemantapan subsistensi mandiri, kontribusi sesama & emergency darurat
bekerja, berusaha hingga walaupun tetap mau & mampu menjalani ibadah lumrah bekerja namun sesungguhnya telah berada dalam level asset yang mantap dimana tidak perlu lagi bekerja (sudah mampu mencukupi kebutuhan, meluangkan kontribusi dll dari assset deposit/benefit dirinya - kuadaran kecerdasan finansial kiyosaki 4)  bukan karena tidak mau bekerja karena kemalasan (walau ada kesempatan)  atau sudah tidak mampu lagi bekerja karena keterbatasan (usia tua, sakit dll)
ataupun  bagi yang sedang & sudah menjalani Samana Dhamma sebagai pabajita ataupun ordo pelayanan monastik & humanistik lainnya. (sudah terjamin dalam kontribusi umat, warga, dsb) 
santuti 
bersahaja (sederhana sebatas kebutuhan>keinginan>ketamakan) 
Well, dunia kehidupan ini sesungguhnya mampu mencukupi  semuanya  dengan kelimpahan, kedamaian & kebahagiaan namun tidak akan mampu untuk memenuhi keserakahan, kesombongan dan kesewenangan seorang manusia sekalipun
berbagi (caga/dana) = 
kesediaan melepas, berbagi & memberi  
Orang lain (lebih luas makhluk lain) adalah diri kita sendiri yang kebetulan saja saat ini menjalankan peran yang berbeda  

2c. kewajaran

Video :Kewajaran Pembumian (deduktif  pengetahuan) dengan kecakapan spiritual ? SHIVA Vitalitas interaktif menari dengan kehidupan nyata

empati, harmoni & sinergi : bisa ngemong tidak asal ngomong
empati  :
harmoni , :
sinergi :
dari : 
Disamping kemantapan eksistensial dalam peran duniawi saat ini (citra persona biasa saja, smart skill bisa juga, asset hidup cukup) ; jangan lupa (ini justru yang utama)  siagakan untuk kelanjutan perjalanan kehidupan nantinya (level swadika keariyaan , bakat talenta kecakapan & hisab visekha kelayakan ). Sedangkan,  untuk kenyamanan keseluruhannya : berempati (pada dasarnya semuanya sama saja ... laten deitas dari Sentra sejati yang sama hanya beda label & level pada dimensi mandala pada saat ini . Well, orang lain / makhluk lain adalah sebagaimana diri kita sendiri namun saat ini berada dalam peran yang berbeda .... walau respek dalam metta atas casing 'dagelan' nama rupa masing-masing memang tetap perlu diperhatikan sesuai skenario kehidupan yang berlangsung ... tidak anggep 'arogan" & norak tranyakan ), menjaga harmoni dan bersinergi dalam kebersamaan & kesemestaan ini. 


3. Menghadapi Kematian : Racut , Bardo , Alam 


Link video : Kesadaran Nekhama  (induktif  penempuhan)  demi kearhatan spiritual? BUDDHA  Integritas autentik menuju peniscayaan kesejatian murni

Ingat, tanpa menafikan peran kebersamaan universal manusiawi kita sebagai faber mundi (pemberdaya peradaban) di bumi, pada dasarnya kita hanyalah viator mundi (pengembara yang singgah bukan penghuni tetap) dalam kehidupan duniawi kita saat ini dengan casing peran persona dagelan nama-rupa samsarik untuk keberlanjutan kehidupan berikutnya lagi. Jagalah keberkahan di bumi dan bawalah keberkahan untuk saat nanti. Sebagaimana tuning frekuensi gelombang arus kesadaran, tanpa menafikan akumulasi karmik sebelumnya konsistensi sikap, tindakan dan capaian diri saat ini akan berdampak pada konsekuensi yang akan diterima nanti demikian seterusnya.


3a. Racut 
Lullaby Song of  Madalasa Upadesha from The Mārkaṇḍeya Purāṇa … 
Kidung Nina Bobo Ratu Madalasa kepada puteranya (Rshi Markandeya) 

Verse 1
śuddhosi buddhosi niraɱjano’si //saɱsāramāyā parivarjito’si// saɱsārasvapnaɱ tyaja mohanidrāɱ// maɱdālasollapamuvāca putram|
Madalasa says to her crying son:// “You are pure, Enlightened, and spotless. //Leave the illusion of the world // and wake up from this deep slumber of delusion”
Madalasa berkata kepada putranya yang menangis: //“Anda murni, Tercerahkan, dan tidak bernoda.// Tinggalkan ilusi dunia dan //bangun dari tidur nyenyak delusi ini "
Verse 2
śuddho’si re tāta na te’sti nāma // kṛtaɱ hi tatkalpanayādhunaiva|//paccātmakaɱ dehaɱ idaɱ na te’sti //naivāsya tvaɱ rodiṣi kasya heto||
“My Child, you are Ever Pure! You do not have a name. //A name is only an imaginary superimposition on you.//This body made of five elements is not you nor do you belong to it.//This being so, what can be a reason for your crying ?”
“Anakku, kamu Selalu Murni! Anda tidak punya nama.// Nama hanyalah lekatan khayal  yang dikenakan pada Anda. // Tubuh yang terbuat dari lima elemen ini bukanlah Anda dan bukan pula milik Anda. // Karena itu, apa yang menjadi alasan Anda menangis? "
Verse 3
na vai bhavān roditi vikṣvajanmā //śabdoyamāyādhya mahīśa sūnūm|//vikalpayamāno vividhairguṇaiste //guṇāśca bhautāḥ sakalendiyeṣu||
“The essence of the universe does not cry in reality. // All is a Maya of words, oh Prince! Please understand this. //The various qualities you seem to have are are just your imaginations, //They belong to the elements that make the senses (and have nothing to do with you).”
“Esensi alam semesta tidak menangis dalam Realitas kenyataan. // Semuanya adalah kata-kata Maya, oh Pangeran! Mohon mengerti ini. // Berbagai kualitas yang tampaknya Anda miliki hanyalah imajinasi Anda, // Mereka termasuk dalam elemen yang membuat indra (dan tidak ada hubungannya dengan Anda). ”
Verse 4
bhūtani bhūtaiḥ paridurbalāni // vṛddhiɱ samāyāti yatheha puɱsaḥ| // annāmbupānādibhireva tasmāt //na testi vṛddhir na ca testi hāniḥ||
“The Elements [that make this body] grow with accumulation of more elements, or//Reduce in size if some elements are taken away //This is what is seen in a body’s growing in size or becoming lean depending upon the consumption of food, water etc. //YOU do not have growth or decay.”
“Unsur-unsur [yang membuat tubuh ini] tumbuh dengan akumulasi lebih banyak unsur,//  atau Kurangi ukurannya jika beberapa elemen diambil  // Inilah yang terlihat pada tubuh yang membesar atau menjadi kurus bergantung pada konsumsi makanan, air, dll.//  KAMU tidak memiliki pertumbuhan atau kerusakan. "
Verse 5
tvam kamchuke shiryamane nijosmin // tasmin dehe mudhatam ma vrajethah| //shubhashubhauh karmabhirdehametat //mridadibhih kamchukaste pinaddhah||
“You are in the body which is like a jacket that gets worn out day by day. // Do not have the wrong notion that you are the body. //This body is like a jacket that you are tied to, // For the fructification of the good and bad Karmas.”
“Anda berada di dalam tubuh yang seperti jaket yang semakin hari semakin aus. // Jangan salah paham bahwa Anda adalah tubuh. // Tubuh ini seperti jaket yang diikat, // Untuk fruktifikasi dari karma baik dan buruk. "
Verse 6
tāteti kiɱcit tanayeti kiɱcit // aɱbeti kiɱciddhayiteti kiɱcit| // mameti kiɱcit na mameti kiɱcit //tvam bhūtasaɱghaɱ bahu ma nayethāḥ||
“Some may refer to you are Father and some others may refer to you a Son or //Some may refer to you as Mother and some one else may refer to you as Wife. // Some say “You are Mine” and some others say “You are Not Mine” // These are all references to this “Combination of Physical Elements”, Do not identify with them.”
“Beberapa mungkin menyebut Anda adalah Ayah dan beberapa lainnya mungkin merujuk Anda sebagai Putra atau // Beberapa orang mungkin menyebut Anda sebagai Ibu dan beberapa orang lain mungkin menyebut Anda sebagai Istri.//  Beberapa orang mengatakan "Kamu adalah milikku" dan beberapa lainnya mengatakan "Kamu bukan milikku"//  Ini semua adalah referensi ke "Kombinasi Elemen Fisik", Jangan identifikasi dengannya. "
Verse 7
sukhani duhkhopashamaya bhogan //sukhaya janati vimudhachetah| // tanyeva duhkhani punah sukhani //janati viddhanavimudhachetah||
“The ‘deluded’ look at objects of enjoyment,  // As giving happiness, by removing the unhappiness. // The ‘wise’ clearly see that the same object // Which gives happiness now will become a source of unhappiness.”
“Pandangan yang 'tertipu' pada objek kenikmatan, // Seperti memberi kebahagiaan, dengan menghilangkan ketidakbahagiaan. // Orang 'bijak' dengan jelas melihat objek yang sama // Yang memberi kebahagiaan sekarang akan menjadi sumber ketidakbahagiaan. "
Verse 8
yānaɱ cittau tatra gataśca deho // dehopi cānyaḥ puruṣo niviṣṭhaḥ| // mamatvamuroyā na yatha tathāsmin // deheti mātraɱ bata mūḍharauṣa|
“The vehicle that moves on the ground is different from the person in it //  Similarly this body is also different from the person who is inside! // The owner of the body is different from the body. // Ah how foolish it is to think I am the body!”
“Kendaraan yang bergerak di tanah berbeda dengan orang di dalamnya // Demikian pula tubuh ini juga berbeda dengan orang yang ada di dalam! // Pemilik tubuh berbeda dengan tubuh. // Ah betapa bodohnya menganggap aku adalah tubuh! "

just  image
Sanskrit : śuddhosi buddhosi niraɱjano’si //saɱsāramāyā parivarjito’si// saɱsārasvapnaɱ tyaja mohanidrāɱ// 
English : “You are pure, Enlightened, and spotless. //Leave the illusion of the world // and wake up from this deep slumber of delusion”//
Indonesian :“Anda murni, Tercerahkan, dan tidak bernoda.// Tinggalkan ilusi dunia dan //bangun dari tidur nyenyak delusi ini "
S (Sk) : Maɱdālasollapamuvāca putram|
E (Eng) : Madalasa says to her crying son://
I (Ina) : Madalasa berkata kepada putranya yang menangis:
Racut : Kecakapan Proyeksi  
Bersiaga dalam kematian  
Menyadari dimensi pribadi - 
Living in Dying - 
pelatihan kematian etc             
Link data : 
Link video :

3b. Bardo
video chant ema bardo dihapus ? (video pribadi ?) Hehehe... masih ada. 
 
Teks ini adalah ajaran Padmasambhava, di mana dia mengingatkan kita bagaimana membebaskan diri kita di enam Bardo yang berbeda. Buddhisme Tibet mengacu pada enam Bardo sebagai keadaan transisi; 1. bardo kehidupan ini, 2. bardo dari mimpi, 3. bardo dari meditasi, 4. bardo dari kematian, 5. bardo dari dharmata, dan 6. bardo dari penjadian. Di setiap bardo ada petunjuk yang jelas tentang apa yang harus kita lakukan saat kita mengalami keadaan ini untuk mencapai pembebasan. Syair ayat di sini adalah instruksi singkat dari Pelatihan Dakini Rahasia Bunda Tantra Kesempurnaan Agung. Syairnya dimulai dengan Ema yang artinya, "whoa, this is for real! (Wah?, ini /untuk yang/ nyata!").
Google translate modified 

Bardo Song of Reminding Oneself
translated by Erik Pema Kunsang,
melody: Tara Trinley Wangmo,
vocals: Sascha Alexandra Aurora Sellberg & Rodrigo Reijers.
Lagu Bardo untuk Mengingatkan Diri Sendiri
diterjemahkan oleh Erik Pema Kunsang,
melodi: Tara Trinley Wangmo,
vokal: Sascha Alexandra Aurora Sellberg & Rodrigo Reijers.
from the Secret Dakini Training Mother Tantra of the Great Perfection
dari Pelatihan Dakini Rahasia Bunda Tantra dari Kesempurnaan Agung

Ema!
Now that while the bardo of this lifetime is unfolding,
I will not be lazy since there is no time to waste.
Enter nondistraction’s path of hearing, thinking, training,
While it is just now I have the precious human form.
Since this free and favored form ought to have real meaning,
Emotion and samsara shall no longer hold the reign.
Ema!
Sekarang sementara bardo dari kehidupan ini sedang berlangsung,
Saya tidak akan malas karena tidak ada waktu untuk disia-siakan.
Memasuki jalur tanpa gangguan dari pendengaran, pemikiran, pelatihan,
Sementara sekarang aku memiliki wujud manusia yang berharga.
Karena bentuk yang bebas dan disukai ini hendaknya memiliki makna yang nyata,
Emosi dan samsara tidak lagi memegang kekuasaan.

Ema!
Now that while the bardo of the dreamstate is unfolding,
I will not sleep like a corpse, so careless, ignorant.
Knowing everything is self-display, with recognition,
Capture dreams, conjure, transform, train lucid wakefulness.
Instead of lying fast asleep like animals are sleeping,
I will use the Dharma just as in the waking state 
Ema!
Sekarang sementara bardo dari keadaan mimpi sedang berlangsung,
Aku tidak akan tidur seperti mayat, begitu ceroboh & bodoh cuek (tanpa tahu)
Mengetahui segalanya adalah tampilan diri, dengan pengakuan,
menangkap impian, sulapan, pengubahan, pelatihan kesadaran yang jernih.
Daripada tidur nyenyak seperti binatang yang sedang tertidur,
Saya akan menggunakan Dharma seperti dalam kondisi terjaga.

Ema!
Now that while the meditation bardo is unfolding,
I will set aside every deluded wandering.
Free of clinging, settled within boundless nondistraction,
I’ll be stable in completion and development.
As I’m yielding projects to the single-minded training,
Delusion and unknowing shall no longer hold the reign.
Ema!
Sekarang sementara meditasi bardo sedang berlangsung,
Aku akan mengesampingkan setiap pengembaraan yang memperdaya.
Bebas dari kemelekatan, menetap dalam ketidak-teralihkan yang tanpa terbatas,
Saya akan stabil dalam penyelesaian dan pengembangan.
Saat saya menyerahkan rencana pada pelatihan pikiran terpusat,
Delusi dan ketidaktahuan tidak akan lagi memegang kendali.

Ema!
Now that while the bardo of the death-state is unfolding,
I will cast away attachment, clinging to all things.
Enter undistractedly the state of lucid teachings,
Suspending as a vast expanse this nonarising mind.
Leaving this material form, my mortal human body,
I will see it as illusion and impermanent.
Ema!
Sekarang sementara bardo dari kondisi kematian sedang berlangsung,
Saya akan membuang kemelekatan, yang melekat pada segala hal.
Masuk dengan tanpa gangguan pada keadaan ajaran yang nyata /jernih,
Menangguhkan sebagai suatu hamparan luas pikiran yang tidak lagi muncul ini.
Meninggalkan bentuk materi ini, tubuh manusia fana saya,
Saya akan melihatnya sebagai ilusi dan tidak kekal.

Ema!
Now that while the bardo of dharmata is unfolding,
I will hold no fear or dread or panic for it all.
Recognizing everything to be the bardo’s nature,
Now the time has come for mastering the vital point.
Colors, sounds and rays shine forth, self-radiance of knowing,
May I never fear the peaceful-wrathful self-display.
Ema!
Sekarang sementara bardo dari dharmata sedang berlangsung,
Aku tidak akan takut , gentar atau panik untuk itu semua.
Mengakui segalanya sebagai sifat bardo,
Sekarang waktunya telah tiba untuk menguasai poin penting.
Warna, suara, dan sinar bersinar, pancaran kesadaran sendiri,
Semoga saya tidak pernah takut pada tampilan diri yang penuh amarah dan damai.

Ema!
Now that while the bardo of becoming is unfolding,
I will keep the lasting goal one-pointedly in mind.
Reconnecting firmly with the flow of noble action,
I will shut the womb-doors and remember to turn back.
Since this is the time for fortitude and pure perception,
I will shun wrong views and train the guru’s union-form.
Ema!
Sekarang sementara bardo penjelmaan sedang berlangsung,
Saya akan mengingat tujuan abadi dengan satu tujuan.
Berhubungan kembali dengan kuat dengan aliran tindakan mulia,
Aku akan menutup pintu rahim dan ingat untuk kembali.
Karena inilah waktunya untuk ketabahan dan persepsi murni,
Saya akan menghindari pandangan yang salah dan melatih bentuk persatuan (dengan) guru.

If I keep this senseless mind that never thinks of dying,
And continue striving for the pointless aims of life,
Won’t I be deluded when I leave here empty handed?
Since I know the sacred Dharma is just what I need,
Shouldn’t I be living by the Dharma right this moment,
Giving up activities that are just for this life?
Jika saya menyimpan pikiran tidak masuk akal yang tidak pernah berpikir tentang kematian,
Dan terus berjuang untuk tujuan hidup yang tidak berarti,
Apakah saya tidak akan tertipu ketika saya pergi dari sini dengan tangan kosong?
Karena saya tahu Dharma suci adalah yang saya butuhkan,
Bukankah seharusnya saya hidup berdasarkan Dharma saat ini,
Memasrahkan kegiatan  yang hanya untuk hidup ini?

These are the instructions which the gracious guru told me.
If I do not keep the guru’s teachings in my heart,
How can this be other than myself fooling myself?
Ini adalah instruksi yang dikatakan oleh guru mulia  itu kepada saya.                 
Jika saya tidak menyimpan ajaran guru di hati saya,
Bagaimana dapat ini bisa terjadi lainnya selain diriku yang membodohi diriku sendiri

Bardo : Kecakapan 
Bersiaga dalam naza kematian alamiah : aware consciously meditatif x neurotic paranoid 
jaga karma kebiasaan (sila/citta visuddhi dibba /brahma vihara etc) -  awas karma menjelang kematian (+ karma lampau produktif ?)
tanpa moha kebingungan alami (vs hewan) ; tiada lobha kemelekatan pengharapan semu (vs petta) ; tanpa dosa liar kebencian (vs niraya)
dengan keberdayaan atasi bardo hingga level optimal yang mampu dicapai (tepatnya : layak didapat ... dan karenanya memang harus rela diterima) 
versi Buddhist ? manusa > svarga < brahma 4 < suddhavasa < lokuttara nibbana

Naza : awas nimitta bhavanga 3 (
Bardo proses umum non meditator : 
Sial, umumnya tidak bisa melintasi jhana brahma bardo 1 ; (bardo 2 liburan kesurga ? belum cukup murni berlimpah akumulasi  deposito karma baik +  banyak tanggungan kredit karma buruk /miccha ditti ?) ; bardo 3 beruntung lahir kembali sebagai manusia atau harus terlempar  keapaya (dampak MLD) atau terdampar di alam penantian  hingga rebirth baru/ pralaya dunia ?
proses khusus meditator (mystics, Buddhist, etc) :
selamat berjuang  hingga tujuan yang mungkin lebih baik untuk bisa dicapai ; (salam dari padaparama dihetuka bagi neyya tihetuka / yogi meditator ) 
Next
jika terdampar di apaya  hidup sbg peta maka dengan upekkha kembangkan mudita (sikap apresiatif/positif atas niatan tindakan kebaikan lainnya) brahma vihara walau sulit. jika terlempar di apaya lainnya maka dengan upekkha kembangkan metta brahma vihara ( kewajaran kosmik untuk aktualisasi kesadaran kasih universal sebagaimana kesedemikiannya kaidah impersonal transenden niyama dhamma  atas personal imanen terus berlaku walau tak butuh diakui dan tak sekedar bisa diyakini ) walau jelas sangat sulit.
jika hidup di surga hidup sbg dewa maka dengan upekha kembangkan karuna (welas asih berbagi bahagia) & potensi tihetuka (alobha adosa amoha prasyarat meditator Jalan Kesucian); tidak  mengumbar nafsu , dusta & sengketa (issa machariya-serakah mendengki apalagi membenci tidak juga menghalangi/ menyesatkan) (termasuk tridewa Mara- yama - asura atas triloka tusita ,tavatimsa,dunia ?) walau juga sulit. Wilayah kamavacara memang corrupted, Saka... bukan hanya pemenuhan kebutuhan, sekedar keinginan diri namun juga kekuasaan atas lainnya. Walau potentially segalanya akan berdampak jika telah masak/layak, Samsara memberikan kebebasan bukan hanya bagi Dhamma namun juga addhamma, tidak hanya agar terbebas dari jeratnya namun juga  tetap tersekap didalamnya…. Itulah kenyataan sesungguhnya  dari semuanya tanpa perlu menyalahkan atau membenarkan siapapun/apapun saja. 
Jika hidup di brahma jangan terlelap dalam kebahagiaan yang lebih dalam dari kenikmatan indrawi/ kehikmatan laduni tetap terjaga,menjaga dan berjaga untuk pengembangan kelanjutannya. walau juga sulit.
Jika bisa tiba di wilayah kesadaran non samsarik alam antara suddhavasa selesaikan perjalanan pulang kerumah sejati atasi delusi mimpi citta 'aku' di halte ini.walau juga sulit.
Jika telah tiba di wilayah kesadaran non alam samsarik nibbana... congrats. Selamat atas keterjagaan dari perjalanan tidur panjang penuh mimpi. selamat datang di rumah sejati esensi murni.
Sikapi "Kebebasan" ini sebagai kebenaran pencerahan berkelanjutan bukan perayaan ke"aku'an untuk lengah terlelap lagi. Walaupun karena magga phala meniscayakan keberadaan & tindakan kiriya yang suci (selama belum parinibbana khanda Ariya Buddha tetap tidak terbebas dari 12 dampak karmik buruk kehidupan lampauNya juga Bhante Moggalana. Bhikkhu arahata sekalipun tetap bisa melakukan kesalahan (terinjaknya serangga oleh arahata karena buta, peraturan vinaya sanghadisesa merukunkan duniawi ?) walau tanpa sengaja/ tak diketahui. Namun totally, inilah realisasi dambaan neyya buddhist untuk terbebas dari dukkha .... terjaga dari mimpi samsarik. Pulang kembali ke rumah sejati. Hanya yang telah melampaui (ariya nibbana) bisa menghadapi kembali (samsara) dengan lebih baik lagi (kiriya x karma) dan karenanya wilayah samsara ini tidak lagi tepat bagi yang telah lulus/ lolos darinya. Keswadikaan nyata yang bukan hanya melampaui penderitaan namun juga kebahagiaan. (magandiya sutta)
By the way, just kidding ... ada  versi/type samsara baru di wilayah ini ? samsara ini saja yang walau hanya delusif tidak chaotik sudah cukup menyusahkan kita dalam memahaminya  apalagi layak menembus dan melampauinya. Niyama Dhamma memang cukup mantap menjaga kaidah kosmik secara impersonal transenden... namun ketidak-segeraan dampak karmik, keterlupaan memory pra rebirth terlebih lagi tampak begitu 'rea'l-nya delusif fantasi keberadaan attha pada nama figur mimpi & sensasi kebahagiaan akan rupa (sulit untuk parichedanana?) benar-benar melengahkan dan menyesatkan (dan bahkan  karena ketidak mengertiannya tidak sengaja apalagi terencana  bukan hanya tidak mencerahkan namun bahkan saling menyesatkan lainnya walaupun dengan kepolosan, ketulusan dan kesadaran ).


3c. Alam 
Alam : Transit Dimensi 
Prajñāpāramitā
kebijaksanaan agung prajna paramita


Oṁ! Namo Bhagavatyai Ārya-Prajñāpāramitāyai!
Om | Aku memuliakan Sang Ariya Guru Suci yang telah mencapai kebijaksanaan agung prajna paramita
Ārya-Avalokiteśvaro Bodhisattvo, gambhīrāṁ prajñāpāramitā caryāṁ caramāṇo,
Sang Ariya Bodhisatva  Avalokiteśvara saat itu berdiam di dalam praktik kebijaksanaan agung prajna paramita,
vyavalokayati sma panca-skandhāṁs tāṁś ca svabhāvaśūnyān paśyati sma.
melihat ke dalam lima skhanda (agregat = pikiran dan tubuh / nama rupa ) dan ternyata mereka kosong dari sifat-diri

Iha, Śāriputra, rūpaṁ śūnyatā, śūnyataiva rūpaṁ;
Di sini, Wahai Śāriputra, wujud adalah kekosongan, kekosongan adalah wujud;
rūpān na pṛthak śūnyatā, śunyatāyā na pṛthag rūpaṁ;
kekosongan tidak berbeda dengan wujudwujud tidak berbeda dengan kekosongan;
yad rūpaṁ, sā śūnyatā; ya śūnyatā, tad rūpaṁ;
Segala apapun wujudnya, itu adalah kekosongan; Segala apapun kekosongan yang ada, itu adalah wujud.
evam eva vedanā-saṁjñā-saṁskāra-vijñānaṁ.
Begitu juga sama halnya untuk perasaan, persepsi, proses kemauan dan kesadaran.

Iha, Śāriputra, sarva-dharmāḥ śūnyatā-lakṣaṇā,
Di sini, Wahai Śāriputra, segala dharma bersifat kosong , 
anutpannā, aniruddhā;
Tanpa kemunculantiada pula kelenyapan ;
amalā, avimalā;
Tanpa ketiada-nodaan, tiada pula ketidakmurnian;
anūnā, aparipūrṇāḥ
Tanpa adanya kekurangan, tiada pula kelengkapan

Tasmāc Śāriputra, śūnyatāyāṁ
Karena itu, Wahai Śāriputra,  dalam kekosongan itu
na rūpaṁ, na vedanā, na saṁjñā, na saṁskārāḥ, na vijñānam;
tidak ada bentuk, tidak ada perasaan, tidak ada persepsi, tidak ada proses kehendak, tidak ada kesadaran;
na cakṣuḥ-śrotra-ghrāna-jihvā-kāya-manāṁsi;
tidak ada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh atau pikiran;
na rūpa-śabda-gandha-rasa-spraṣṭavya-dharmāḥ;
tidak ada bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, pikiran;
na cakṣūr-dhātur yāvan na manovijñāna-dhātuḥ;
tidak ada elemen mata (dan seterusnya) hingga tidak ada elemen kesadaran-pikiran;
na avidyā, na avidyā-kṣayo yāvan na jarā-maraṇam, na jarā-maraṇa-kṣayo;
tidak ada ketidaktahuan, tidak ada kehancuran ketidaktahuan (dan seterusnya) hingga tidak ada usia tua dan kematian,
na duḥkha-samudaya-nirodha-mārgā;
tidak ada kehancuran usia tua dan kematian; tidak ada penderitaan, kemunculan, lenyapnya, jalan;
na jñānam, na prāptir na aprāptiḥ.
tidak ada pengetahuan, tidak ada pencapaian, tidak ada non-pencapaian.

Tasmāc Śāriputra, aprāptitvād Bodhisattvasya
Oleh karena itu, Wahai Śāriputra, karena tiada yang ingin dicapai, Bodhisattva bebas dari segala gangguan pikiran,
Prajñāpāramitām āśritya, viharaty acittāvaraṇaḥ,
Beliau mengandalkan Kesempurnaan Kebijaksanaan, dan berdiam dengan pikirannya tidak terhalang,
cittāvaraṇa-nāstitvād atrastro,
memiliki pikiran yang tidak terhalang dia tidak gentar,
viparyāsa-atikrānto, niṣṭhā-Nirvāṇa-prāptaḥ.
mengatasi pertentangan, ia mencapai kondisi Nirvāṇa.

Tryadhva-vyavasthitāḥ sarva-Buddhāḥ
Semua Buddha berdiam di tiga masa dengan
Prajñāpāramitām āśritya
mengandalkan Kesempurnaan Kebijaksanaan
anuttarāṁ Samyaksambodhim abhisambuddhāḥ.
sepenuhnya terbangun menuju Keterjagaan Lengkap Sempurna yang tak tertandingi

Tasmāj jñātavyam Prajñāpāramitā mahā-mantro,
Oleh karena itu, Kebijaksanaan Sempurna prajna paramita adalah mantra yang agung
mahā-vidyā mantro, 'nuttara-mantro, samasama-mantraḥ,
mantra pengetahuan agung, mantra yang tertinggi, mantra yang tak tertandingi,
sarva duḥkha praśamanaḥ, satyam, amithyatvāt.
Secara tuntas mengatasi semua penderitaan, sebagai kebenaran sejati yang tak mungkin palsu.

Prajñāpāramitāyām ukto mantraḥ
Dalam Kesempurnaan Kebijaksanaan mantra telah diucapkan
tad-yathā:
dengan cara berikut ini
gate, gate, pāragate, pārasaṁgate, Bodhi, svāhā!
pergi, pergi, pergi melampaui, pergi sepenuhnya ke luar, dalam Kebangkitan, dengan keberkahan!

Iti Prajñāpāramitā-Hṛdayam Samāptam
Dengan demikian Kesempurnaan Kebijaksanaan dari Hati Lengkap disampaikan

Dimensi Samsarik

atau tabel hipotesis yang agak 'gila' dari kami ini 

 

Wilayah

1

2

3

Transendental

Nibbana ‘sentra’ ?

Belum diketahui ? 7

Tidak diketahui ? 8

Tanpa diketahui ? 9

 

Nibbana ‘sigma’?

Belum mengakui ? 4

Tidak mengakui ? 5

Tanpa mengakui ? 6

 

Nibbana ‘zenka’ ?

Arahata 1

Pacceka 2

Sambuddha 3

Universal

Brahma Murni  (Suddhavasa)

Anagami 7 (aviha Atappa)

Anagami 8 (Sudassa Sudassi)

Anagami  9(Akanittha)

 

Brahma Stabil (Uppekkha )

jhana 4 (Vehapphala)

Asaññasatta 5 (rupa > nama)

Anenja 6 ( nama > rupa arupa brahma 4 )

 

Brahma mobile (nama & rupa)

Jhana 1 (Maha Brahma)

Jhana 2 (Abhassara)

Jhana 3 (Subhakinha)

Eksistensial

Trimurti LokaDewa

Vishnu 7 (Tusita)

Brahma 8 (Nimmãnarati)

Shiva 9 (Mara?  Paranimmita vasavatti)

 

Astral Surgawi

Yakha  (Cãtummahãrãjika) 4

Saka  (Tãvatimsa) 5

Yama (Yãma)6 

 

Materi Eteris

Dunia fisik(mediocre’ manussa  &‘apaya’ hewan iracchãnayoni) 
+ flora & abiotik ? / 1
Eteris Astral apaya (‘apaya’ Petayoni & ‘apaya’ niraya)
2
Eteris Astral apaya Asura  (petta & /eks?/  Deva ) 
3

Setiap dimensi samsarik memiliki faktor persyaratan karmik & kehandalan kosmik (untuk mengalami & mengatasinya) 

Bersedia untuk senantiasa terjaga  menjaga  berjaga (apapun juga hasilnya ... jangan susah apalagi menyusahkan lagi di alam ini ) .
Terlepas dari pembenaran kebanggaan keakuan & kepentingan kemauan , dalam perspektif keEsaan apapun alamnya itu memang seharusnya adalah baik (setidaknya adil ... tepat bukan hanya sesuai dengan level batin zenka penghuninya namun juga demi keberlangsungan dimensi mandala alam tersebut). Misalnya begitu menderitanya seorang puthujjana yang masih sakau, galau & kacau dengan kesombongan, keserakahan &  kebencian jika harus berada di level kemurnian nibbana (Well, para Asekha di dimensi ini harus melampaui niraya eksternal baru juga, lho dengan keberadaan penghuni baru ini demikian juga wilayah ini). Ini juga berlaku di level samsarik kamavacara juga, lho. Terkadang sangat memprihatinkan para guardian niraya yang mengurus jasa laundry pemurnian jiwa dari dosa mereka yang mengotori dirinya sendiri (So, sesungguhnya siapa menyiksa siapa, bro?) ketimbang para guardian svarga yang hanya melayani pengumbaran lobha kenikmatan atas pahala kebaikan jiwa hingga batas akhir depositonya. Well, penangguhan mungkin memang bisa diterima jika demikian (too risky for all ...jadi perlu alam antara pra pralaya?).  So, biarkan advaita niyama dhamma melayakan keniscayaan yang tepat bagi semuanya secara transenden impersonal termasuk juga siklus pralaya (demi penyegaran atau pemusnahan ?) .

Kutipan :
Apapun yang terjadi, mencintai kebenaran adalah kemutlakan (bukan pilihan …  karena jikapun tiada keselarasan dalam menyesuaikannya sebagaimana harusnya maka dengan keterpaksaan  toh kita akan tetap menerima keniscayaan akan dampak karmic & effek kosmik nya juga .... jadi 'sami mawon' / sama saja ).  Hidup dalam kebenaran seharusnyalah hidup dengan kebenaran juga.

Keselarasan dalam Saddhamma .... Inilah cara untuk menjalani kebenaran itu dengan tanpa syarat apapun   Well, bukan hanya "sekedar' demi membawa level evolusi pribadi yang lebih baik (eksistensial), menjaga harmoni dimensi  yang semakin kondusif (universal) namun karena memang demikianlah amanah keselerasan yang ditetapkan untuk dijalani (transendental).... sinkronisasi peniscayaan berkah yang memang seharusnya dilakukan atas keniscayaan berkah yang sudah digariskan pada keberadaan, dalam kesemestaan oleh kesunyataan Impersonal Transenden ini.

Tentang Paska Kematian / Aneka Keberadaan =
Sebagaimana dimensi samsarik lainnya ( apaya, surga bahkan alam Brahma sekalipun), dunia ini hanyalah terminal transit bagi evolusi spiritualitas diri berikutnya.  Peluang kesempatan / tanggung jawab sebagai manusia dsb dalam membawa keberkahan diri dan lainnya ... tidak sekedar berlibur, terhibur dan dikubur sebagai manusia untuk hanya kembali calon mayit/ demit ?  
jadi, inget kata  Buddha & para Suci lainnya : kelaziman ( kebodohan atau kewajaran?) kita cenderung menjadikan apaya menjadi rumah tinggal  berikutnya  (walau sesungguhnya bukan itu sangkaan pandangan & harapan keinginannya ... ironis atau tragis ?) 
Well, jika tiada faktor non-operative mahakammavibhanga ... walau tidak dimaksudkan sekalipun by product kelayakan pemurnian sila bukan hanya bisa lampaui apaya (alobha x petta, adosa x neraka, amoha x tirachana  ... asura ?) namun juga layakan investasi deposito kebajikan untuk digunakan liburan sementara kapling dimensi surgawi jika diperlukan (just refreshing penyegaran atau malah recraving pengumbaran ?) ; yang lebih penting jika mampu pencapaian meditatif bisa bereffek pada peningkatan intelgensi kecakapan yang lebih baik apalagi ditunjang panna kebijaksanan yang berkembang . Okelah .
AS /IF Petta apaya etc
Walau ini dianggap ‘wajar’ bagi lokiya dhamma namun termasuk apaya bagi saddhama (walau tampak ironis namun tidak menutup kemungkinan dikarenakan akumulasi kelayakan kamacitta sebagaimana kemelekatan akan memory figure bhava, obsesi ditthi dan tanha pengharapan status symbol berada di dimensi eteris ditengah ekspansi dewa label jatuhan asura & ekstensi dewa level rendahan yakkha ini)  
Case : pettavathu
Niraya ?
jika terdampar di apaya  hidup sbg peta maka dengan upekkha kembangkan mudita (sikap apresiatif/positif atas niatan tindakan kebaikan lainnya) brahma vihara walau sulit. jika terlempar di apaya lainnya maka dengan upekkha kembangkan metta brahma vihara ( kewajaran kosmik untuk aktualisasi kesadaran kasih universal sebagaimana kesedemikiannya kaidah impersonal transenden niyama dhamma  atas personal imanen terus berlaku walau tak butuh diakui dan tak sekedar bisa diyakini ) walau jelas sangat sulit.
Dalam Buddhisme Apaya adalah kemungkinan MLD .......

surga ytcrash
AS /IF Surga Kamadeva etc
Walau ini sangat didambakan bagi lokiya dhamma (walau tanpa perlu alam antara ?) namun (tanpa merendahkan) tidak bagi saddhama ? (walau tidak menutup kemungkinan dikarenakan akumulasi kelayakan kamacitta 'hanya' bisa berada di dimensi astral ini )
Case : jaminan nanda & bhikkhu surga
Jika surga & neraka tidak ada akankah Tuhan dipuja dalam kebaktian, kebajikan dan kebijakan ? Bukan karena  deficiency atau  sekedar transaksi (Sufi wanita Rabiah Adawiyah ... Mahabah cinta kepada TuhanNya bukan hanya mengatasi kecintaan kepada siapapun /Nabi, Surga ?/ namun juga kebencian kepada apapun termasuk kepada  /iblis & neraka?/). 
Jika anda inginkan surga di sana layakkan juga surga di sini dengan kearifan menjaga kebersamaan dan kebaikan untuk sesama dengan memastikan keberdayaan tindakan nyata bukan sekedar idea anggapan dan keyakinan belaka. Walau secara labeling pandangan mungkin saja masih nanti (paska pralaya dunia?) namun dalam leveling kenyataan bisa jadi seketika (tanpa alam antara?).

buddha brahma
AS /IF Brahma etc
Walau ini sangat didambakan bagi mystics pantheist namun tidak bagi saddhama (walau tidak menutup kemungkinan dikarenakan bukan hanya kelayakan/kecakapan namun juga kemantapan/kemapanan kamacitta dan samadhi bhavananya)
Case : batin mencari & menjadi "tuhan" yang lebih sejati ? , dilemma antara kenyamanan 'transendensi' nama ke anenja (terlelap? alara kalama & Uddhaka ramaputta eks guru dengan tataran ilmu yang telah dikuasainya pra Uruvela ) vs keberadaan 'immanensi' rupa ke samsara (terjatuh? Brahma Baka yang terprovokasi Mara ? ).
(Fake story ?)  Buddha ditanya keberadaan Tuhan .... Dia menjawab akan keberadaanNya kepada yang mengingkariNya namun menyangkal keberadaanNya kepada yang meyakiniNya. (bukan kepercayaan namun keberdayaan ... memastikan tataran fakta bukti  penempuhan/penembusan dalam kemurnian yang utama bukan sekedar meyakini gagasan internal/ wawasan eksternal.
Jika anda dambakan kemanunggalan Ilahiah (transendensi moksa individualitas universal nama batiniah ke wilayah rohani tinggi hingga Anenja Brahma tidak sebatas dematerialisasi murca rupa zahiriah ke dimensi eteris peta, asura Bhumadeva atau astral Kamadeva 6 ?) layakkan diri sebagai media Brahma Vihara (sebagai media ilahi … tidak sekedar lihai bertransaksi mendapat untuk tersekap atau ikhlash memberi untuk menerima kembali namun murni mengasihi sebagaimana harusnya harmoni kasih universal yang berlaku disadari dan ketulusan untuk berbagi secara wajar memang perlu dijalani) sehingga kualifikasi adhikari tihetuka yang dewasa terjaga dan (dikarenakan senantiasa ada korelasi kosmik antara kesadaran, kecakapan dan kelayakan yang tumbuh berkembang secara simultan/progressif) kewasesaan batiniah juga akan berkembang (orientasi , refleksi + distansi & meditasi) dari akar penempuhan hingga puncak penembusannya (asalkan tetap terjaga dari godaan kemegahan yang menyekap sensasi kemauan, cobaan kemampuan yang menjebak fantasi keakuan dan labirin parallel yang memandekan, membingungkan atau bahkan menjatuhkan).  

pencerahan Buddha
AS /IF Nibbana etc
Walau keterjagaan dalam dvaita kesunyataan ini dipandang ‘sangat sempurna’ bagi buddha dhamma namun dalam 'kebersahajaan' akan advaita kesedemikianan ini ‘cukup bijaksana’ bagi saddhama (Holistik melampaui Nivritti negative & harmonis melampaui Pravritti positive )
Case : No Ego (level > label, 'tan-diri' > 'diri', 'tan-alam' > 'alam')....
(Fake story ?)  Buddha diam ketika ditanya apakah Dia mencapai Nibbana .... Jika Dia menjawab "Tidak", Dia berdusta akan realisasi pencapaian keterjagaanNya , Jika Dia menjawab "Ya" , Dia berdusta karena Nibbana mustahil tercapai jika masih ada 'keakuan" samsarik.
Jika anda harapkan nibbana nanti layakkan juga nibbana saat ini dengan keterjagaan memandang tilakhana kesemestaan dengan kewaspadaan tanpa keterlelapan  dan keberdayaan simultan progressif menyelaraskan diri dengan kewajaran pemurnian adhi sila (moralitas berprilaku zahiriah dan integritas berpribadi batiniah), memberdayakan diri dengan kemantapan adhi citta bhavana dan semakin men-terjagakan diri dengan kematangan penembusan adhi panna sehingga memadailah kualitas Ariya Puggala ... bukan hanya terlayakkan 'sertifikat kosmik' atas pencapaian magga phala nibbana (irreversible?) namun juga 'kualitas kosmik' yang memang dipandang layak oleh Advaita Dhamma Niyama untuk tidak lagi perlu (karena sudah terlalu mampu) 'ndagel' bermimpi di permainan samsara ini.
Setiap dimensi samsarik memiliki faktor persyaratan karmik & kehandalan kosmik (untuk mengalami & mengatasinya) Walaupun fenomena mandala ini memang beragam level & labelnya (terpilah > terpisah ?) namun secara realitas terpadu adanya (esensi>energi>materi).  

Bersedia untuk senantiasa terjaga  menjaga  berjaga (apapun juga hasilnya ... jangan susah apalagi menyusahkan lagi di alam ini ) .
Terlepas dari pembenaran kebanggaan keakuan & kepentingan kemauan , dalam perspektif keEsaan apapun alamnya itu memang seharusnya adalah baik (setidaknya adil ... tepat bukan hanya sesuai dengan level batin zenka penghuninya namun juga demi keberlangsungan dimensi mandala alam tersebut). Misalnya begitu menderitanya seorang puthujjana yang masih sakau, galau & kacau dengan kesombongan, keserakahan &  kebencian jika harus berada di level kemurnian nibbana (Well, para Asekha di dimensi ini harus melampaui niraya eksternal baru juga, lho dengan keberadaan penghuni baru ini demikian juga wilayah ini). Ini juga berlaku di level samsarik kamavacara juga, lho. Terkadang sangat memprihatinkan para guardian niraya yang mengurus jasa laundry pemurnian jiwa dari dosa mereka yang mengotori dirinya sendiri (So, sesungguhnya siapa menyiksa siapa, bro?) ketimbang para guardian svarga yang hanya melayani pengumbaran lobha kenikmatan atas pahala kebaikan jiwa hingga batas akhir depositonya. Well, penangguhan mungkin memang bisa diterima jika demikian (too risky for all ...jadi perlu alam antara pra pralaya?).  So, biarkan advaita niyama dhamma melayakan keniscayaan yang tepat bagi semuanya secara transenden impersonal termasuk juga siklus pralaya (demi penyegaran atau pemusnahan ?) .

Kutipan :
Apapun yang terjadi, mencintai kebenaran adalah kemutlakan (bukan pilihan …  karena jikapun tiada keselarasan dalam menyesuaikannya sebagaimana harusnya maka dengan keterpaksaan  toh kita akan tetap menerima keniscayaan akan dampak karmic & effek kosmik nya juga .... jadi 'sami mawon' / sama saja ).  Hidup dalam kebenaran seharusnyalah hidup dengan kebenaran juga.

Keselarasan dalam Saddhamma .... Inilah cara untuk menjalani kebenaran itu dengan tanpa syarat apapun   Well, bukan hanya "sekedar' demi membawa level evolusi pribadi yang lebih baik (eksistensial), menjaga harmoni dimensi  yang semakin kondusif (universal) namun karena memang demikianlah amanah keselerasan yang ditetapkan untuk dijalani (transendental).... sinkronisasi peniscayaan berkah yang memang seharusnya dilakukan atas keniscayaan berkah yang sudah digariskan pada keberadaan, dalam kesemestaan oleh kesunyataan Impersonal Transenden ini.


No comments:

Post a Comment