Tuesday, March 22, 2022

JUST IDEA (REKAP IDEA) = GALAU CORONA

 

KUTIPAN = GALAU CORONA 
CORONA 1 

MUSICS

 QUOTES




 Klik Songs video : The Sound of Silence

 Klik pdf Quotes : Sadhguru Yasudev


Terjemahan Lirik Lagu The Sound Of Silence - Simon And Garfunkel

Hello darkness, my old friend
Halo Gelap, teman lama
I've come to talk with you again
Aku datang untuk bicara padamu lagi
Because a vision softly creeping
Karena sebuah penglihatan sayup-sayup merayap
Left its seeds while I was sleeping
Tinggalkan biji-bijinya saat aku tertidur
And the vision that was planted in my brain
Dan penglihatan yang tertanam di otakku itu
Still remains
Masih tetap ada
Di dalam suara keheningan

In restless dreams I walked alone
Di dalam mimpi-mimpi gelisah, aku berjalan sendirian
Narrow streets of cobblestone
Jalan-jalan sempit berlapis batako
‘Neath the halo of a streetlamp
Di bawah lingkaran cahaya lampu jalan
I turned my collar to the cold and damp
Kubalik kerahku tuk berlindung dari dingin dan lembab
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
Saat mataku tertusuk kilatan cahaya neon
That split the night
Yang membagi malam
And touched the sound of silence
Dan menyentuh suara keheningan

And in the naked light I saw
Dan di cahaya telanjang, kulihat
Ten thousand people, maybe more
Sepuluh ribu orang, mungkin lebih
People talking without speaking
Orang-orang berbincang tanpa bicara
People hearing without listening
Orang-orang mendengar tanpa mendengarkan
People writing songs that voices never share
Orang-orang menulis lagu yang tak pernah terbagi oleh suara
No one dare
Tak ada yang berani
Disturb the sound of silence
Mengganggu suara keheningan

“Fools” said I, “You do not know
"Orang-orang bodoh" kataku, "Kalian tak tahu
Silence like a cancer grows
Keheningan, seperti halnya kanker, tumbuh
Hear my words that I might teach you
Dengar kata-kataku hingga aku bisa mengajarimu
Take my arms that I might reach you”
Raih tanganku hingga aku bisa meraihmu"
But my words like silent raindrops fell
Tapi kata-kataku seperti tetes hujan jatuh tanpa suara
And echoed in the wells of silence
Dan bergema di sumur-sumur keheningan

And the people bowed and prayed
Dan orang-orang membungkuk dan berdoa
To the neon god they made
Pada Tuhan neon yang mereka ciptakan
And the sign flashed out its warning
Dan tanda kilatkan peringatan
In the words that it was forming
Dalam kata-kata yang dibentuknya
And the sign said “The words of the prophets
Dan tanda itu berkata "Kata-kata para nabi
Are written on the subway walls
Tertulis di dinding-dinding terowongan bawah tanah
And tenement halls
Dan aula-aula tempat tinggal
And whispered in the sounds of silence”
Dan berbisik dalam suara keheningan"
https://terjemah-lirik-lagu-barat.blogspot.com/2016/09/the-sound-of-silence-simon-garfunkel.html

Bekerja dan belajar di rumah diperpanjang 1 (satu) minggu lagi. Antisipasi social distancing untuk mengatasi virus corona global di seluruh dunia hingga pelosok daerah diberlakukan. Hal ini membatasi kontak social dalam drama kosmik kehidupan sebagai figur multi-peran sebagaimana biasanya. Kecemasan akan terinfeksi penularan, menjadi sakit dan kemudian berujung kematian merebak di segenap pelosok negeri. Kehebohan duniawi dalam aneka ragam skenario permainannya yang biasa dilakukan berubah secara authentik menjadi kepanikan. Memang naif dan liarnya kelaziman tranyakan (keterpedayaan yang bukan hanya mungkin memperdayakan sesama namun pastinya akan berdampak kepada diri sendiri sesuasi konsekuensi logis kaidah kosmik permainan keabadian yang disebut kehidupan ini) menjadi berkurang namun arif dan baiknya aktualisasi harmonis holistik kebersamaan dan kesemestaan (keberdayaan untuk senantiasa saling memberdayakan dalam kebenaran dengan kebijakan untuk kebajikan) juga akan menjadi terhalang. Corona bisa mengenai siapa saja (tidak perduli seberapa baik/buruk karakter kepribadiannya, kuat/lemah keimanannya, tulus/licik  pengharapannya, dsb). Banyak korban berjatuhan (tewas terinfeksi, sakit tertular hingga yang disinyalir sebagai orang dalam pemantauan ODP karena kontak sosial fisik dengan pasien positif) dan lockdown karantina diberlakukan. Menjadi  realistis terhadap fenomena alamiah tersebut adalah sikap dewasa dalam merespon dan mengantisipasi faktisitas yang ada secara autentik.Saling terjaga dalam keswadikaan dan saling menjaga demi kebersamaan adalah sikap bijak dalam mengamati, mengalami dan mengatasi segala problematika kehidupan dan dilematika keabadian apapun juga ... Semoga kita semua mampu bertahan dalam menghadapi permasalahan ini dan mampu melampauinya dengan segala kebijaksanaan dalam keberdayaan dan demi pemberdayaan berikutnya. 
Senantiasa ada hikmah kebenaran dari setiap kenyataan yang terjadi. Ini kami ungkapkan dengan tanpa niatan sedikitpun sebagai refleksi sikap apatis (tidak tanggap atas suasana actual dan nuansa mental yang ada) apalagi memperkeruh dan memanfaatkan keadaan demi kepentingan eksistensial diri. Seorang mistisi modern Vernon Howard ada menyatakan penderitaan adalah cara alam untuk menyadarkan kepada kita untuk kembali hidup sejati sebagaimana amanah keberadaan ini harusnya. Penderitaan yang dirasakan cukup ekstrem terkadang bisa menjadi shock theraphy yang lebih meningkatkan attensi perhatian kita yang cenderung kurang begitu responsive terlenakan keberadaan diri yang relative tampak biasa saja (kemampuan bertahan atas kesengsaraan yang wajar walaupun terkadang dengan keterpaksaan untuk ikhlash menerima).Ada yang kurang tepat dari diri kita dalam mensikapi dan bereaksi sebelumnya (mengumbar keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan meradang kekesalan kala belum merasa cukup/layak dalam mendapatkan) sehingga cara kita menjalani kehidupan ini menjadi tidak bijak dalam memandang secara obyektif Realitas kebenaran dibalik fenomena kenyataan yang ada. Corona yang hadir sebagai media pembelajaran kehidupan dipandang sebagai  teror yang mencemaskan tampaknya cukup mampu merobek topeng semu dari kebodohan naif dan pembodohan liar kita selama ini atas keberadaan penderitaan yang kita tutupi dalm selimut kebahagiaan. Ada dukkha tersirat dalam drama kosmik samsara ini ... perlu panna kebijaksanaan bukan hanya untuk menghadapi namun melampauinya mungkin itu makna tersirat dibalik senyum holistik sita hasitupada rupang kebuddhaan atas kesedemikian homeostatis dari delusi living kosmos mandala advaita ini. Walau dalam label eksistensial saya sesungguhnya bukanlah Buddhist (atribut keberadaan lahir /hadir eksistensial yang digariskan kehidupan saat ini) namun saya harus mengakui sangat interest pada Buddhisme. Ada keunikan yang menarik dari arus Uncommon Wisdom pandanganNya sebagai Dhamma Kosmik yang tidak mudah menyatakannya sebagai agama biasa tidak juga bahkan mistik esoteris.
Buddha menyatakan kehidupan ini tidak pasti namun kematian ini pasti namun sayangnya kita manusia sebagian besar tak tercerahkan dan menjadikan alam apaya seakan rumah baginya (semakin terjebak dalam keterlelapan mimpi chaotik samsara bukan nibbana keterjagaan sebagai ariya sebagaimana seharusnya) dikarenakan notion pandangan, frekuensi kecenderungan dan konsekuensi tindakannya. Keberadaan sebagai manusia di mayapada dunia ini memang tidaklah seindah surga Devata kamavacara atau semulia jhana moksha para Brahma, namun demikian walaupun tidaklah sekondusif wilayah antara suddhavasa tetapi keberadaan mediocre ini justru bisa menjadi effektif bagi pertumbuhan dan perkembangan spiritualitasnya jika cukup reseptif menghayati, menjalani dan melampauinya secara benar , sehat dan tepat … tidak hanyut dalam arus eksistensi namun tidak juga teralienasi.
Well, mungkin inilah saatnya bagi kami untuk berbagi bukan lagi sebagai "persona" sebagaimana figur yang seharusnya diperankan (sebagai seorang manusia yang lahir dan hadir di dunia ini dengan segala atribut eksistensial yang ada) namun sebagai sesama zenka "seeker" yang terbang menjelajahi cakrawala pengetahuan keabadian dalam kehidupan ini dengan dua sayap paradoks keterbukaan dan keterjagaan atas dualisme kenyataan menjaga keberimbangan, menjalani keswadikaan dan menggapai kebijaksanaan sebagaimana harusnya ….Sayang sekali walau mungkin cukup sarat akan wawasan pengetahuan namun sangat minim dalam penempuhan sehingga tiada layak dalam tataran penembusan yang seharusnya bisa dicapai. Ini tidak hanya membuat kami risih namun juga riskan. Apalagi bahasan spiritulitas ini tentuna akan menyerempet (melanggar ?) masalah yang bukan hanya sangat krusial namun juga sangat sensitive bukan hanya bagi para Neyya Buddhist namun juga umat agama lain termasuk (terutama?) saudara muslim kami. Disamping kami harus menjaga logika, bahasa dan etika dalam penyampaiannya tampak sangat perlu moderasi keterbukaan pengertian untuk tidak salah faham akan orientasi niatan kami dan juga sikap kritis keterjagaan penalaran anda semua jika memang ada kesalahan pandangan yang kami ajukan. Ini hanyalah kontribusi pandangan untuk memperluas pandangan kita dengan tanpa maksud sama sekali untuk meng-konversi diri sendiri ataupun orang lainnya ke suatu ajaran tertentu namun sekedar masukan wawasan untuk kembali mentriangulasikan paradigma cara pandang kita bukan hanya dalam kehidupan duniawi ini dengan segala problematika figure eksistensial kita yang multi peran namun juga demi keberlanjutan kita mensiagakan diri dengan segala keberdayaan yang diperlukan untuk menghadapi segala dilematika kemungkinan yang ada (bahkan jika itupun ternyata berbeda sama sekali dengan yang telah kita yakini dan persiapkan selama ini). Pada intinya nanti walau dalam leveling pemilahan memang perlu adanya kebaikan untuk melayakkan taraqqi yang lebih baik namun dalam labeling tidak ada yang perlu merasa direndahkan/ ditinggikan karena memang demikianlah desain keberadaan kasunyatan ini memang harusnya/nyatanya tergelar. Segalanya terlingkup sebagai aneka dvaita pelangi kenyataan dari cahaya advaita mentari kebenaran dalam living kosmos kesemestaan homeostatis tunggal yang sama … amala, avimala (prajna paramita hrdaya sutra).

Prajñāpāramitā
kebijaksanaan agung prajna paramita

Oṁ! Namo Bhagavatyai Ārya-Prajñāpāramitāyai!
Om | Aku memuliakan Sang Ariya Guru Suci yang telah mencapai kebijaksanaan agung prajna paramita
Ārya-Avalokiteśvaro Bodhisattvo, gambhīrāṁ prajñāpāramitā caryāṁ caramāṇo,
Sang Ariya Bodhisatva  Avalokiteśvara saat itu berdiam di dalam praktik kebijaksanaan agung prajna paramita,
vyavalokayati sma panca-skandhāṁs tāṁś ca svabhāvaśūnyān paśyati sma.
melihat ke dalam lima skhanda (agregat = pikiran dan tubuh / nama rupa ) dan ternyata mereka kosong dari sifat-diri

Iha, Śāriputra, rūpaṁ śūnyatā, śūnyataiva rūpaṁ;
Di sini, Wahai Śāriputra, wujud adalah kekosongan, kekosongan adalah wujud;
rūpān na pṛthak śūnyatā, śunyatāyā na pṛthag rūpaṁ;
kekosongan tidak berbeda dengan wujudwujud tidak berbeda dengan kekosongan;
yad rūpaṁ, sā śūnyatā; ya śūnyatā, tad rūpaṁ;
Segala apapun wujudnya, itu adalah kekosongan; Segala apapun kekosongan yang ada, itu adalah wujud.
evam eva vedanā-saṁjñā-saṁskāra-vijñānaṁ.
Begitu juga sama halnya untuk perasaan, persepsi, proses kemauan dan kesadaran.

Iha, Śāriputra, sarva-dharmāḥ śūnyatā-lakṣaṇā,
Di sini, Wahai Śāriputra, segala dharma bersifat kosong , 
anutpannā, aniruddhā;
Tanpa kemunculantiada pula kelenyapan ;
amalā, avimalā;
Tanpa ketiada-nodaan, tiada pula ketidakmurnian;
anūnā, aparipūrṇāḥ
Tanpa adanya kekurangan, tiada pula kelengkapan

Tasmāc Śāriputra, śūnyatāyāṁ
Karena itu, Wahai Śāriputra,  dalam kekosongan itu
na rūpaṁ, na vedanā, na saṁjñā, na saṁskārāḥ, na vijñānam;
tidak ada bentuk, tidak ada perasaan, tidak ada persepsi, tidak ada proses kehendak, tidak ada kesadaran;
na cakṣuḥ-śrotra-ghrāna-jihvā-kāya-manāṁsi;
tidak ada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh atau pikiran;
na rūpa-śabda-gandha-rasa-spraṣṭavya-dharmāḥ;
tidak ada bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, pikiran;
na cakṣūr-dhātur yāvan na manovijñāna-dhātuḥ;
tidak ada elemen mata (dan seterusnya) hingga tidak ada elemen kesadaran-pikiran;
na avidyā, na avidyā-kṣayo yāvan na jarā-maraṇam, na jarā-maraṇa-kṣayo;
tidak ada ketidaktahuan, tidak ada kehancuran ketidaktahuan (dan seterusnya) hingga tidak ada usia tua dan kematian,
na duḥkha-samudaya-nirodha-mārgā;
tidak ada kehancuran usia tua dan kematian; tidak ada penderitaan, kemunculan, lenyapnya, jalan;
na jñānam, na prāptir na aprāptiḥ.
tidak ada pengetahuan, tidak ada pencapaian, tidak ada non-pencapaian.

Tasmāc Śāriputra, aprāptitvād Bodhisattvasya
Oleh karena itu, Wahai Śāriputra, karena tiada yang ingin dicapai, Bodhisattva bebas dari segala gangguan pikiran,
Prajñāpāramitām āśritya, viharaty acittāvaraṇaḥ,
Beliau mengandalkan Kesempurnaan Kebijaksanaan, dan berdiam dengan pikirannya tidak terhalang,
cittāvaraṇa-nāstitvād atrastro,
memiliki pikiran yang tidak terhalang dia tidak gentar,
viparyāsa-atikrānto, niṣṭhā-Nirvāṇa-prāptaḥ.
mengatasi pertentangan, ia mencapai kondisi Nirvāṇa.

Tryadhva-vyavasthitāḥ sarva-Buddhāḥ
Semua Buddha berdiam di tiga masa dengan
Prajñāpāramitām āśritya
mengandalkan Kesempurnaan Kebijaksanaan
anuttarāṁ Samyaksambodhim abhisambuddhāḥ.
sepenuhnya terbangun menuju Keterjagaan Lengkap Sempurna yang tak tertandingi

Tasmāj jñātavyam Prajñāpāramitā mahā-mantro,
Oleh karena itu, Kebijaksanaan Sempurna prajna paramita adalah mantra yang agung
mahā-vidyā mantro, 'nuttara-mantro, samasama-mantraḥ,
mantra pengetahuan agung, mantra yang tertinggi, mantra yang tak tertandingi,
sarva duḥkha praśamanaḥ, satyam, amithyatvāt.
Secara tuntas mengatasi semua penderitaan, sebagai kebenaran sejati yang tak mungkin palsu.

Prajñāpāramitāyām ukto mantraḥ
Dalam Kesempurnaan Kebijaksanaan mantra telah diucapkan
tad-yathā:
dengan cara berikut ini
gate, gate, pāragate, pārasaṁgate, Bodhi, svāhā!
pergi, pergi, pergi melampaui, pergi sepenuhnya ke luar, dalam Kebangkitan, dengan keberkahan!
Iti Prajñāpāramitā-Hṛdayam Samāptam
Dengan demikian Kesempurnaan Kebijaksanaan dari Hati Lengkap disampaikan


Sadhguru Yasudev Quotes : 
Whatever you have – your skills, your love, your joy, your ingenuity, your ability to do things – please show it now. Do not try to save it for another lifetime.
Apa pun yang Anda miliki - keterampilan Anda, cinta Anda, kegembiraan Anda, kecerdikan Anda, kemampuan Anda untuk melakukan sesuatu - tolong tunjukkan sekarang. Jangan mencoba menyimpannya untuk kehidupan mendatang.

Okey, Sadhguru Yasudev, tak akan kami simpan juga untuk diri kami sendiri wawasan kosmik Parama Dhamma dalam Mandala Advaita ini dengan Formula Swadika bagi keberlanjutan kehidupan saat ini dan juga bagi kesiagaan nanti … apapun yang terjadi terjadilah. Lagipula walau agak controversial bahkan mungkin akan jadi sensitive nantinya… toh niatan kami sesungguhnya hanyalah mengajukan kemungkinan saja tanpa memaksakan ini sebagai kepercayaan yang harus diterima sebagai keyakinan dogmatis / fanatic yang membuta. Ini hanyalah thesis pada antithesis pandangan anda semula untuk mengembangkan synthesis kebijaksanaan baru kita berikutnya. Sungguh tidak ada yang harus dilekati (bahkan jikapun pandangan ini ternyata tidak hanya sesuai dengan asumsi anda bahkan memang demikian realitas kebenarannya pada segala fenomena keberadaan)  dan juga tidak ada yang perlu dibenci atau ditolak (bahkan termasuk pandangan lain yang mungkin tidak hanya Dhammadipatheyya namun juga sekedar lokadipatheyya ataupun bahkan hanyalah attadipatheyya … karena setiap paradigma memiliki kebenaran dan juga “pembenaran”nya masing-masing walau tidak harus diterima dengan persetujuan namun tetap harus juga dihargai keberadaannya). Dalam mandala ini hikmah kebenaran yang sesungguhnya tinggi  bisa saja lahir dari limbah kenyataan yang semula dipandang rendah. Respek yang setara (walau  mungkin tidak harus sama) diberikan tidak hanya bagi  pandangan Buddha Dhamma, Mistik Esoteris atau tradisi Religi bahkan addhamma sekalipun namun segalanya termasuk juga atas segala zenka keberadaan yang ada (Lokuttara Dhamma, Tao, Tuhan, Brahma /termasuk level sankhara vipassana, vedana suddhavasa, sanna anenja & Rupa Brahma Jhana 4 hingga 2 Abhasara yang tidak lagi nama sukha namun sudah rupa piti ?/ ; Wilayah kamavacara:  Mara, Yama, Dewa, yakkha, Asura /iblis?, Petta/ demit?, dunia manussa, tirachana hingga niraya lokantarika dsb) karena walau mungkin dipersepsikan dalam level/label berbeda namun secara universal segalanya berada dan melengkapi posisi  keseluruhan desain ini dengan indahnya sesuai porsi perannya maing-masing …. Sigma Kuanta cahaya dari Sentra yang sama. Yang secara bijak tak perlu dibela/dipuja? walau dipandang mulia apalagi secara fasik harus dicela/dihina? karena dianggap nista. So, mantapkan kebenaran tempuhlah kebijakan dan jalanilah kebajikan namun dengan tanpa melekatinya … ini mungkin makna tersirat nasehat Dhamma Desana Bhante Pannavaro untuk diperhatikan dalam penempuhan/penembusan spiritualitas yang berimbang bukan hanya holistic pada keseluruhan namun juga harmonis untuk keswadikaan diri.

CORONA 2
Sadhguru Yasudev quote :
"I do not know" is not a negative state of mind . Every discovery has come from this realization 
'Saya tidak tahu' bukanlah keadaan fikiran yang negatif . Setiap penemuan dimulai dari kesadaran ini.

Kebijakan New Normal walau dalam kehati-hatian akhirnya mulai diberlakukan juga. Well, hidup memang tidak hanya perlu sehat terhindar dari sakit/penyakit namun juga ‘hidup’ dalam artian yang lebih luas (walau mungkin saja sebagai puthujana makhluk biasa akan kembali mudah kacau, galau dan sakau). Perlu bekerja untuk menafkahi kebutuhan hidup, perlu berinteraksi normal sebagaimana kewajaran sebagai insan social, perlu memberdayakan & membermaknakan kehidupan dalam aktualisasi tindakan dsb. Namun sayang  sekali sebagaimana maut yang senantiasa mengiringi hidup dan siap menjemput kapanpun dimanapun kepada siapapun, virus pandemic ini sebagaimana fenomena alamiah keberadaan material lainnya tampaknya tidak cukup ‘komunikatif’/’negosiatif’ untuk berkompromi secara etis(?) terhadap niatan dan harapan kita. Kami kemarin mendengar kabar via Group WA teman tayangan berita Surabaya seketika menjadi zona hitam (merah kelam?) oleh Pandemi ini, juga  Pondok Pesantren Muslim Jahula Temboro (?),pemberangkatan ibadah haji dibatalkan juga, bukan hanya di ameriki (disini) setelah berawal di China semula dan menyebar ke seantero dunia (Italia, dsb) bahkan di Amerika-pun terjadi demonstrasi kekacauan akibat policy pengetatan kebijakan distansi social (lock-down?) dalam mengantisipasi pandemi yang semakin meluas, dsb.
Semula kami mengira pandemic ini tidak akan berlangsung lama … manusia dengan kemajuan peradabannya pastilah akan segera mampu mengatasinya. Namun kenyataannya …. Ini bukanlah sekedar rehat selingan pengalihan rutinitas kehidupan saja (media hikmah dibalik hibrah) namun adalah masalah yang harus secara tepat dicari solusinya untuk secara cepat diatasi ,,,,,bukan hanya bagaimana cara mengatasinya demi kedaruratan saat ini namun juga mengapa ini bisa terjadi untuk tidak perlu terjadi lagi nanti. (maaf … sakit karena panah beracun memang harus segera disembuhkan, namun pemanah/yang terpanah juga harus difahamkan/ disadarkan atas konsekuensi logis/ethis tindakan/niatan yang telah dan akan dilakukannya.) 
Hoaks sebagai komoditas informasi banyak beredar di SosMed…. Tidak selalu positif namun banyak juga yang negatif ada yang menyiratkan kekesalan hingga menebarkan kebencian, menggiring opini hingga manipulasi kepentingan bahkan provokasi permusuhan dsb. (Mungkin ini sebabnya saya terkadang agak malas berinteraksi daripada harus sial ter'infeksi' walau tetap tidak menjauhi namun sesekali tetaplah perlu menanggapi demi kepantasan sosialisasi dan harmonisasi kebersamaan). Singkat saja prolog-nya (daripada berputar-putar) …. ada hoaks (berita atau cerita ?) tentang teori konspirasi dibalik pandemic ini. Semula saya tidak begitu interest dengan teori ini... seeker tidak hanya menggunakan sayap keterbukaan saja untuk menerima apapun juga sebagai kemungkinan demi peningkatan keberdayaannya namun juga sayap keterjagaan untuk tetap waspada tanpa perlu segera menjadikan itu sebagai kepercayaan positivist final untuk diyakini (Well, no fact - no truth - no faith ... bukan hanya atas input ekspresi eksternal dari luar namun juga bahkan dari output refleksi internal diri sendiri).
Terma manusia konon berasal dari kata Sanskrit Manas & Ashya (Pali : Manussa?) ... suatu keberadaan yang dengan batin fikirannnya di wilayah mediocre duniawi ini memungkinkannya mencapai puncak evolusi individual tertinggi wilayah samsarik imanen (kebebasan pencerahan atau minimal nama abhasara ?)  namun juga sekaligus bisa menjatuhkannya ke dalam jurang terdalam labirin permainan keabadian hidup ini (apaya niraya atau bahkan rupa lokantarika?). Kita sering mengamati terkadang juga menikmati bahkan menjalani juga drama internal universal yang tidak selalu wajar sebagai media impersonal dalam kearifan, kebaikan dan keaslian namun terkadang bahkan justru heboh sebagai figur personal dengan kenaifan, kesemuan bahkan keliaran ... hingga batas 'akhir' setiap episode permainan kehidupan singgahan duniawi yang disebut kematian. Suka atau tidak suka, takut atau tidak takut, siap atau tidak siap .... toh antithesis kematian sebagai konsekuensi logis dari thesis kehidupan harus rela diterima bersama juga dengan synthesis tidak hanya peninggalan hidup eksistensial (memory kenangan, property warisan, produk karya bagi insan dunia yang ditinggalkan ... baik mulia maupun nista? ) namun juga keberlanjutan arus kehidupan individual (level swadika, bakat talenta, hisab visekha ... untuk episode 'pribadi' berikutnya). So, mungkinkah ada yang begitu gila dan tega untuk bisa mengorbankan sesungguhnya bukan hanya jiwa orang lain namun justru terutama jiwa kemanusiaannya sendiri hanya demi kepentingan yang sudah liar melampaui batas atau sekedar pengakuan yang sesungguhnya hanya semu belaka ? Sungguh walaupun sejatinya kita mengakui masih 'buta' untuk benar-benar mengetahui (tidak sekedar menerima atau meyakini) Realitas Kebenaran dari fenomena kenyataan ini namun cobalah untuk tidak menyusahkan penempuhan perjalanan lainnya ..... Stop Playing as God. (Berhentilah bermain/ berlagak sebagai Tu(h)an atas sesama anda...). Kami tetap berharap ini hanyalah fenomena alamiah yang perlu kita terima, hadapi dan atasi bersama dan bukan komoditas rekayasa genetik untuk berbahagia dan sejahtera di atas bangkai penderitaan/kematian sesamanya.
Well, memang walau ada kebebasan baik secara individual maupun kolektif dalam kehidupan ini namun senantiasa perlu ada batasan untuk tidak juga melanggar kebebasan individual/kolektif lainnya dalam keseluruhan. Setiap keberadaan berhak hidup dan hadir dalam keunikannya masing-masing. Kami juga tidak tahu apakah bijak, tepat dan benar jika kami juga mengungkapkan paradigma hipothesis pribadi yang pernah tersketsakan puluhan tahun lalu karena bisa jadi ini justru akan menjadi kontroversi yang kontraproduktif jika disampaikan ke publik dikarenakan ini mungkin akan menjadi imaginasi paling 'gila' tentang bentangan yang mungkin bisa dicapai (tepatnya dibayangkan) manusia berdasarkan update referensi yang ada. Meminjam istilah Mistisi Ibn Araby ('biar hati ini menjadi makam bagi rahasia-rahasia')., mungkin akan menjadi nyaman juga bagi diri sendiri dan keseluruhan jika kemudian kami senantiasa menundanya dan menguburnya kembali dan berkata dalam hati biarkan logika pemikiran ini tetap tersimpan aman di tempatnya karena memang tidak harus, perlu dan patut untuk diungkapkan ke permukaan. 
Sabbe satta bhavantu sukhitata adalah salam doa (tepatnya harapan impersonal) Buddhist yang artinya semoga semua makhluk berbahagia. Mungkinkah itu terjadi ... seakan hanya harapan semu belaka walaupun bereefek positif untuk mendidik fikiran bagi pemurnian kesadaran dan ketulusan batin ?  Ini  bisa memungkinkan dan sesungguhnya bukan hanya sekedar penerimaan kebahagiaan namun juga pencapaian keberdayaan bahkan pencerahan keterjagaan baik individual maupun universal, personal maupun impersonal dimanapun kapanpun dalam peran sebagai apapun ... karena sesungguhnya memang tidak perlu ada 'dukkha' asalkan tiada 'dusta' /tepatnya: avijja + tanha/ di antara kita semua (termasuk yang tersirat dalam senyum  para Buddha dan ... maaf ... 'sense of humour' para Tuhan yang sudah mengidentifikasi diri atau yang sedang dieksploitasi demi pembenaran kepentingan  .... inilah susahnya harus mem-filter diri dengan kata tepat untuk terma dogmatis yang akan menjadi masalah sensitif yang rentan memicu reaksi terutama bagi para pemerhati spiritualitas yang bukan hanya fanatis bahkan militan untuk pandangan yang mungkin berbeda).
(Maybe?) you may say I am a dreamer, but I am not the only one.... (Mungkin)  anda boleh mengatakan saya adalah pemimpi namun saya bukanlah satu-satunya orang tersebut ... ingat penggalan lyrik lagu Imagine John Lennon Beatles tahun 70-an ini (masih SD, bro?) ?. Kalau saya tidak lupa mengingat referensi lama mungkin Sri Aurobindo seorang mistisi/pemerhati spiritualitas modern India (?) pernah mengungkapkan pernyataan yang berbeda dari kebanyakan pandangan umum yang biasanya kelam/ negatif tentang keberadaan akhir zaman nanti. Ada fitnah besar dan perang hebat antara dualitas yang benar dan salah (yang benar pastinya menjadi pemenang atau yang menang akhirnya dianggap benar ... history atau his story ? ... entahlah ... peristiwa memang terjadi namun sejarah /bisa?/ dicipta) ada juga ini ... fase kappa turun dikarenakan sudah merosotnya etika manusia maka pada masa itu kezaliman menjadi kelaziman bahkan atas nama kebenaran, kebijakan dan kebajikan sekalipun kepalsuan, kebejatan dan kekejaman halal, legal bahkan normal dilakukan hingga jatah usia manusia menjadi susut hingga 10 (sepuluh) tahun ? Walau tidak menafikan mungkin akan terjadi demikian sebagaimana harusnya diterima dan diyakini (demi tetap perlu eksis dan lestarinya siklus permainan samsarik ?), namun demi sinkronisasi pengharapan yang positif  ... alih-alih meng-'amin'-i nubuat negatif tersebut, Sri Aurobindo (tolong direcheck namanya ... kalau tidak salah saya baca buku Anand Khrisna antara tahun 1990-an sebelum rehat 'nge-lumrah' menikah th 2000 menjalani kehidupan awam orang kebanyakan) malah menyatakan (positif/ optimis) bahwa ada kemungkinan juga pada saat itu justru terjadi sebaliknya ... Terjadi Pencerahan Total (?). Dalam kebersamaan pemberdayaan kedamaian semesta tersebut tidak ada gunanya fitnah apalagi harus ada perang besar yang bukan hanya secara parah menghancurkan peradaban namun juga melenyapkan keberadaban manusia itu sendiri .... sehingga cukuplah jatah 10 tahun akselerasi taktis masa pencerahan sudah bisa dicapai (?). Manusia saat itu sudah begitu sadar, cakap dan layak untuk saling memberdaya diri sebagai/selayak Ariya puggala baik di level swadika, talenta maupun visekha (istilah pali mungkin Kammavipaka/ kammassakata ?). Tanpa pandangan/niatan/tindakan yang salah dan buruk hindari dari apaya, dengan kebaikan sikap/sifat/amal yang wajar dan murni layakkan surga, dengan perkembangan ke-tihetuka-an mantapkan samadhi layakkan jhana Rupa Brahma 4 sampai moksha anenja ? , dalam kekokohan samadhi tingkatkan panna bagi pencerahan hingga kebebasan ?
Ditengah situasi kondisi New Normal yang masih kacau dan tidak bisa diatasi dengan sakau apalagi galau ....sekedar pengalihan stress (galau?) walaupun semu ... bayangkanlah begitu positifnya impian 'gila' ini... pada saat itu dikarenakan bukan hanya keberadaban manusia namun juga peradaban manusia berkembang dengan sangat baiknya (senantiasa ada korelasi kosmik antara perkembangan etika dan peningkatan logika dalam kehidupan ini) ... well, saat itu keberadaban introspektif intrapersonal & interaksi antar personal kondusif berkembang baik sehingga dengan level kesadaran yang tinggi tingkat kecakapan manusia juga meningkat disamping perkembangan level metafisik spiritual juga trick sains teknologi membentuk peradaban juga semakin maju sehingga level kesehatan holistik dan empirik juga terjaga walau ada atau tidak ada pandemi semacam ini.  (dengan tatanan sosial yang lebih madani tidak totalitarian seperti New Order novel 1983 1984 George Orwell ... Big Brother ? mari kita tambahkan agar lebih indah dan megah lagi sesuai dengan keinginan kita atau anda ?). Saat itu bukan hanya interaksi kosmik antar galaksi yang jauh terjalin baik bagi manusia bumi (seperti film Star Trex, bro .. bisa bisnis liburan ) namun juga bahkan interaksi metafisik antar wilayah rohaniah samsarik para yogi (seperti Mystics & Buddhist, guys ... bisa amati/singgah ke alam Eteris /apaya - petta - asura - yakha Bhumadeva/, wilayah Astral /surga catumaharajika - tavatimsa - yama ?~ Alakh Niranjan?/ , Dimensi Mental /Tusita- Nimmanarati, Paranimmitavasavatti ? ~ Wisnu, Brahma, Shiva ? : Kal ?/, Monade Kosmik (Para Brahma etc:...yogi penjelajah harus lebih tinggi/murni levelnya ke anenja moksha, bro.) bahkan hingga anatta Nirvanik ? Lebih heboh lagi jika ada Liga Galaksi Semesta di alam fisik & Sangha Antar Dimensi (semacam PBB) untuk harmoni bersama saling memberdaya holistik diri plus duta diplomatiknya. By such mastery, no much mistery ? Wah....sudah terlalu melantur khayalannya,ya ?. Hehehe...Kembali membumi lagi sebelum gila beneran.
Intinya begitu berharganya kehidupan sebagai manusia (tanpa menafikan sebagaimana juga lainnya), bro. Dengan tidak terlalu mengumbar kebebasan menurutkan kecenderungan nafsu (wille zur macht .. keinginan akan kekuasaan?) dan justru mengarahkan diri dengan kebijaksanaan maka akan ada kebajikan bagi semuanya (kedewasaan berpribadi dan dampak potensi kewasesaan yang akan mengikutinya). Segalanya akan dan seharusnya menjadi lebih baik dan semakin baik.  Jadi tolonglah jika tidak mencerahkan janganlah menyusahkan apalagi menyesatkan dan menghancurkan. Sungguh anda (tepatnya: kita) tidak tahu dengan siapa sesungguhnya kita senantiasa berhadapan .... hidup ini tidak sekedar interaksi antar figur personal namun ini permainan kompleks media impersonal dimana segalanya jeli terawasi, akurat terkalkulasi dan potentially akan berdampak .... sebagaimana gema suara, apa yang kita lakukan akan kembali juga kepada arus kesadaran kita ... baik ataupun buruk, saat ini ataupun nanti , di sini ataupun di sana dalam peran/sikon apapun kemudian ... (dampak metafisis, sociologis & psikologis ?). Bagaikan sigma kuanta cahaya pelangi yang saling melengkapi dalam keberagamannya walau dalam label dan level berbeda namun tetap dipandang setara dalam Kasih Universal ... ada kesedemikianan Dhamma yang walau Impersonal tidak menuntut pengakuan namun secara Transenden kaidahnya berlaku di setiap wilayah immanenNya secara homeostatis, interconnected, equilibirium.
Senantiasa ada hikmah kebenaran dari setiap kenyataan yang terjadi. Ini kami ungkapkan dengan tanpa niatan sedikitpun sebagai refleksi sikap apatis (tidak tanggap atas suasana actual dan nuansa mental yang ada) apalagi memperkeruh dan memanfaatkan keadaan demi kepentingan eksistensial diri. Seorang mistisi modern Vernon Howard ada menyatakan penderitaan adalah cara alam untuk menyadarkan kepada kita untuk kembali hidup sejati sebagaimana amanah keberadaan ini harusnya. Penderitaan yang dirasakan cukup ekstrem terkadang bisa menjadi shock theraphy yang lebih meningkatkan attensi perhatian kita yang cenderung kurang begitu responsive terlenakan keberadaan diri yang relative tampak biasa saja (kemampuan bertahan atas kesengsaraan yang wajar walaupun terkadang dengan keterpaksaan untuk ikhlash menerima).Ada yang kurang tepat dari diri kita dalam mensikapi dan bereaksi sebelumnya (mengumbar keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan meradang kekesalan kala belum merasa cukup/layak dalam mendapatkan) sehingga cara kita menjalani kehidupan ini menjadi tidak bijak dalam memandang secara obyektif Realitas kebenaran dibalik fenomena kenyataan yang ada. Corona yang hadir sebagai media pembelajaran kehidupan dipandang sebagai  teror yang mencemaskan tampaknya cukup mampu merobek topeng semu dari kebodohan naif dan pembodohan liar kita selama ini atas keberadaan penderitaan yang kita tutupi dalm selimut kebahagiaan. Ada dukkha tersirat dalam drama kosmik samsara ini ... perlu panna kebijaksanaan bukan hanya untuk menghadapi namun melampauinya mungkin itu makna tersirat dibalik senyum holistik sita hasitupada rupang kebuddhaan atas kesedemikian homeostatis dari delusi living kosmos mandala advaita ini. Walau dalam label eksistensial saya sesungguhnya bukanlah Buddhist (atribut keberadaan lahir /hadir eksistensial yang digariskan kehidupan saat ini) namun saya harus mengakui sangat interest pada Buddhisme. Ada keunikan yang menarik dari arus Uncommon Wisdom pandanganNya sebagai Dhamma Kosmik yang tidak mudah menyatakannya sebagai agama biasa tidak juga bahkan mistik esoteris.
Buddha menyatakan kehidupan ini tidak pasti namun kematian ini pasti namun sayangnya kita manusia sebagian besar tak tercerahkan dan menjadikan alam apaya seakan rumah baginya (semakin terjebak dalam keterlelapan mimpi chaotik samsara bukan nibbana keterjagaan sebagai ariya sebagaimana seharusnya) dikarenakan notion pandangan, frekuensi kecenderungan dan konsekuensi tindakannya. Keberadaan sebagai manusia di mayapada dunia ini memang tidaklah seindah surga Devata kamavacara atau semulia jhana moksha para Brahma, namun demikian walaupun tidaklah sekondusif wilayah antara suddhavasa tetapi keberadaan mediocre ini justru bisa menjadi effektif bagi pertumbuhan dan perkembangan spiritualitasnya jika cukup reseptif menghayati, menjalani dan melampauinya secara benar , sehat dan tepat … tidak hanyut dalam arus eksistensi namun tidak juga teralienasi.

Be Truth Lover whoever & wherever we are ...
(Jadilah pecinta kebenaran siapapun dan dimanapun kita) 
karena itu adalah keniscayaan nyata yang (memang?) harus kita terima

.

Sadhguru Yasudev quote :
In pursuit of happiness , we have ripped the planet apart, but still we are not any happier. It is time to stop and look, because all human experience happens within you, not outside of  you.  
Dalam mengejar kebahagiaan, kita telah menghancurkan planet ini, tetapi tetap saja kita tidak menjadi lebih bahagia. Ini saatnya untuk berhenti dan melihat, karena semua pengalaman manusia terjadi dalam diri anda, bukan di luar diri anda

 

Imagine | John Lennon
Imagine there's no heaven
Bayangkanlah tak ada surga
It's easy if you try
Mudah jika kau mau berusaha
No hell below us
Tak ada neraka di bawah kita
Above us only sky
Di atas kita hanya ada langit
Imagine all the people
Bayangkanlah semua orang
Living for today...
Hidup hanya hari ini...

Imagine there's no countries
Bayangkanlah tak ada negara
It isnt hard to do
Tidak sulit melakukannya
Nothing to kill or die for
Tak ada alasan untuk membunuh dan terbunuh
No religion too
Juga tak ada agama
Imagine all the people
Bayangkan semua orang
Living life in peace...
Menjalani hidup dalam damai...

Imagine no possesions
Bayangkan tak ada harta benda
I wonder if you can
Aku ragu apakah kau mampu
No need for greed or hunger
Tak perlu rakus atau lapar
A brotherhood of man
Persaudaraan manusia
Imagine all the people
Bayangkan semua orang
Sharing all the world...
Berbagi dunia ini

You may say Im a dreamer
Mungkin kau kan berkata aku seorang pemimpi
But Im not the only one
Namun aku bukanlah satu-satunya
I hope some day you'll join us
Kuharap suatu saat kau kan bergabung dengan kami
And the world will live as one
Dan dunia akan bersatu

 

Sadhguru Yasudev quote :
This year, may all of us have the courage, commitment, and the consciousness to make better humans of ourselves, and in turn, a better world. Much love & blessing 
Tahun ini, semoga kita memiliki keberanian, komitmen dan kesadaran untuk membuat diri kita menjadi manusia yang lebih baik, dan juga dunia yang lebih baik. Penuh cinta & berkah
 

 : 
Dari WA group alumni SMA =
Di bawah langit ini kau tidak sendirian. Tuhan menciptakan perbedaan jauh sebelum engkau dilahirkan. Siapa yang menciptakan perbedaan ? Tuhan itu sendiri. Jika ia mau semua seragam, sudah dibuatnya dari dulu.
kutipan :
Segalanya (aneka keberadaan laten deitas dsb) tampaknya memang berawal dari Sentra KeIlahian Satu yang sama (Impersonal Transenden God?) dan berada dalam mandala DeitasNya kemudian secara ideal laten Deitas seharusnya akan kembali kepadaNya … namun dikarenakan orientasi berpandangan, berpribadi & berprilaku serta realisasi penempuhan, pencapaian & pencerahannya akan mencapai level yang berbeda walau dalam area mandala deitas keIlahian yang sama . Kami mengutarakan ini dengan tanpa maksud sama sekali untuk membela yang satu apalagi harus mencela lainnya namun ini agar kita memang harus tetap swadika untuk bijaksana menerima keniscayaan atas kesedemikian konsekuensi logis & ethis yang secara kosmik berlaku.  Well, harmoni dimensi (juga sinergi valensi) memang perlu dilakukan dalam peran semesta ini demi kebersamaan namun evolusi pribadi tampaknya memang tetap harus dilakukan secara mandiri dalam kesendirian sebagaimana harusnya (aktualisasi impersonal > transaksi personal > defisiensi individual)

CORONA 3
DARI :
PSBB Covid-19 masih diberlakukan, etc  aaa 
Well, sudah hampir 1 tahun Pandemi Global Corona berlangsung (pertengahan maret 2020 awal blog 7 & vlog 3 kami ) . Well, just joke  ...  Gusti mboten sare (Tuhan memang tidak tidur) namun haruskah kami juga menanggung beban karma kolektif  selama ini , bang Ahok ( terpenjara 1 tahun 8 bulan 15 hari )?  No, hanya bercanda walau memang tidak lucu (bahkan mengesalkan ?) .... ada hikmah yang lebih utama yang seharusnya kita fahami dan sadari dibalik musibah ini demi kebaikan berpribadi & perbaikan kebersamaan.  
Well, mungkin memang perlu sketsa paradigma baru jika kami (terpaksa atau sukarela jika tidak dengan sukacita sebagaimana hendaknya niatan harus murni demi peniscayaan kelayakannya atau pelayakan keniscayaannya ... istilah tepatnya?) perlu melanjutkan kembali kejujuran berpribadi & ketulusan berbagi demi kebaikan & perbaikan bersama sebagai bukan hanya sebagai sesama manusia di kehidupan duniawi saat ini namun sebagai zenka pengembara di keabadian mandala advaita keilahian ini. Intinya nanti kita perlu menyadari dan menghayati diri tidak lagi sekedar sebagai figur eksistensial dengan segala atribut peran & tanggung jawab keberadaan zahiriah yang disandang namun juga sebagai zarah universal batiniah & media impersonal yang kesemua itu perlu keselarasan / keterarahan dengan kaidah kesunyataan mandala ini.   
JUST SONG

Transkrip  Song: Duaa (Jo Bheji Thi Duaa- Arijit Singh.) 
Covers : (Sanam Puri - Vocals) (Samar Puri - Guitars) (Venky S - Guitar) (Keshav Dhanraj - Cajon) 
Original Source : Duaa (Acoustic) | Sanam ft. Sanah Moidutty : https://www.youtube.com/watch?v=GGErfAmSK9I 

Kise Poochun, Hai Aisa Kyun 
Pada siapa harus ku tanyakan, mengapa jadi begini
Bezubaan Sa… Yeh Jahaan Hai… 
Seluruh dunia membisu
Khushi Ke Pal, Kahaan Dhoondoon
Kemana harus ku cari momen kebahagiaan
Benishaan Sa… Waqt Bhi Yahaan Hai…
Bahkan sang waktu pun tidak meninggalkan jejak disini
Jaane Kitne, Labon Pe Gile Hain…
Ada begitu banyak keluhan di bibirku
Zindagi Se, Kayi Faasle Hain…
ada jarak yg membentang jauh dari kehidupan
Paseejte Hai Sapne Kyun Aankhon Mein
Mengapa impian-impian meleleh di dalam mataku
Lakeere Jab Chhoote Inn Haathon Se Yun Bewajah…
mengapa garis takdir terhapus dari tanganku tanpa alasan
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)
Saanson Ne Kahaan Rukh Mod Liya
nafasku berbelok menuju arah yg tak menentu
Koi Raah Nazar Mein Na Aaye
ku tak dapat melihat satupun jalan
Dhadkan Ne Kaha Dil Chhod Diya
detak jantung telah meninggalkan jantungnya
Kahaan Chhode In Jismon Ne Saaye
Namun bayangan-bayangan itu tak pernah meninggalkan raga
Yahi Baar Baar Sochta Hoon Tanha Main Yahaan…
Sendiri, aku memikirkan hal ini lagi dan lagi
Mere Saath Saath Chal Raha Hai Yaadon Ka Dhuaan…
kabut kenangan berjalan bersamaku
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)  

Sadhguru Yasudev Quotes :  
May your dreams not come true, may your hopes not be fulfilled , because they are based on what you know. You should explore possibilities that have never been touched and reached before. 
Semoga impianmu tidak menjadi kenyataan , semoga harapanmu tidak terpenuhi, karena mereka didasarkan pada apa yang sudah kamu ketahui. Anda harus mengungkapkan kemungkinan yang belum pernah disentuh dan dicapai sebelumnya..?   

Bukan karena sudah lelah untuk berfikiran positif & selalu optimis untuk tetap berdoa/berharap & berusaha menghadapi + melampaui keadaan dan juga tanpa maksud attraktif & provokatif (baper & caper ?) jika mengawali dengan tayangan yang sedikit agak heboh (malah lebai terkesan pekok ... kebodohan atau pembodohan?)
Ada  video (Bapak Hermanuhadi) yang agak aneh bahkan daripada video (Sadhguru Yasudev) referensi lalu. dan juga video (Bhante Santacitto). Ini jangan dipelintir dan disalah-tafsirkan .... Bukannya tidak prihatin berempati pada kegalauan pandemi ataupun sekedar menghibur diri saja apalagi mengharapkan keparahan situasi kondisi saat ini, namun rasanya memang ada blessing in disguise (anugerah tersamar : hikmah positif  yang tersirat dari hibrah negatif yang tersurat) bagi kita saat ini. Banyak sekali referensi informatif  & inspiratif  kita dapatkan pada saat ini via internet & medsos ....tidaklah selalu buruk (semacam hoaks merekayasa opini publik dengan membenarkan kebanggan pengakuan atau membenarkan kepentingan tertentu) namun banyak juga yang baik (semisal banyaknya tayangan dhamma desana ataupun zoom ilmiah tentang spiritualitas saat ini) . Tampaknya ini cukup berguna juga sebagai rehat bagi rutinitas / vitalitas kehidupan yang terkadang atau bahkan sering sakau dalam ketamakan & kacau dengan kemarahan yang menghanyutkan dan menenggelamkan keberadaan kita selama ini. Kita gunakan ini sebagai forum hikmah ilmiah demi pemberdayaan kita semua tidak sebagai majlis ghibah fitnah bagi keterpedayaan diri & lainnya. Ini mungkin saat yang tepat (tepatnya mungkin lebih tepat .... karena bukankah setiap saat adalah saat yang tepat ?) bukan hanya untuk introspeksi akan keberadaan eksistensialitas namun juga transformasi pemberdayaan spiritualitas selanjutnya (semoga segalanya menjadi baik dan semakin baik adanya).  Jangan memperburuk keadaan eksternal (lebih tepatnya mungkin memperparah keberadaan internal). Terkadang kami meragukan sikap batin kami sendiri dalam men-share dan mempertanyakan apakah ini refleksi sikap kasih peduli atau antipati asava byapada atau mungkin hanya mana kesemuan pembanggaan ego/pembenaran ide belaka (jadi lemes & males, deh) Namun bukankah segala sesuatu tengah melayakkan kebebasannya masing-masing bukan sekedar sesuai awal asal sebelumnya namun terutama menuju potensi evolutif keberadaan diri berikutnya .... benar atau salah, baik atau buruk .... biarkan kaidah kosmik Saddhamma yang meniscayakan kelayakannya ? Well, intinya ini adalah permukaan yang berbeda dari coin kebenaran yang sama dari Be realistics to realize the Real yaitu untuk senantiasa assertif, adaptif dan antisipatif ..... bersiaga, bersedia dan berjaga dari segala kemungkinan yang ada (bukan hanya atas kemungkinan perolehan positif  terbaik yang mungkin diharapkan untuk didapatkan namun juga jika kemungkinan negatif terburuk yang walau tidak diinginkan bisa jadi justru yang memang lebih layak untuk menjadi kenyataan). 
Sekedar tambahan : 

video (Bapak Hermanuhadi)  : Kehendak Tuhan ? Hukum alam ? warning peringatan 4'53'' banyak juga analisis hikmah di balik hibrah, bro.... walaupun terdengar seperti Theodice pembenaran kehendak Tuhan / Hukum Alam namun cukup bahkan sangat positif warning (peringatan/ pengingatan) ini untuk disikapi demi kebaikan & perbaikan kita selanjutnya.
video (Sadhguru Yasudev)  Pasupathi Shiva ? kesetaraan hidup ? bat kelelawar ? 2'56'' Tentang Pashupati Shiva (pecinta/pemberkah) segala bentuk kehidupan sudah pernah dikutip di posting sebelumnya (just for seeker awal). Dalam nada ekspresi bercanda Sadhguru Yasudev (sekuat kelelawar menghadapi corona ?) kami merasakan ada pesan tersirat yang disampaikan (walau tampak guyonan) tentang peningkatan keberdayaan herd immunity ketimbang sekedar upaya pembasmian virus (bentuk primordial awal spesies kehidupan yang juga cerdas dalam bertahan & mempertahankan kehidupan sebagaimana kita manusia, kelelawar, dsb
Batman .... inget film ~ kelelawar abhidhamma ?
Kelelawar ? sejujurnya kami tidak tahu keilmiahan data kekuatan nocturnal ini terhadap virus tsb. Kita sering menggunakan alam kehidupan di bumi kenyataan sebagai media bagi hikmah kebenaran disamping observasi ilmiah tentu saja ... well, lewat kelelawar alam mengajarkan dibalik ketidak-awasan indra penglihatannya makhluk malam  ini memberdayakan kepekaan pendengaran mendeteksi pantulan gelombang suaranya sehingga mampu terbang menjelajah tanpa menabrak lainnya. (Cara ini mengajarkan kita juga, lho ... bahwa dalam keterbatasan & pembatasan yang ada kita juga mampu menghadapi & melampaui masalah yang ada. Misalnya dalam hal spiritualitas dikarenakan sebagian besar dari kita mungkin memang lemah dalam melayakkan penempuhan apalagi penembusan, pencapaian & pencerahan namun kita berusaha memahami dalam level batas pengetahuan tertentu yang memang dibutuhkan dan mampu dilakukan.... antara lain dengan sinkronisasi paradoks via inferensi analogis dari kekasaran permukaan menuju pemurnian kedalaman, dsb). So, jika memang ada data kami atau info yang salah semoga kita tetap waspada untuk kemudian kembali segera sadar terjaga , menjaga & berjaga.  14 hari ? see vibrasi energi nirodha sammapatti 7 hari (@*>2 Asekha ? ) vs metta pashupathi shiva (next avatara homo novus 10?)  ? 
video (Bhante Santacitto) :  So, tetaplah positif walau dalam situasi kondisi negatif sekalipun. Addukkha dalam dukkha ... amoha swadika (terjaga, berjaga, menjaga) > hanya akan bahagia jika mendapat positif  > langsung menderita jika menerima negatif ?

Sesungguhnya Ada perbedaan besar antara mengasihi & mengasihani diri sendiri 
(Universalisasi diri demi transendensi media impersonal bagi eksistensi figure personal) 
just  image
Rabbi Jack Riemer (adapted from Likrat Shabbat)
-Rabbi Jack Riemer (diadaptasi dari Likrat Shabbat)

We cannot merely pray to You, O God, to end war; For we know that You have made the world in a way That man must find his own path to peace Within himself and with his neighbor. 
Kami tidak bisa hanya berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, untuk mengakhiri perang; Karena kami tahu bahwa Engkau telah menciptakan dunia dengan cara tertentu Bahwa seseorang itu harus menemukan jalannya sendiri menuju perdamaian Di dalam dirinya dan dengan tetangga sekitarnya.
We cannot merely pray to You, O God, to end starvation; For you have already given us the resources With which to feed the entire world If we would only use them wisely.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, untuk mengakhiri kelaparan; Karena Engkau telah memberi kami sumber daya Yang dengannya (kami) memberi makan seluruh dunia Jika kami menggunakannya dengan bijak.
We cannot merely pray to You, O God, to root out prejudice, For You have already given us eyes With which to see the good in all men  If we would only use them rightly.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepadaMu, ya Tuhan, untuk membasmi prasangka, Karena Engkau telah memberi kami mata Yang dengannya (kami) melihat kebaikan pada semua manusia Jika kami menggunakannya dengan benar.
We cannot merely pray to You, O God, to end despair, For You have already given us the power To clear away slums and to give hope If we would only use our power justly.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepadaMu, ya Tuhan, untuk mengakhiri keputusasaan, Karena Engkau telah memberi kami kekuatan Untuk membersihkan permukiman kumuh dan memberi harapan Jika kami menggunakan kekuatan kami dengan adil.
We cannot merely pray to You, O God, to end disease, For you have already given us great minds with which to search out cures and healing, If we would only use them constructively.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepadaMu, ya Tuhan, untuk mengakhiri penyakit, Karena Engkau telah memberi kami pikiran-pikiran hebat yang dengannya (kami) mencari obat dan penyembuhan,Jika kami menggunakan mereka secara konstruktif.

Therefore we pray to You instead, O God,  
For strength, determination, and willpower, 
To do instead of just to pray, 
To become instead of merely to wish.
Oleh karena itu kami berdoa kepadaMu sebagai gantinya, ya Tuhan,  
Untuk kekuatan, tekad, dan kemauan, 
Melakukan, bukan hanya berdoa, 
Menjadi bukan sekadar berharap. 

For Your sake and for ours, speedily and soon, 
That our land and world may be safe, And that our lives may be blessed.
Demi kebaikan Enkau dan bagi  kami, dengan cepat dan segera, 
Agar tanah dan dunia kami ini  aman, Dan semoga hidup kami diberkati.
May the words that we pray, and the deeds that we do. 
Be acceptable before You, O Lord, Our Rock and Our Redeemer.”
Semoga kata-kata yang kami doakan, dan amalan yang kami lakukan. 
Diterima di hadapanMu, ya Tuhan, Batu Karang Kami dan Penebus Kami. ”

Do'a yang dewasa ?  Ketika hal buruk terjadi pada orang baik
Link Book Harold Kuschner : Theodice seorang Rabbi atas deritanya 

NB: Lagu Amazing Grace mengisahkan kesungguhan pertobatan seseorang untuk kembali ke Jalan Tuhan setelah ketersesatannya. Walau singkat, Jeff menyanyikannya sangat impresif.   (Untuk menjaga universalitas posting kami ini.... lyric terjemahan lagu gospel himne Kristiani Amazing Grace - John Newton ini dipotong di akhir sedikit, ya ?)

Amazing Grace - John Newton
(Karunia yang Menakjubkan - John Newton) 

VERSE 1 
Amazing Grace, how sweet the sound, 
Karunia menakjubkan, betapa indahnya suara itu terdengar
That saved a wretch like me....
Yang menyelamatkan orang celaka (malang/buruk)  sepertiku
I once was lost but now am found,
Aku dahulu pernah tersesat (hilang arah) tetapi sekarang aku ditemukan kembali
I was blind, but now, I see.
Aku dulu buta tetapi sekarang  aku (dapat) melihat

VERSE 2
T'was Grace that taught my heart to fear.
Ini adalah Karunia yang mengajarkan hatiku untuk takut 
And Grace, my fears relieved.
dan Karunia (yang mana) ketakutanku menjadi terbebaskan
How precious did that Grace appear...
betapa berharganya Karunia itu tampaknya
the hour I first believed.
saat ini (jam ini?) seketika aku langsung (pertama kali) segera mempercayaiNya

CORONA 4
PROLOG 
Pandemi Covid 19 belum mereda masih berlangsung dan upaya dilakukan mulai dari prokes masker & PPKM untuk menjaga herd immunity hingga vaksinasi untuk membawa self immunity. Pengharapan dan doa permohonan pun tidak kurang dilakukan baik mandiri ataupun bersama. Rutinitas, aktivitas & vitalitas kehidupan kebersamaan seakan terhenti, macet dan ewuh (riskan /sungkan) dijalankan.  Bagaikan elmaut yang terus mengintai dan menyerang dari dimensi kegaibannya ke alam empiris duniawi sejumlah besar dari kita toh akhirnya juga tertular penyakit, terpapar di rumah sakit (isolasi mandiri di rumah) bahkan terkapar dalam kematian.   
Dalam kehidupan ini kita tidak memang hanya harus senantiasa dewasa bersikap menghadapi dan melampaui dualitas kondisi dunia (aṭṭhaloka dhamma 8 )  untung – rugi (lābho ca alābho ca), popularitas – ketidakterkenalan (yaso ca ayaso ca), hinaan – pujian (nindā ca pasaṁsā ca), dan suka – duka (sukhañca dukkhañca).namun juga perlu waspada bersiaga untuk mengalami & mengatasi utusan abadi 3 (tidak selalu muda namun juga akan melapuk tua, tidak selalu tetap sehat namun bisa juga sakit & tidak selalu terus hidup namun juga akhirnya toh kita pasti mati ). 


Well, di WAG posting ini marak & umum sekali diposting. Sesungguhnya bukan hanya segalanya datang dari dan kembali kepada keIlahian yang sama namun dalam setiap detik dan detak kehidupan kita senantiasa berhadapan denganNya ... dalam pengetahuanNya..Pertanyaan krusialnya adalah pada level keilahian yang mana kita nanti masih akan berada ? .... bukankah bukan hanya alam dunia & barzah petta (masih lama hingga kiamat?) , alam neraka & surga (nanti juga akan pralaya ?) , bahkan level nibbana & samsara ada dalam wilayahNya  ?

PLUS JUST CONCEPT GRAND DESIGN 
Tampaknya selama ini kami hanya berputar-putar saja …Walau sesungguhnya memang sungkan karena masih rendahnya kenyataan autentik dalam level spiritual dan memang riskan karena tetap perlu keberadaan harmonis dalam label eksistensial , namun tampaknya  pandangan esoteric yang tersembunyi (disembunyikan?) di kedalaman ini memang seharusnya muncul  ke permukaan demi kebijakan pengertian & kebajikan penempuhan untuk mempermudah pencerahan selanjutnya.
REVIEW TOTAL
Konsep :
1. Be Realistics : kefahaman perspektif kesedemikianan yang menyeluruh 
2. To Realize : kesadaran integritas untuk tulus menuju pemurnian kesejatian 
3. of Real : kelayakan pencapaian yang sesuai

No comments:

Post a Comment